Harga Minyak Turun dan Perang Mereda, IHSG Rebound? Ritel Disarankan Akumulasi Bertahap
Ilustrasi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). (Freepik)
06:24
4 Mei 2026

Harga Minyak Turun dan Perang Mereda, IHSG Rebound? Ritel Disarankan Akumulasi Bertahap

- Ketegangan geopolitik di Timur Tengah mulai mereda. Pemerintah Amerika Serikat memberi sinyal potensi penghentian konflik dengan Iran. Perkembangan ini menjadi katalis baru bagi pasar keuangan, termasuk Indonesia.

Harga minyak dunia turun seiring meredanya tensi. Kondisi ini membuka ruang penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada awal pekan, Senin (4/5/2026), setelah sebelumnya tertekan.

Pasokan minyak sempat terganggu sejak perang Iran pada 28 Februari. Selat Hormuz terdampak. Jalur ini penting bagi distribusi minyak dan gas global.

Baca juga: IHSG Anjlok 2,42 Persen Pekan Ini, Kapitalisasi Pasar Turun Jadi Rp 12.738 T

CNBC internasional melaporkan harga minyak turun pada Jumat (1/5/2026). Penurunan terjadi setelah Iran mengirim proposal perdamaian ke mediator di Pakistan. Harapan kesepakatan dengan Amerika Serikat kembali muncul.

Kontrak berjangka minyak mentah AS turun 3 persen ke level 101,94 dollar AS per barrel. Minyak mentah Brent turun hampir 2 persen ke posisi 108,17 dollar AS per barrel. Keduanya masih naik sekitar 78 persen sejak awal 2026.

Pengamat pasar modal sekaligus Founder Republik Investor, Hendra Wardana, melihat kondisi ini sebagai “angin segar” bagi pasar saham domestik. Penurunan harga minyak dinilai menekan kekhawatiran inflasi global. Ekspektasi kebijakan suku bunga menjadi lebih stabil.

“Bagi pasar saham Indonesia, kondisi ini berpotensi menjadi “angin segar” setelah sebelumnya terbebani lonjakan inflasi global dan tekanan suku bunga. Dengan turunnya harga minyak, kekhawatiran inflasi dapat mereda sehingga ekspektasi kebijakan moneter global menjadi lebih stabil,” ujar Hendra kepada Kompas.com, Minggu malam (3/5/2026).

Baca juga: IHSG Anjlok 2 Persen Imbas Sentimen Global dan Rupiah, Saham Ini Masih Menarik Dicermati

Sentimen risk-off mulai mereda. Peluang penguatan indeks terbuka. Volatilitas masih tinggi. Pelaku pasar mencermati konsistensi deeskalasi konflik global.

Penurunan tensi geopolitik dan harga minyak mendorong minat investor asing ke emerging markets, termasuk Indonesia. Aliran dana diperkirakan masuk secara selektif dan bertahap.

“Aliran masuk (inflow) ini diperkirakan masih bersifat selektif dan bertahap, belum agresif, mengingat investor global tetap mempertimbangkan faktor lain seperti arah suku bunga Amerika Serikat, pergerakan dolar, serta stabilitas nilai tukar rupiah,” bebernya.

Investor global tetap memperhatikan arah suku bunga AS, pergerakan dollar AS, serta stabilitas rupiah. Peluang net buy asing mulai terbuka. Dorongan ke reli besar belum kuat.

Kondisi pasar saat ini dinilai sebagai momentum akumulasi bertahap bagi investor ritel. Fokus pada saham unggulan. Valuasi banyak saham sudah terdiskon setelah koreksi year-to-date mendekati 20 persen.

Strategi utama berupa pembelian bertahap. Hindari masuk penuh sekaligus. Jaga likuiditas. Lakukan diversifikasi antara saham defensif dan siklikal.

Hendra melihat support IHSG pada awal pekan berada di kisaran 6.850-6.900. Resistance di rentang 7.050-7.300.

Peluang penguatan menuju 7.100 terbuka jika sentimen global bertahan. Risiko tetap ada. Kenaikan harga minyak atau penguatan dollar AS berpotensi menekan indeks ke bawah 6.900.

“Secara historis, bulan Mei dikenal memiliki kecenderungan volatil dengan bias yang tidak selalu kuat, sejalan dengan fenomena “Sell in May and go away” yang sering menjadi acuan investor global,” ucap Hendra.

Pergerakan IHSG pada Mei dalam beberapa tahun terakhir cenderung sideways hingga melemah terbatas. Kondisi ini terjadi saat katalis domestik minim. Peluang rebound jangka pendek tetap ada. Tren naik solid belum terbentuk.

Rotasi sektor mulai bergeser seiring turunnya harga minyak. Saham energi berpotensi normalisasi. Sektor sensitif inflasi dan suku bunga seperti perbankan, consumer, dan properti mendapat sentimen positif.

Beberapa saham menarik untuk dicermati antara lain PT Perusahaan Perkebunan London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP) dengan target harga Rp 1.810. PT Bumi Resources Tbk (BUMI) dengan target Rp 268. PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA) dengan target Rp 2.730. PT Humpuss Maritim Internasional Tbk (HUMI) dengan target Rp 226.

Disclaimer: Artikel ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Seluruh rekomendasi berasal dari analis sekuritas. Keputusan investasi menjadi tanggung jawab investor. Pastikan melakukan riset mandiri sebelum menentukan pilihan.

Tag:  #harga #minyak #turun #perang #mereda #ihsg #rebound #ritel #disarankan #akumulasi #bertahap

KOMENTAR