Pasar Modal Fluktuatif, Ini Alasan BBRI Jadi Rekomendasi Saham saat Krisis
Ilustrasi saham BBRI [Suara.com/AI via ChatGPT]
07:18
29 April 2026

Pasar Modal Fluktuatif, Ini Alasan BBRI Jadi Rekomendasi Saham saat Krisis

Pasar modal Indonesia belakangan menunjukkan pola fluktuasi yang ekstrem imbas ketegangan geopolitik, termasuk perang AS-Iran di Timur Tengah.

Di tengah ketegangan ekonomi ini, perdebatan mengenai pilihan terbaik di sektor perbankan raksasa (Big Four) selalu menjadi topik hangat bagi para investor.

Baru-baru ini, pakar investasi kenamaan Rivan Kurniawan memberikan pandangan tajamnya dalam sebuah wawancara mendalam di kanal YouTube Leon Hartono.

Rivan mengaku bahwa pilihannya tetap jatuh pada PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI), meskipun ia tidak menampik opsi emiten lainnya tetap menarik.

Keputusan Rivan memilih emiten bank dengan fokus segmen mikro ini bukan tanpa alasan. Ia melihat adanya kombinasi langka antara harga yang sedang "diskon", perbaikan kualitas aset, hingga strategi manajemen modal yang sangat menguntungkan pemegang saham ritel.

Satu poin krusial yang disoroti Rivan adalah potensi turnaround atau pembalikan kinerja. Perlu diingat bahwa pada tahun buku 2025, BBRI sempat mencatatkan penurunan laba bersih sekitar 5,5%, dari Rp60,6 triliun menjadi Rp57,1 triliun. Penurunan ini dipicu oleh kebijakan manajemen yang mempertebal biaya provisi (CKPN) sebagai langkah antisipatif.

Namun, memasuki tahun 2026, awan mendung tersebut mulai tersingkap. Data per Februari 2026 menunjukkan laba BBRI melesat 17% secara tahunan (YoY) menjadi Rp7,7 triliun.

"Saya melihat dari empat big banks, hanya BRI dan BNI yang labanya sempat negatif tahun lalu. Sebagai investor yang menyukai saham turnaround, momentum pemulihan laba BRI ini adalah sinyal yang sangat positif," ungkap Rivan dalam wawancara tersebut.

Kualitas Aset yang Semakin Kinclong

Seringkali, investor khawatir terhadap risiko kredit di segmen mikro. Namun, Rivan membedah data dengan lebih optimistis.

Meskipun biaya pencadangan sempat melonjak 24% untuk memitigasi risiko gagal bayar di masa lalu, indikator kualitas aset BBRI saat ini justru menunjukkan tren perbaikan yang solid.

Rivan mencatat bahwa indikator-indikator teknis seperti:

  • Loan at Risk (LAR): Menunjukkan tren menurun.
  • Write-off (Hapus Buku): Mengalami penurunan volume.
  • Special Mention: Kredit dalam perhatian khusus yang mulai berkurang.

Perbaikan kualitas aset ini mengindikasikan bahwa manajemen risiko BBRI berjalan efektif. Dampaknya, beban CKPN di masa depan diprediksi akan menyusut, yang secara otomatis memberikan ruang lebih besar bagi pertumbuhan laba bersih di kuartal-kuartal mendatang.

Keunggulan kompetitif BBRI terletak pada penguasaan segmen mikro dan UMKM yang mencapai 58% dari total penyaluran kredit.

Dengan ekosistem unik yang melibatkan Pegadaian dan PNM, BBRI memiliki akses ke lapisan masyarakat yang tidak terjangkau oleh bank besar lainnya.

Fokus pada segmen "akar rumput" ini memungkinkan BBRI mencatatkan Net Interest Margin (NIM) sebesar 7,8%. Angka ini jauh mengungguli rata-rata bank besar lain yang biasanya hanya bermain di kisaran 4-5%.

Menariknya, potensi pertumbuhan di segmen ini masih sangat luas. Dari total 53 juta UMKM di Indonesia, baru sekitar 15,5 juta yang tersentuh layanan perbankan, memberikan runway pertumbuhan jangka panjang bagi BBRI.

Strategi Dividen: Bukan Sekadar Bagi-bagi Laba

Kebijakan BBRI yang membagikan dividen jumbo dengan payout ratio mencapai 92% seringkali memicu kekhawatiran mengenai pertumbuhan masa depan. Namun, Rivan Kurniawan melihat hal ini sebagai langkah cerdas dalam optimalisasi modal.

Saat ini, rasio kecukupan modal (CAR) BBRI berada di level yang sangat tinggi, yakni 23%. Dengan membagikan dividen besar, manajemen secara sengaja menekan CAR ke level yang lebih efisien di kisaran 20%. Strategi ini bertujuan untuk meningkatkan Return on Equity (ROE).

"Ketika ROE meningkat, pasar akan memberikan valuasi yang lebih premium terhadap saham tersebut. Jadi, dividen besar ini adalah upaya manajemen untuk memaksimalkan nilai bagi pemegang saham tanpa mengganggu kesehatan bank," jelas Rivan.

Valuasi yang Sedang "Diskon"

Bagi investor fundamental, harga adalah segalanya. Rivan menyoroti bahwa saat ini BBRI diperdagangkan dengan Price to Book Value (PBV) di kisaran 1,5 hingga 1,6 kali.

Valuasi ini tergolong sangat murah jika dibandingkan dengan titik tertingginya (all-time high) di mana PBV sempat menyentuh angka 3 kali. Dengan kata lain, harga saham BBRI saat ini sedang terdiskon sekitar 30% hingga 40%.

Kombinasi antara ekosistem bisnis yang sulit ditiru, perbaikan performa keuangan di awal 2026, serta komitmen dividen yang tinggi menjadikan BBRI sebagai instrumen investasi yang sangat menarik untuk navigasi portofolio di tahun ini.


Catatan Redaksi: Analisis ini berdasarkan pandangan pakar investasi dan data kinerja keuangan terkini. Keputusan investasi tetap berada di tangan investor dengan mempertimbangkan profil risiko masing-masing.

Editor: M Nurhadi

Tag:  #pasar #modal #fluktuatif #alasan #bbri #jadi #rekomendasi #saham #saat #krisis

KOMENTAR