Satu Darah Indonesia: Dari Jayapura ke Tribune Kebangsaan
Persija Jakarta melaksanakan kegiatan donor darah jelang laga melawan Persebaya Surabaya(KOMPAS.com/Pratama Yudha)
08:46
11 Mei 2026

Satu Darah Indonesia: Dari Jayapura ke Tribune Kebangsaan

KERUSUHAN di Stadion Lukas Enembe, Jayapura, seusai laga Persipura Jayapura melawan Adhyaksa FC pada 8 Mei 2026 bukan sekadar ledakan emosi akibat kekalahan tim kesayangan.

Mobil dibakar, fasilitas stadion dirusak, dan kemarahan massa meluas setelah Persipura gagal kembali ke Liga 1 yang merupakan kasta tertinggi sepak bola nasional.

Namun, di balik kekacauan itu, tersimpan persoalan yang jauh lebih besar: sepak bola Indonesia sedang memperlihatkan retakan sosial yang selama ini tersembunyi di balik euforia tribune.

Di Papua, Persipura bukan sekadar klub sepak bola. Ia adalah simbol harga diri sosial, identitas kolektif, dan kebanggaan masyarakat.

Karena itu, kekalahan tidak pernah dipahami semata sebagai hasil pertandingan, melainkan luka sosial yang menyentuh rasa memiliki sebuah komunitas.

Baca juga: Mengapa Ramai-ramai Menolak MBG Masuk Kampus?

Gary Armstrong dan Richard Giulianotti dalam Fear and Loathing in World Football (2001) menjelaskan,  sepak bola modern merupakan arena produksi identitas kolektif paling kuat dalam masyarakat kontemporer.

Loyalitas terhadap klub bahkan kerap melampaui institusi sosial lain karena sepak bola bekerja melalui emosi paling mendasar manusia: rasa memiliki.

Namun ironisnya, sepak bola juga memperlihatkan wajah Indonesia yang lain. Ketika Persib, Persija, Persebaya, Arema, PSM, atau Persipura bertanding dalam kompetisi domestik, rivalitas justru kerap menjadi wajah utama kompetisi nasional.

Tribune dipenuhi nyanyian fanatik, media sosial dibanjiri pertikaian emosional, dan identitas kedaerahan seolah menjadi batas yang sulit ditembus.

Akan tetapi, semua sekat itu mendadak runtuh ketika Tim Nasional Indonesia bermain.

Ribuan orang berdiri bersama menyanyikan “Indonesia Raya”, mengibarkan Merah Putih, dan larut dalam satu identitas yang sama: Indonesia.

Di titik itulah sepak bola memperlihatkan kekuatan sosial dan politiknya yang paling besar.

Benedict Anderson dalam Imagined Communities (2006) menyebut bangsa sebagai imagined community—komunitas politik yang dibayangkan bersama.

Bangsa tidak lahir karena seluruh warganya saling mengenal, melainkan karena mereka merasa memiliki nasib dan identitas kolektif yang sama.

Dalam konteks Indonesia, sepak bola menjadi medium paling nyata bagi lahirnya imajinasi kebangsaan tersebut.

Ketika Tim Nasional bermain, jutaan orang dari Aceh hingga Papua mengalami emosi kolektif yang sama sebagai sesama warga bangsa Indonesia.

Stadion sebagai Arena Solidaritas

Andy Fuller (2015) menjelaskan bahwa sepak bola telah mengakar kuat dalam kehidupan sosial masyarakat Indonesia.

Klub sepak bola bukan sekadar institusi olahraga, melainkan simbol identitas kota, solidaritas sosial, dan kebanggaan kolektif.

Di tribune stadion, masyarakat menemukan ruang tempat mereka merasa setara dan menjadi bagian dari komunitas yang lebih besar daripada dirinya sendiri.

Buruh, mahasiswa, pedagang, pejabat, hingga pengangguran berdiri berdampingan meneriakkan dukungan yang sama.

Namun justru karena itulah sepak bola sangat rentan terhadap ledakan konflik. Kukuh Wahyudin Pratama (2021) menjelaskan, konflik sepak bola Indonesia tidak lahir semata dari perilaku suporter.

