Bukan Sekadar Menabung, Ini Cara Pekerja Urban Mengatur Uang Tanpa Kehilangan Kenyamanan
Ilustrasi pekerja.(DOK.Shutterstock/imtmphoto)
15:32
18 Mei 2026

Bukan Sekadar Menabung, Ini Cara Pekerja Urban Mengatur Uang Tanpa Kehilangan Kenyamanan

- Mengelola keuangan kini tidak lagi cukup hanya dengan menyisihkan uang ke tabungan.

Di tengah gaya hidup urban yang serba cepat dan penuh distraksi pengeluaran, banyak pekerja urban mulai mencari cara agar uang tetap terkontrol tanpa harus mengorbankan kenyamanan hidup.

Salah satu cara yang mulai banyak diterapkan adalah melakukan budgeting pengeluaran begitu gaji diterima.

Dengan begitu, pengeluaran harian, tabungan, hingga dana hiburan tidak lagi tercampur dalam satu saldo.

Baca juga: Ekonomi Tak Pasti Bikin Menabung dan Investasi Tak Cukup, Ini Seni Kelola Uang Aman dan Bertumbuh

Tamara (25), seorang pekerja urban di Jakarta, mengaku sudah terbiasa membagi pengeluaran sejak pertama kali bekerja.

Setiap menerima gaji, dia langsung memetakan dana sesuai pengeluaran. "Biasanya setiap gajian, langsung sisihkan uang untuk tabungan, lalu sisanya aku plot-plotin sesuai kebutuhan. Misalnya untuk transportasi per bulan sekian, makan sekian, bayar rusun sekian," ujarnya kepada Kompas.com beberapa waktu lalu.

Kebiasaan itu mulai terbentuk sejak dirinya merantau saat kuliah.

Namun, dia mengaku, kelihaiannya mengelola keuangan baru terasa ketika memasuki tahun kedua bekerja.

Kendati demikian, meski sudah melakukan strategi tersebut, Tamara mengaku kerap mengalami kebocoran pengeluaran.

Salah satu penyebabnya datang dari pengeluaran kecil yang terasa sepele, tetapi rutin dilakukan.

Dari berbagai pengeluaran, kebiasaan membeli kopi menjadi yang paling sering diam-diam menguras anggaran. "Akhir-akhir ini karena lebih sering work from cafe (WFC). Sekalinya WFC bisa keluar Rp 80 ribuan lebih, sudah termasuk transportasi sama makan atau ngopi," ungkapnya.

Pisahkan Dana Pengeluaran Menjadi Kunci

Untuk menjaga pengeluaran tetap sesuai rencana, Tamara kini memisahkan bujet pengeluaran secara terpisah melalui fitur kantong dari rekening tabungan dan e-wallet. Kebutuhan sehari-hari seperti makan, transportasi, dan belanja bulanan dia atur melalui fitur kantong digital di aplikasi Bank Jago.

Sementara pembayaran langganan seperti musik dan aplikasi dilakukan lewat dompet digital terpisah.

Menurutnya, cara ini jauh lebih praktis dibanding metode lama yang pernah dia lakukan. “Sebelum ada fitur kantong digital, biasanya habis gajian aku tarik tunai terus dibagi ke beberapa amplop yang sudah dikasih nama untuk transportasi, makan, dan lain-lain,” ujarnya.

Dengan sistem tersebut, ia merasa lebih mudah mengontrol pengeluaran tanpa harus membatasi diri secara berlebihan.

Lifestyle yang dijalani pun tidak banyak berubah.

Terapkan Konsep Guilt Free Spending

Perencana keuangan Andi Nugroho menilai persoalan utama dalam pengelolaan uang sebenarnya bukan terletak pada besar kecilnya penghasilan, melainkan pemahaman dalam mengatur arus keuangan.

