Mengapa Bank Lambat Turunkan Suku Bunga Kredit Saat BI Rate Rendah?
Ilustrasi kredit, pembiayaan. Cara cek BI checking 2026. Cara cek SLIK OJK 2026. Arti skor BI checking.(SHUTTERSTOCK/WILLIAM POTTER)
18:56
28 April 2026

Mengapa Bank Lambat Turunkan Suku Bunga Kredit Saat BI Rate Rendah?

Di tengah level suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate) yang bertahan rendah di 4,75 persen sejak September 2025, penurunan suku bunga kredit perbankan berjalan lebih lambat dari ekspektasi.

Kondisi ini memunculkan pertanyaan mengapa biaya pinjaman belum cepat turun, padahal arah kebijakan moneter telah longgar dan transmisi suku bunga mulai berlangsung.

Data menunjukkan transmisi itu memang terjadi, tetapi belum sepenuhnya merata dan masih menghadapi sejumlah hambatan struktural di industri perbankan.

Baca juga: BI Tahan Suku Bunga di 4,75 Persen, Fokus Jaga Rupiah

Ilustrasi suku bunga.FREEPIK/FREEPIK Ilustrasi suku bunga.

Rerata suku bunga kredit rupiah pada Februari 2026 tercatat 8,80 persen, turun 44 basis poin (bps) dibandingkan periode sama tahun sebelumnya yang sebesar 9,22 persen.

Penurunan terutama ditopang oleh kredit investasi yang turun 69 bps.

Dari sisi penghimpunan dana, rerata tertimbang suku bunga dana pihak ketiga (DPK) rupiah juga turun 41 bps secara tahunan menjadi 2,68 persen, terutama didorong penurunan bunga deposito.

Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Dian Ediana Rae mengatakan, penurunan bunga kredit pada dasarnya sangat bergantung pada kondisi suku bunga pendanaan atau cost of fund masing-masing bank.

Baca juga: Harga Emas Dunia Turun, Pasar Cermati Perang AS-Iran dan Arah Suku Bunga The Fed

“Penurunan suku bunga merupakan proses transmisi kebijakan moneter yang berlangsung secara bertahap, dan akan tergantung pada strategi dan struktur biaya masing-masing bank, terutama terkait dengan biaya dana (Cost of Fund/CoF),” ujar Dian dalam penjelasan tertulis, dikutip pada Selasa (28/4/2026).

Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae menyampaikan strategi penurunan bunga kredit di Jakarta, Kamis (26/2/2026).ANTARA/Rizka Khaerunnisa Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae menyampaikan strategi penurunan bunga kredit di Jakarta, Kamis (26/2/2026).

Menurut dia, salah satu faktor yang menahan transmisi bunga acuan ke bunga kredit ialah kompetisi penghimpunan dana yang masih ketat, terutama untuk simpanan besar.

“Transmisi suku bunga kebijakan kepada cost of fund dapat tertahan utamanya karena kompetisi dana simpanan yang masih cukup kompetitif, mengingat nasabah dengan simpanan besar umumnya memiliki daya tawar yang lebih tinggi terhadap bank,” kata Dian.

Kompetisi dana mahal menahan penurunan bunga

Persoalan biaya dana menjadi salah satu penjelasan utama mengapa suku bunga kredit tidak serta-merta turun cepat mengikuti BI Rate.

Baca juga: Bos LPS Bongkar Penyebab Bank Masih Jor-joran Kasih Bunga Tinggi

Dalam struktur pendanaan perbankan, biaya dana yang masih relatif tinggi membuat ruang penurunan bunga kredit menjadi terbatas.

Bank, menurut Dian, masih menghadapi tekanan untuk mempertahankan dana simpanan, terutama dari deposan besar yang memperoleh suku bunga khusus atau special rate.

Gubernur BI Perry Warjiyo menegaskan transmisi pelonggaran moneter sebenarnya masih berjalan. Hal itu tercermin dari tren penurunan suku bunga simpanan maupun kredit sepanjang lebih dari satu tahun terakhir.