Baca juga: Presiden Melihat MBG dengan Nurani, Bermanfaat Atau Tidak?

Namun juga, dari sistem kompetisi yang rapuh dan rendahnya kepercayaan publik terhadap federasi, operator liga, serta perangkat pertandingan.

Ketika publik merasa kompetisi tidak adil, stadion berubah menjadi arena pelampiasan frustrasi sosial. Dalam situasi seperti itu, keputusan kecil di lapangan dapat memicu ledakan besar di tribune.

Di tengah situasi tersebut, sepak bola sebenarnya masih menyimpan potensi besar sebagai ruang rekonsiliasi sosial.

Émile Durkheim (1912) menyebut pengalaman emosi bersama sebagai collective effervescence, yakni ledakan emosi kolektif yang memperkuat solidaritas sosial.

Fenomena itu tampak jelas setiap kali Tim Nasional Indonesia bertanding. Kebanggaan nasional yang muncul sering kali sulit dibangun melalui pidato politik ataupun slogan birokrasi.

Dalam konteks Indonesia, sepak bola bahkan memiliki potensi lebih besar untuk membangun solidaritas kebangsaan sekaligus kemanusiaan. Troy Glover (2017) menjelaskan bahwa leisure space memiliki fungsi sosial penting dalam membangun rasa memiliki di tengah masyarakat modern.

Ketika orang berkumpul di stadion, lapangan kampung, taman kota, atau warung kopi, mereka sedang membangun keterikatan emosional dengan komunitasnya.

Karena itu, energi emosional suporter seharusnya tidak berhenti sebagai fanatisme tribune, tetapi diarahkan menjadi solidaritas sosial yang nyata.

Ketika suporter tidak hanya datang untuk mendukung klub, tetapi juga mendonorkan darah, sepak bola berubah menjadi ruang solidaritas kemanusiaan.

Energi emosional tribune didorong menjadi energi berbagi bagi sesama. Identitas suporter pun melebur ke dalam identitas yang lebih mendasar: sesama manusia.

Menjelang kick-off pertandingan Persija melawan Persebaya pada 11 April dan Persija menghadapi Persis pada 27 April, suporter kedua klub menggelar aksi donor darah dengan slogan “Satu Darah: Darah Indonesia” di Stadion Utama Gelora Bung Karno.

Gagasan tersebut menarik karena berupaya mengubah “massa emosional” menjadi “agen kemanusiaan”.

Membangun Solidaritas Kemanusiaan bersama PSSI

Dalam situasi sosial yang makin terfragmentasi, stadion menjadi salah satu sedikit ruang yang masih memungkinkan masyarakat mengalami kebersamaan secara nyata.

Baca juga: Jalan Mulus, Dompet Kempes

Karena itu, sepak bola Indonesia sesungguhnya bukan sekadar olahraga. Ia adalah arena tempat identitas kebangsaan dibangun, dipertentangkan, sekaligus dirayakan.

Pada akhirnya, kualitas sepak bola sebuah bangsa tidak hanya diukur dari jumlah trofi atau peringkat FIFA, tetapi juga dari kemampuan masyarakatnya menjadikan olahraga sebagai ruang kemanusiaan, solidaritas, dan kedewasaan sosial.

Ketika stadion mampu menjadi ruang aman bagi semua orang, ketika suporter dapat merayakan perbedaan tanpa kekerasan, dan ketika rivalitas berubah menjadi aksi donor darah bagi sesama, saat itulah sepak bola menjalankan fungsi tertingginya: mempersatukan manusia dalam satu imajinasi kebangsaan.

Sebab di tengah retakan sosial dan politik yang terus melebar, tribune stadion mungkin menjadi tempat untuk merekatkan kembali Indonesia sebagai satu bangsa.

Jika gerakan itu bisa dimulai dari tribune Persija di Jakarta, PSSI semestinya mampu menjadikannya gerakan nasional.

Tag:  #satu #darah #indonesia #dari #jayapura #tribune #kebangsaan

KOMENTAR