Produksi Jagung Maret 2026 Turun 14 Persen, Bagaimana Prospeknya?
Ilustrasi jagung. (PIXABAY/HARTONO SUBAGIO)
13:56
4 Mei 2026

Produksi Jagung Maret 2026 Turun 14 Persen, Bagaimana Prospeknya?

Produksi jagung nasional pada awal 2026 menunjukkan tren penurunan secara tahunan, seiring dengan menyusutnya luas panen pada periode yang sama.

Di sisi lain, pemerintah mulai memperkuat intervensi kebijakan untuk menjaga harga dan menyerap produksi petani melalui penguatan cadangan jagung nasional.

Produksi jagung Maret 2026 turun

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan, luas panen jagung pipilan pada Maret 2026 tercatat sebesar 0,25 juta hektare.

Baca juga: Kementan Cari Cara Simpan Kelebihan Stok Pangan Nasional, Ada Beras, Jagung, dan Daging Ayam

Ilustrasi jagung. PIXABAY/MUHAMMAD AAMIIR AKHTER Ilustrasi jagung.

Angka ini turun 0,04 juta hektare atau 14,44 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 0,29 juta hektare.

Sejalan dengan itu, produksi jagung pipilan kering dengan kadar air 14 persen pada Maret 2026 diperkirakan mencapai 1,40 juta ton, turun 0,23 juta ton atau 14,23 persen dibandingkan Maret 2025 yang sebesar 1,64 juta ton.

Potensi produksi jagung April–Juni 2026

Meski terjadi penurunan pada Maret 2026, BPS mencatat adanya potensi peningkatan produksi dalam beberapa bulan berikutnya.

Potensi luas panen jagung pipilan pada periode April hingga Juni 2026 diperkirakan mencapai 0,66 juta hektare, dengan potensi produksi sekitar 3,77 juta ton (kadar air 14 persen).

Baca juga: Bulog Komitmen Serap Jagung Blora untuk Pakan dan Bioetanol

Secara kumulatif, total luas panen jagung pipilan pada Januari–Juni 2026 diperkirakan sebesar 1,46 juta hektare, turun 2,51 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 1,50 juta hektare.

Ilustrasi tanaman jagung. UNSPLASH/KATHERINE VOLKOVSKI Ilustrasi tanaman jagung.

Sementara itu, total produksi jagung pipilan kering kadar air 14 persen pada Januari–Juni 2026 diperkirakan mencapai 8,33 juta ton, turun 2,69 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 8,56 juta ton.

Produksi jagung berdasarkan wilayah

Jika dilihat lebih rinci berdasarkan wilayah, data BPS menunjukkan adanya perbedaan kinerja produksi antarprovinsi pada periode Januari–Juni 2026.

Secara nasional, produksi jagung pipilan kering kadar air 14 persen tercatat sebesar 8,33 juta ton, turun 230.481 ton dibandingkan periode yang sama tahun 2025 sebesar 8,56 juta ton.

Baca juga: Kemarau Datang Lebih Dini, BI Waspadai Kenaikan Harga Cabai, Jagung, Beras

Beberapa provinsi utama masih menjadi kontributor terbesar produksi jagung nasional. Jawa Timur mencatat produksi sebesar 1,96 juta ton, diikuti Jawa Tengah sebesar 1,17 juta ton, dan Lampung sebesar 833,55 ribu ton.

Namun, sejumlah sentra produksi utama mengalami penurunan. Jawa Timur tercatat turun sekitar 310.334 ton, sementara Jawa Tengah turun sekitar 173.758 ton dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Di sisi lain, beberapa wilayah justru mencatat peningkatan produksi. Lampung mengalami kenaikan sebesar 185.862 ton menjadi 833,55 ribu ton. Sumatera Utara juga meningkat sebesar 59.842 ton menjadi 714,77 ribu ton.

Kenaikan juga terjadi di Sulawesi Selatan yang mencapai 751,69 ribu ton, naik 40.476 ton dibandingkan tahun sebelumnya. Selain itu, Jawa Barat mencatat produksi sebesar 563,32 ribu ton, meningkat 81.303 ton.

Baca juga: Prabowo Sebut RI Punya Banyak Sumber Energi Alternatif: Kita Bisa Dapat BBM dari Jagung dan Tebu

Sebaliknya, beberapa provinsi lain mengalami penurunan cukup signifikan, seperti Nusa Tenggara Barat yang turun 145.157 ton dan Gorontalo yang turun 15.030 ton.