“Suku bunga deposito 1 bulan turun sebesar 62 bps dari 4,81 persen pada awal Januari 2025 menjadi 4,19 persen pada Maret 2026. Sementara itu, suku bunga kredit tercatat turun sebesar 44 bps dari 9,20 persen pada awal Januari 2025 menjadi 8,76 persen pada Maret 2026,” ujar Perry dalam Rapat Dewan Gubernur BI April 2026 pekan lalu.

Baca juga: Bos LPS Ungkap Penyebab Bunga Kredit Masih Tinggi

Meski demikian, laju penurunan bunga deposito yang lebih cepat dibanding bunga kredit menunjukkan transmisi belum sepenuhnya optimal.

Bank sentral menilai salah satu sumber hambatan berasal dari praktik pemberian special rate kepada deposan besar. Perry menyebut porsi special rate masih cukup tinggi, mencapai 26,30 persen dari total DPK.

Gubernur BI Perry Warjiyo saat acara Launching AKSI KLIK di Jakarta, Jumat (6/3/2026).Tangkapan layar Zoom. Gubernur BI Perry Warjiyo saat acara Launching AKSI KLIK di Jakarta, Jumat (6/3/2026).

“Ke depan, upaya penurunan suku bunga dana dan kredit perbankan masih perlu terus ditingkatkan agar dapat mendorong pertumbuhan kredit guna mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan,” kata Perry.

Ia menambahkan, salah satu langkah yang terus dikoordinasikan adalah pengurangan pemberian special rate tersebut agar biaya dana bank turun lebih cepat.

Baca juga: Harga Emas dan Perak Melemah di Tengah Ancaman Perang dan Tekanan Suku Bunga

Efek BI Rate memang tidak instan

Lambatnya penurunan bunga kredit juga berkaitan dengan karakter transmisi kebijakan moneter yang memang tidak berlangsung seketika.

Dian mengatakan, penurunan BI Rate lazimnya baru diikuti penyesuaian bunga kredit dengan jeda waktu beberapa periode.

Karena itu, dampak penuh dari pelonggaran moneter sepanjang 2025 dinilai belum seluruhnya tercermin dalam bunga pinjaman saat ini.

“Umumnya, penurunan BI Rate akan diikuti penurunan suku bunga kredit dengan jeda waktu beberapa periode,” ujar Dian.

Baca juga: Yen Melemah, IMF Minta Jepang Lanjutkan Kenaikan Suku Bunga

Dengan BI Rate bertahan di 4,75 persen sejak September 2025, OJK memperkirakan ruang penurunan bunga kredit masih terbuka pada 2026 sebagai respons lanjutan dari penurunan bunga acuan sebelumnya.

Pandangan serupa juga disampaikan BI yang melihat likuiditas perbankan tetap longgar dan mendukung kelanjutan transmisi kebijakan.

Perry mengatakan tren penurunan bunga yang berlangsung saat ini merupakan bagian dari proses pelonggaran moneter yang masih berlanjut.

“Transmisi pelonggaran kebijakan moneter terhadap penurunan suku bunga perbankan masih berlanjut. Berbagai suku bunga perbankan masih dalam tren menurun didukung oleh kondisi likuiditas yang longgar,” ujar dia.

Baca juga: Suku Bunga Kredit UMKM Turun pada Februari 2026, NPL Menguat

Ilustrasi kredit, kredit perbankan. SHUTTERSTOCK/JUICY FOTO Ilustrasi kredit, kredit perbankan.

Namun, dalam praktiknya, respons tiap bank terhadap penurunan bunga acuan bisa berbeda karena dipengaruhi struktur pendanaan, profil risiko, dan strategi bisnis masing-masing.

Dana murah jadi ruang percepatan

Di tengah tekanan biaya dana, OJK menilai salah satu ruang percepatan penurunan bunga kredit ada pada penguatan dana murah atau current account saving account (CASA).

