Riset: Guncangan Harga Minyak akibat Geopolitik Lebih Berbahaya bagi Ekonomi
— Lonjakan harga minyak akibat konflik geopolitik dinilai memberi tekanan yang lebih besar terhadap ekonomi global dibanding guncangan harga minyak biasa.
Bukan hanya memicu inflasi dan menekan produksi, shock semacam ini juga merembet ke harga gas alam, pupuk, hingga bahan pangan.
Kesimpulan itu muncul dalam riset terbaru Centre for Economic Policy Research (CEPR) melalui VoxEU berjudul Geopolitical Oil Price Shocks: Why These Shocks Hit Harder, yang ditulis Guillermo Verduzco-Bustos dan Francesco Zanetti.
Baca juga: Tensi AS-Iran Memanas, Harga Minyak Kembali Menanjak
Ilustrasi kilang minyak.
Menurut riset tersebut, guncangan harga minyak yang bersumber dari ketegangan geopolitik menyerupai severe oil supply shocks atau gangguan pasokan berat, yang memicu penurunan produksi sekaligus kenaikan harga minyak jauh lebih tajam dibanding guncangan minyak konvensional.
“Guncangan harga minyak (akibat) geopolitik menyerupai guncangan pasokan minyak yang parah,” tulis Verduzco-Bustos dan Zanetti dalam riset tersebut.
Temuan itu menantang pandangan lama bahwa lonjakan harga minyak umumnya hanya berdampak besar bagi negara importir energi, sementara negara eksportir bisa diuntungkan.
Sebaliknya, penelitian tersebut menunjukkan tidak ada pemenang yang benar-benar jelas dari shock jenis ini.
Baca juga: Imbas Harga Minyak Naik, Rupiah Tertekan Pagi Ini, Sentuh Rp 17.221 per Dollar AS
Bahkan negara pengekspor minyak pun menghadapi tekanan dari ketidakpastian yang meningkat, gangguan perdagangan global, dan ketegangan pasar keuangan.
Efek berantai ke komoditas lain
Salah satu temuan utama riset itu adalah luasnya transmisi guncangan minyak akibat konflik geopolitik ke pasar komoditas global.
Ilustrasi kapal tanker LNG.
Dalam simulasi CEPR, kenaikan harga minyak 10 persen yang dipicu shock geopolitik mendorong indeks harga komoditas secara keseluruhan naik sekitar 6,5 persen.
Efek rambat terbesar terlihat pada harga gas alam yang naik sekitar 7 persen. Sementara harga pupuk meningkat sekitar 5,4 persen.
Baca juga: Harga Minyak Dunia Naik Hampir 3 Persen, Kebuntuan AS-Iran dan Gangguan Hormuz Tekan Pasokan
Kenaikan juga terjadi pada komoditas lain seperti pangan, bahan mentah, dan logam mulia, meski dalam skala lebih kecil.
Menurut para peneliti CEPR, pola itu mencerminkan posisi minyak sebagai input produksi sekaligus biaya transportasi yang memengaruhi rantai pasok lintas sektor.
“Kenaikan harga minyak sebesar 10 persen yang dipicu oleh guncangan geopolitik akan menaikkan indeks harga komoditas secara keseluruhan sekitar 6,5 persen,” tulis CEPR dalam laporan risetnya.
Dampak berantai ini menjadi pembeda utama dibanding guncangan harga minyak biasa, karena tekanan tidak berhenti di sektor energi, tetapi menjalar ke biaya produksi industri dan harga barang konsumsi.
Baca juga: Pasokan Ketat Dorong Harga Minyak Naik, Goldman Sachs Revisi Proyeksi
Khusus pada pupuk, kenaikan harga minyak dan gas dapat memukul sektor pertanian secara tidak langsung, mengingat keduanya menjadi bahan baku utama produksi pupuk.
Inflasi naik, produksi turun
Tak hanya menekan pasar komoditas, shock geopolitik juga berdampak nyata pada aktivitas ekonomi.
Riset CEPR menemukan, rata-rata kenaikan harga minyak 10 persen akibat guncangan geopolitik menurunkan produksi industri di negara-negara OECD sekitar 0,5 persen.
Di saat yang sama, indeks harga konsumen meningkat sekitar 0,3 persen.
Baca juga: 9 Komoditas Selain Minyak yang Terguncang Krisis Selat Hormuz dan Dampaknya
Kombinasi perlambatan produksi dan kenaikan harga ini memperlihatkan pola stagflasi, yakni situasi ketika ekonomi melambat tetapi inflasi meningkat.
Ilustrasi inflasi.
“Rata-rata, kenaikan harga minyak sebesar 10 persen mengurangi produksi industri di negara-negara OECD sekitar 0,5 persen dan menaikkan harga konsumen sekitar 0,3 persen,” tulis CEPR dalam riset tersebut.
Menurut lembaga itu, tekanan ini lebih besar dibanding guncangan minyak tradisional karena unsur ketidakpastian geopolitik memperburuk respons pelaku usaha dan pasar.
Perusahaan cenderung menahan investasi, konsumen mengurangi belanja, sementara pasar keuangan melakukan repricing terhadap risiko global.
