Permintaan Emas Global Menguat, Asia Jadi Motor Investasi
Ilustrasi emas. Harga emas dunia turun ke level terendah hampir 4 pekan, seiring kembali memanasnya konflik di Timur Tengah.(FREEPIK/wirestock)
10:12
5 Mei 2026

Permintaan Emas Global Menguat, Asia Jadi Motor Investasi

Permintaan emas global pada awal 2026 menunjukkan dinamika yang semakin kompleks.

Di satu sisi, minat terhadap emas sebagai instrumen investasi meningkat signifikan, terutama di kawasan Asia.

Di sisi lain, konsumsi emas untuk perhiasan justru mengalami tekanan akibat lonjakan harga yang mencapai rekor tertinggi.

Baca juga: Permintaan Perhiasan Emas Global Turun 23 Persen, tapi Nilainya Naik

Ilustrasi emas. Freepik Ilustrasi emas.

Laporan Gold Demand Trends Q1 2026 yang dirilis World Gold Council (WGC) menggambarkan perubahan struktur permintaan emas global, dengan pergeseran dari konsumsi tradisional menuju instrumen investasi dan cadangan strategis.

Data menunjukkan, meskipun volume permintaan relatif stabil, nilai transaksi melonjak tajam seiring kenaikan harga emas.

Secara keseluruhan, total permintaan emas global pada kuartal I 2026 mencapai 1.231 ton, naik sekitar 2 persen secara tahunan.

Namun dalam nilai, permintaan ini mencetak rekor baru sebesar 193 miliar dollar AS, didorong oleh harga emas yang berada pada level sangat tinggi.

Baca juga: Emas hingga Beras Dorong Inflasi Tahunan hingga April 2026 ke 2,42 Persen

Lonjakan nilai di tengah pertumbuhan moderat

Kenaikan nilai permintaan emas menjadi salah satu sorotan utama dalam laporan tersebut.

World Gold Council mencatat, kombinasi pertumbuhan volume yang moderat dan lonjakan harga emas menjadi faktor utama di balik rekor nilai tersebut.

Harga emas yang tinggi tidak hanya meningkatkan nilai transaksi, tetapi juga mengubah perilaku konsumen.

Ilustrasi emas batangan, harga emas hari ini. DOK. Shutterstock. Ilustrasi emas batangan, harga emas hari ini.

Dalam kondisi harga tinggi, pembelian emas cenderung lebih selektif, terutama pada sektor perhiasan. Namun, pada saat yang sama, investor justru melihat kondisi ini sebagai momentum untuk mengamankan aset.

Baca juga: Harga Emas Dunia Melemah ke 4.599 Dollar AS, Ini Pemicunya

Fenomena ini tercermin dalam pernyataan World Gold Council yang menyebut kombinasi pertumbuhan volume moderat dan kenaikan harga luar biasa mendorong nilai permintaan ke rekor baru.

Dengan demikian, meskipun secara tonase pertumbuhan relatif terbatas, nilai ekonomi dari permintaan emas mengalami ekspansi signifikan.

Permintaan investasi tetap menjadi penopang

Salah satu pilar utama permintaan emas pada kuartal I 2026 berasal dari sektor investasi. Permintaan investasi emas tercatat sebesar 536 ton, meskipun secara tahunan mengalami sedikit penurunan sekitar 5 persen.

Penurunan ini terutama disebabkan oleh melemahnya permintaan dari produk exchange-traded fund (ETF), khususnya di pasar Barat.

Baca juga: Harga Emas Antam Sepekan Turun Tipis, Kini di Level Rp 2,796 Juta Per Gram

Laporan WGC mencatat, arus keluar ETF pada Maret 2026, terutama dari Amerika Serikat (AS), menghapus sebagian besar arus masuk yang terjadi pada Januari dan Februari 2026.

Namun, penurunan ETF tersebut berhasil dikompensasi oleh lonjakan permintaan emas fisik dalam bentuk batangan dan koin.