Menurutnya, seseorang dengan pendapatan tinggi pun tetap bisa kesulitan finansial jika hanya fokus memenuhi kebutuhan saat ini tanpa mempersiapkan risiko di masa depan. “Mereka terlena pada kondisi penghasilan yang besar dan hanya fokus menghabiskan uang untuk kebutuhan saat ini saja, tanpa memikirkan berbagai potensi risiko,” kata Andi kepada Kompas.com, Senin (4/5/2026). Karena itu, menurutnya, solusi pengelolaan uang tidak cukup hanya dengan membatasi pengeluaran secara ketat. “Kalau hanya sekadar membatasi tanpa memahami kenapa harus dibatasi, tentu jadi kurang nyaman,” katanya.

Andi menilai konsep guilt-free spending atau menikmati pengeluaran tanpa rasa bersalah bisa diterapkan selama seseorang memiliki perencanaan yang jelas.

Salah satunya dengan membuat budgeting sejak awal dan memastikan setiap pengeluaran memang sudah dialokasikan sebelumnya.

Dia juga menyarankan pekerja urban untuk lebih mengutamakan membeli barang sesuai kebutuhan dibanding keinginan. "Bila membeli barang, utamakan yang value for money-nya paling tinggi dibandingkan dengan gengsinya," kata dia.

Selain itu juga menerapkan jeda minimal 24 jam sebelum membeli barang impulsif, serta tetap menyediakan ruang untuk self-reward sesuai kemampuan finansial.

Terakhir, hindari belanja dengan paylater ataupun kartu kredit.

Ilustrasi menabung. FREEPIK/FREEPIK Ilustrasi menabung.

Baca juga: Pria vs Wanita: Siapa Lebih Pandai Menabung? Simak Data dan Fakta Ini

Pemanfaatan Kantong Digital Jadi Solusi

Fenomena memisahkan uang berdasarkan tujuan juga tecermin dari meningkatnya penggunaan fitur kantong digital di layanan perbankan.

Head of Retail Banking Brand and Marketing Michael Hartawan menjelaskan, fitur kantong membantu nasabah melihat uang bukan sekadar nominal saldo, melainkan bagian dari tujuan finansial yang lebih jelas.

“Dengan kantong, nasabah bisa memberi makna pada setiap rupiah, mana untuk kebutuhan harian, tabungan, hingga tujuan jangka panjang,” ucap Michael kepada Kompas.com, Selasa (5/5/2026).

Berdasarkan data Bank Jago, hingga Maret 2026 terdapat sekitar 43,2 juta kantong yang digunakan oleh 15,2 juta pengguna aplikasi.

Rata-rata setiap pengguna memiliki hampir tiga kantong khusus.

Kantong pengeluaran menjadi fitur yang paling banyak dipakai, terutama untuk kebutuhan sehari-hari seperti makan, jajan, dan pengeluaran rutin lainnya.

Dia menilai masalah utama masyarakat saat ini sebenarnya bukan sekadar menyimpan uang, melainkan mengelolanya dengan disiplin dan terarah.

“Dana kebutuhan harian sering tercampur dengan tabungan, rencana jangka panjang jadi terpakai, dan akhirnya tujuan finansial tidak tercapai,” kata Michael.

Karena itu, fitur kantong dinilai menjadi cara praktis bagi masyarakat urban untuk tetap menikmati gaya hidup, tetapi tetap memiliki kontrol atas kondisi keuangan mereka.

Seiring berkembangnya kebutuhan finansial masyarakat, pengelolaan uang juga kini mulai terhubung dengan investasi.

Melalui integrasi layanan investasi di aplikasi digital, pengguna dapat mengalokasikan dana sekaligus memantau perkembangan aset dalam satu ekosistem.

Bagi banyak pekerja urban, cara seperti ini bukan lagi sekadar soal menabung, melainkan membangun sistem keuangan yang lebih rapi agar kebutuhan hari ini tetap terpenuhi tanpa mengorbankan tujuan masa depan.

Baca juga: Tren Menabung Bergeser ke Bank Digital, Punya Banyak Rekening Tak Lagi Relevan

Tag:  #bukan #sekadar #menabung #cara #pekerja #urban #mengatur #uang #tanpa #kehilangan #kenyamanan

KOMENTAR