Kemenperin: Pelemahan Rupiah Perkuat Daya Saing Ekspor Industri Nasional
Direktur Jenderal Industri Agro Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Putu Juli Ardika di Kantor Kemenperin, Jakarta, Rabu (30/7/2025).(Kompas.com/Dian Erika)
17:48
29 April 2026

Kemenperin: Pelemahan Rupiah Perkuat Daya Saing Ekspor Industri Nasional

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menilai dinamika nilai tukar di tengah gejolak global justru dapat menjadi momentum memperkuat daya saing ekspor industri nasional, terutama bagi sektor yang bertumpu pada bahan baku domestik.

Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Industri Agro Kementerian Perindustrian Putu Juli Ardika mengatakan pelemahan mata uang dapat membuat produk ekspor Indonesia lebih kompetitif di pasar global.

“Kalau mata uang itu makin bergerak, ekspor kita justru bagus. Salah satu kenapa ekspor kita meningkat itu karena produk-produk kita makin bersaing,” kata Putu dalam rilis Indeks Kepercayaan Industri (IKI) April 2026 di Jakarta, Rabu (29/4/2026).

Baca juga: Rupiah Jeblok ke Level Terlemah Sepanjang Masa, Penyebabnya dari Dalam Negeri

Ilustrasi Rupiah. Anggota Komisi XI DPR RI Bertu Merlas mengingatkan pemerintah agar mewaspadai pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang terjadi saat ini.PIXABAY/DARNO BEGE Ilustrasi Rupiah. Anggota Komisi XI DPR RI Bertu Merlas mengingatkan pemerintah agar mewaspadai pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang terjadi saat ini.

Menurut Putu, dampak positif ini terutama dirasakan industri yang bahan bakunya berasal dari dalam negeri, seperti industri kertas serta produk berbasis crude palm oil (CPO) dan turunannya.

Ia menyebut subsektor-sektor tersebut relatif diuntungkan karena tidak terlalu terpapar kenaikan biaya impor bahan baku, sekaligus berpotensi memperoleh tambahan daya saing di pasar ekspor.

Sementara bagi industri yang masih bergantung pada bahan baku impor, Putu mengakui terdapat tantangan.

Namun menurut dia, tekanan terhadap industri belum terasa signifikan karena pasokan bahan baku masih ditopang kontrak jangka panjang melalui mekanisme neraca komoditas.

Baca juga: Rupiah Tembus Rp 17.326, Dipicu Sentimen Danantara dan Konflik Timur Tengah

“Barangnya sudah banyak masuk ke Indonesia, sehingga di sisi industri masih belum terdampak,” ujar Putu.

Ilustrasi ekspor Indonesia, kegiatan ekspor impor.SHUTTERSTOCK/AVIGATOR FORTUNER Ilustrasi ekspor Indonesia, kegiatan ekspor impor.

Meski demikian, pemerintah masih mencermati perkembangan lanjutan, terutama jika volatilitas global berlanjut dan memengaruhi pasokan bahan baku impor.

Lebih jauh ia mendorong industri yang menggunakan bahan baku impor memanfaatkan fasilitas Local Currency Settlement (LCS) dari Bank Indonesia untuk mengurangi tekanan akibat fluktuasi dollar AS.

Skema tersebut memungkinkan transaksi perdagangan bilateral menggunakan mata uang lokal masing-masing negara, tanpa bergantung pada dollar AS.

Baca juga: Rupiah Pagi Masih Lesu, IHSG Tancap Gas

“Untuk industri yang bahan bakunya impor kami mengimbau memanfaatkan fasilitas Bank Indonesia, Local Currency Settlement,” katanya.

Selain mitigasi risiko impor, Kemenperin juga melihat gejolak nilai tukar dapat menjadi peluang memperluas penetrasi ekspor, termasuk bagi industri yang selama ini berorientasi pada pasar domestik.

Menurutnya, momentum ini bisa dimanfaatkan untuk masuk ke rantai pasok global sekaligus memperkuat posisi industri nasional dalam rantai nilai global (global value chains).

“Kalau selama ini industrinya berorientasi pada pasar domestik, inilah momentum masuk ke pasar global,” ujarnya.

Baca juga: Pelemahan Rupiah Meluas, Tak Hanya Terhadap Dolar AS

Ia menilai dinamika kurs dalam kondisi tertentu dapat menjadi bentuk insentif alami bagi industri berorientasi ekspor, meski bukan insentif fiskal langsung dari pemerintah.

Tag:  #kemenperin #pelemahan #rupiah #perkuat #daya #saing #ekspor #industri #nasional

KOMENTAR