RI Klaim Tak Lagi Impor Solar pada 2026
Pemerintah mengklaim Indonesia tidak lagi melakukan impor solar tertentu pada 2026 seiring percepatan implementasi program biodiesel berbasis sawit atau B50.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan, langkah tersebut dilakukan untuk mengurangi ketergantungan impor energi nasional yang masih tinggi.
“Alhamdulillah di tahun 2026 kita tidak lagi melakukan impor solar terkecuali solar yang mempunyai kualitas tinggi seperti C51,” kata Bahlil dalam acara IPA Convex 2026 di ICE BSD, Rabu (20/5/2026).
Menurut dia, pemerintah saat ini tengah mempercepat implementasi B50 yang direncanakan mulai berjalan pada 1 Juli 2026.
Baca juga: RI Masih Impor 1 Juta Barrel BBM, B50 Dipercepat
Bahlil mengatakan konsumsi BBM Indonesia mencapai sekitar 1,6 juta barrel per hari, sedangkan lifting minyak nasional masih berada di kisaran 600 ribu barrel per hari. Kondisi itu membuat Indonesia masih membutuhkan impor sekitar 1 juta barrel per hari.
Untuk menekan impor tersebut, pemerintah memperbesar penggunaan biodiesel berbasis crude palm oil (CPO).
“Dari 1 juta barrel per day yang kita harus impor terkonversi atau tersubstitusi dengan kita memakai B40 dan sekarang kita akan dorong 1 Juli B50,” ujar dia.
Menurut Bahlil, penggunaan biodiesel mampu mengonversi sekitar 200 ribu hingga 300 ribu barrel per hari sehingga impor BBM dapat ditekan menjadi sekitar 600 ribu hingga 700 ribu barrel per hari.
Baca juga: Bahlil Semprot Birokrasi Migas yang Bikin Investasi Lambat
Pemerintah siapkan E10 dan E20
Selain biodiesel, pemerintah juga menyiapkan campuran etanol untuk bensin melalui program E10 hingga E20.
Bahlil mengatakan kebutuhan bensin nasional saat ini mencapai sekitar 39 juta hingga 40 juta kiloliter per tahun. Sementara produksi domestik baru berada di kisaran 19 juta hingga 20 juta kiloliter.
“Kita masih impor 20 juta kiloliter. Dan ini kita akan sebagian kita akan konversi ke etanol,” kata dia.
Meski mulai mendorong energi campuran berbasis nabati, pemerintah menegaskan sektor migas tetap dibutuhkan untuk menopang kebutuhan energi dan bahan baku industri nasional.