Baca juga: Harga Minyak Goreng Global Terancam Naik 20 Persen Akibat Perang
Dalam situasi seperti itu, kenaikan harga energi tidak hanya bekerja sebagai shock biaya (cost-push shock), tetapi juga shock kepercayaan (confidence shock).
Mengapa dampaknya lebih berat?
Penelitian ini menyoroti bahwa yang membuat guncangan geopolitik lebih menyakitkan bukan semata besarnya lonjakan harga minyak, melainkan sifat gangguannya.
Berbeda dari shock yang dipicu perubahan permintaan atau dinamika pasar biasa, shock geopolitik kerap datang bersama ancaman gangguan pasokan, disrupsi perdagangan, dan lonjakan ketidakpastian.
Akibatnya, dampaknya menjadi berlapis.
Baca juga: Harga Minyak Dunia Naik 2 Persen, Kebuntuan Negosiasi AS-Iran Picu Kekhawatiran Pasokan
Pertama, harga minyak melonjak karena kekhawatiran pasokan.
Kedua, biaya produksi naik karena energi lebih mahal.
Ketiga, aktivitas ekonomi terpukul oleh ketidakpastian yang menahan investasi dan perdagangan.
Riset itu menilai kombinasi faktor-faktor tersebut membuat efek makroekonomi dari shock geopolitik lebih persisten.
Baca juga: Bos Chevron: Reformasi Minyak Venezuela Positif, Tapi Belum Cukup
“Meskipun negara-negara pengekspor minyak mungkin awalnya mendapat manfaat dari harga yang lebih tinggi, keuntungan ini diimbangi oleh meningkatnya ketidakpastian dan gangguan terhadap perdagangan global dan kondisi keuangan,” kata CEPR.
Ilustrasi harga minyak dunia.
Dengan kata lain, kenaikan pendapatan dari harga minyak yang lebih tinggi belum tentu cukup mengompensasi dampak negatif dari gejolak ekonomi yang lebih luas.
Tidak ada pemenang jelas
Salah satu aspek menarik dari studi ini adalah gugurnya asumsi tentang adanya pemenang dari lonjakan harga minyak.
Secara teori, eksportir minyak bisa menikmati windfall ketika harga energi melonjak.
Baca juga: Krisis Selat Hormuz Berlarut, Permintaan Minyak Global Terancam Turun
Namun riset ini menemukan keuntungan itu kerap tergerus oleh tekanan lain, mulai dari volatilitas perdagangan hingga gejolak finansial global.
CEPR bahkan menyebut tidak ada pemisahan tegas antara pihak yang diuntungkan dan dirugikan.
“Yang perlu diperhatikan, hasil tersebut tidak menunjukkan perbedaan yang jelas antara pemenang dan pecundang,” ungkap CEPR.
Temuan itu relevan di tengah meningkatnya sensitivitas ekonomi global terhadap ketegangan geopolitik, ketika gangguan di satu kawasan dapat cepat menjalar ke harga komoditas, pasar keuangan, dan rantai pasok global.
Baca juga: Skema Impor Minyak Rusia Disiapkan, Pemerintah Hitung Opsi BLU dan BUMN
Implikasi untuk bank sentral
Temuan CEPR ini juga membawa implikasi kebijakan, terutama bagi bank sentral.
Karena shock geopolitik memicu inflasi dari sisi pasokan sekaligus menekan pertumbuhan, respons kebijakan menjadi lebih rumit.
Jika bank sentral terlalu agresif menahan inflasi lewat suku bunga tinggi, pertumbuhan bisa makin tertekan.
Namun jika respons terlalu longgar, tekanan harga berisiko bertahan lebih lama.
Baca juga: Amerika Serikat Sanksi Kilang China karena Beli Minyak Iran
Ilustrasi produksi minyak, harga minyak mentah.
Riset tersebut tidak memberi rekomendasi kebijakan spesifik, tetapi menegaskan bahwa memahami sumber shock minyak menjadi penting karena dampaknya berbeda.
Menurut CEPR, memperlakukan shock geopolitik sama seperti guncangan harga minyak biasa berpotensi membuat respons kebijakan tidak memadai.
Dunia makin rentan terhadap guncangan energi
Dalam konteks yang lebih luas, riset ini menyoroti bagaimana ekonomi global kini lebih rentan terhadap shock energi yang dipicu geopolitik.
Keterhubungan rantai pasok, ketergantungan pada input energi, serta keterikatan pasar keuangan membuat transmisi guncangan menjadi lebih cepat dan luas.
Baca juga: Amankan 150 Juta Barrel dari Rusia, Indonesia Masih Incar Impor Minyak Asal AS
Apa yang bermula dari lonjakan harga minyak bisa menjalar menjadi tekanan biaya industri, inflasi pangan, hingga perlambatan pertumbuhan lintas negara.
Karena itu, riset ini menekankan, guncangan minyak berbasis geopolitik bukan sekadar episode kenaikan harga energi, melainkan gangguan sistemik dengan efek ekonomi yang lebih dalam.
“Guncangan harga minyak geopolitik berdampak lebih berat,” tulis Verduzco-Bustos dan Zanetti, merangkum inti temuannya.
Tag: #riset #guncangan #harga #minyak #akibat #geopolitik #lebih #berbahaya #bagi #ekonomi