Dian mengatakan bank diharapkan mengoptimalkan strategi pendanaan untuk meningkatkan porsi dana murah sehingga tercipta ruang lebih besar menurunkan bunga pinjaman.

“Bank diharapkan dapat mengoptimalkan strategi pendanaan, khususnya untuk meningkatkan porsi dana murah guna menciptakan ruang penurunan suku bunga kredit,” kata dia.

Baca juga: BI Akui Transmisi Suku Bunga ke Kredit Masih Tersendat

Strategi itu dinilai penting karena komposisi dana murah yang lebih besar dapat menurunkan cost of fund dan mempercepat transmisi kebijakan moneter ke sektor riil.

Dalam konteks ini, perlambatan penurunan bunga kredit bukan semata dipengaruhi arah BI Rate, tetapi juga persoalan efisiensi dan struktur pendanaan industri perbankan.

OJK dorong kompetisi lewat transparansi SBDK

Selain dari sisi struktur pendanaan, regulator juga mencoba mendorong percepatan transmisi bunga melalui sisi tata kelola dan kompetisi antarbank.

Melalui Peraturan OJK (POJK) Nomor 13 Tahun 2024, OJK melakukan standardisasi komponen perhitungan Suku Bunga Dasar Kredit (SBDK) agar dapat diperbandingkan antarbank.

Baca juga: The Fed Tahan Suku Bunga Acuan, Pasar Modal dan Nilai Tukar Rupiah Tertekan?

Bank juga diwajibkan mengumumkan komponen pembentuk SBDK di berbagai sumber yang mudah diakses masyarakat dan pemangku kepentingan.

Dian mengatakan kebijakan ini diarahkan untuk meningkatkan disiplin pasar sekaligus mendorong kompetisi bunga yang lebih sehat.

Ilustrasi suku bunga, suku bunga acuan.SHUTTERSTOCK/JANEWS Ilustrasi suku bunga, suku bunga acuan.

“Kebijakan ini diharapkan dapat meningkatkan disiplin pasar, mendorong kompetisi antar bank serta utamanya mendorong penurunan suku bunga sebagai salah satu bentuk percepatan transmisi suku bunga kredit,” ujar Dian.

Selain standardisasi SBDK, OJK juga terus menghimbau bank menyesuaikan tingkat suku bunga secara bertahap agar sejalan dengan kondisi pasar dan tetap menjaga rasio keuangan yang sehat.

Baca juga: Konflik Timteng Memanas, BI Tutup Peluang Penurunan Suku Bunga Acuan

OJK menekankan penyesuaian tersebut penting agar tidak memicu persaingan bunga yang dinilai kurang sehat.

Dorongan kredit jadi perhatian

Laju penurunan bunga kredit yang lebih cepat dinilai penting karena berkaitan dengan fungsi intermediasi perbankan dan pertumbuhan ekonomi.

BI menilai ruang penurunan bunga yang lebih besar dapat menopang pertumbuhan kredit, terutama ketika likuiditas disebut longgar dan kebijakan moneter sudah akomodatif.

Karena itu, isu lambatnya penurunan bunga kredit kini tidak lagi semata dipandang sebagai soal arah BI Rate, tetapi juga efektivitas transmisi kebijakan, struktur biaya perbankan, kompetisi penghimpunan dana, hingga praktik special rate yang masih tinggi.

Baca juga: The Fed Diperkirakan Tahan Suku Bunga, Risiko Stagflasi Muncul

Meski suku bunga kredit telah turun 44 bps dalam setahun terakhir, otoritas melihat proses itu masih dapat berlanjut.

Di tengah BI Rate yang bertahan rendah, perhatian regulator dan bank sentral kini tertuju pada bagaimana menurunkan biaya dana, memperbesar porsi dana murah, dan memperkuat disiplin pasar agar transmisi kebijakan moneter ke bunga kredit berjalan lebih cepat.

Tag:  #mengapa #bank #lambat #turunkan #suku #bunga #kredit #saat #rate #rendah

KOMENTAR