Data ini menunjukkan, meskipun secara nasional terjadi penurunan produksi, terdapat pergeseran kontribusi antarwilayah yang cukup dinamis.

Ilustrasi jagungSHUTTERSTOCK/TON PHOTOGRAPHER 4289 Ilustrasi jagung

Produksi jagung berdasarkan kadar air

Dalam penghitungan statistik jagung, BPS menggunakan dua standar kadar air, yaitu 28 persen dan 14 persen.

Produksi jagung pipilan kering kadar air 28 persen (JPK-KA28%) pada Maret 2026 tercatat sebesar 1,90 juta ton, turun 14,23 persen dibandingkan Maret 2025.

Baca juga: Polri Mau Tanam 1 Juta Hektar Jagung, untuk Pakan dan Energi

Jika dikonversikan menjadi kadar air 14 persen (JPK-KA14%), produksinya menjadi 1,40 juta ton.

Dinamika luas panen dan produktivitas

Pada Januari–Maret 2026, luas panen jagung pipilan tercatat sebesar 0,80 juta hektare, dengan dominasi panen pipilan sebesar 86,99 persen dari total panen.

BPS menjelaskan bahwa estimasi luas panen diperoleh melalui metode Kerangka Sampel Area (KSA), sementara produktivitas dihitung melalui Survei Ubinan. Produksi jagung merupakan hasil perkalian antara luas panen dan produktivitas.

Intervensi pemerintah: Inpres Jagung 2026

Di tengah dinamika produksi, pemerintah menerbitkan Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 3 Tahun 2026 tentang Pengadaan dan Pengelolaan Jagung Dalam Negeri serta Penyaluran Cadangan Jagung Pemerintah (CJP) periode 2026–2029.

Baca juga: Penanaman Jagung Serentak di Padang Pariaman, Lahan Tidur 30 Tahun Diaktifkan Kembali

Dalam beleid tersebut, pemerintah menargetkan pengadaan jagung dalam negeri sebesar 1 juta ton sepanjang 2026, dengan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) Rp 5.500 per kilogram.

Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) Andi Amran Sulaiman mengatakan kebijakan ini menjadi bagian dari upaya menjaga keberlanjutan swasembada jagung.

"Indonesia sudah swasembada jagung untuk pakan. Impor jagung pakan sudah nol persen. Ini berita baik bagi kita semua. Ini hasil kolaborasi dari kerja sama, sinergi, dan kolaborasi. Tentu sesuai arahan Bapak Presiden, capaian ini akan dilanjutkan seterusnya," kata Amran, dikutip dari laman resmi Bapanas, Senin (4/5/2026).

Ilustrasi jagung. FREEPIK/FABRIKASIMF Ilustrasi jagung.

Surplus dan cadangan jagung

Sepanjang 2025, produksi jagung nasional tercatat sebesar 16,16 juta ton, sementara kebutuhan konsumsi sebesar 15,23 juta ton, sehingga terdapat surplus sekitar 0,93 juta ton.

Baca juga: Kementan Siapkan Benih Jagung Gratis untuk 1 Juta Hektar Lahan

Penguatan cadangan jagung pemerintah juga terus dilakukan.

Hingga awal April 2026, pengadaan jagung dalam negeri telah mencapai 125,2 ribu ton, dengan stok cadangan mencapai 168.000 ton.

Untuk 2026, pemerintah mengalokasikan penyaluran cadangan jagung sebesar 242.000 ton melalui program stabilisasi harga, dengan anggaran Rp 678 miliar.

Target produksi dan swasembada jagung

Pemerintah menargetkan produksi jagung nasional pada 2026 mencapai lebih dari 20 juta ton (JPK-KA28%), seiring dengan upaya mempertahankan swasembada jagung, khususnya untuk kebutuhan pakan ternak.

Baca juga: Kemenko Perekonomian: Impor Jagung dari AS Tak Ganggu Produksi Lokal

Prospek produksi jagung

Potensi produksi April–Juni 2026 sebesar 3,77 juta ton menunjukkan bahwa panen raya masih menjadi penopang utama produksi jagung nasional pada tahun ini.

Namun, angka tersebut masih bersifat potensi dan dapat berubah sesuai dengan realisasi di lapangan.

Tag:  #produksi #jagung #maret #2026 #turun #persen #bagaimana #prospeknya

KOMENTAR