Permintaan pada segmen ini mencapai 474 ton, meningkat 42 persen secara tahunan dan menjadi salah satu level tertinggi sepanjang sejarah.

Kenaikan ini didorong oleh investor ritel, terutama di Asia, yang meningkatkan pembelian emas sebagai aset lindung nilai terhadap ketidakpastian ekonomi dan geopolitik.

Baca juga: Emas Masih Diburu, Permintaan Global Naik di Tengah Harga Tinggi

Laporan WGC tersebut menekankan, permintaan emas batangan dan koin emas mencapai level tertinggi kedua dalam sejarah, mencerminkan pergeseran preferensi investor dari instrumen keuangan ke aset fisik.

Ilustrasi ETF emas.Dok. ICDX Ilustrasi ETF emas.

Asia menjadi motor utama permintaan emas

Dominasi Asia dalam permintaan emas semakin terlihat pada kuartal I 2026. Investor di kawasan ini memainkan peran penting dalam menopang permintaan global, terutama di tengah pelemahan minat di pasar Barat.

World Gold Council mencatat, permintaan investasi yang kuat di Asia berhasil mengimbangi arus keluar ETF emas di Barat.

Kondisi ini menunjukkan adanya perbedaan perilaku investor antar kawasan.

Baca juga: Harga Emas Dunia Turun Tipis, Ketegangan AS-Iran Bayangi Pasar

Investor di negara berkembang cenderung melihat emas sebagai aset lindung nilai jangka panjang, sementara investor di negara maju lebih sensitif terhadap perubahan suku bunga dan kondisi pasar keuangan.

Selain itu, kenaikan harga emas domestik di beberapa negara Asia juga mendorong minat terhadap emas, baik sebagai instrumen investasi maupun sebagai bentuk perlindungan nilai kekayaan.

Permintaan perhiasan emas tertekan harga tinggi

Berbanding terbalik dengan sektor investasi, permintaan emas untuk perhiasan justru mengalami penurunan tajam dalam hal volume.

Pada kuartal I 2026, permintaan perhiasan emas global tercatat sebesar 300 ton, turun signifikan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Baca juga: Hilirisasi Tembaga-Emas Gresik, RI Bangun Rantai Industri Terintegrasi Hulu-Hilir

Penurunan ini mencerminkan dampak langsung dari harga emas yang tinggi terhadap daya beli konsumen.

Ketika harga emas naik, konsumen cenderung mengurangi jumlah pembelian atau beralih ke produk dengan kadar emas lebih rendah.

Namun menariknya, meskipun volume turun, nilai permintaan perhiasan justru meningkat. World Gold Council mencatat, nilai permintaan mencapai 47 miliar dollar AS, menjadi yang tertinggi untuk kuartal pertama.

Ilustrasi perhiasan emas, emas perhiasan.UNSPLASH/SYED F HASHEMI Ilustrasi perhiasan emas, emas perhiasan.

Hal ini menunjukkan, konsumen tetap memiliki minat terhadap emas, tetapi menyesuaikan pola pembelian mereka dengan kondisi harga.

Baca juga: Harga Emas Dunia Bangkit, Investor Disarankan Cermati Suku Bunga dan Inflasi

WGC dalam laporannya menyebut volume perhiasan turun, tetapi nilai pembelanjaan meningkat tajam, mencerminkan sentimen positif terhadap emas meskipun harga tinggi.

Bank sentral tetap agresif membeli emas

Selain sektor investasi dan perhiasan, permintaan emas juga didorong oleh pembelian dari bank sentral.

Pada kuartal I 2026, bank sentral secara neto membeli 244 ton emas, meningkat sekitar 3 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Pembelian ini menunjukkan bahwa emas tetap menjadi aset strategis dalam cadangan devisa, terutama di tengah ketidakpastian global.

Baca juga: Harga Emas Dunia Naik, Dipicu Pelemahan Dollar AS dan Aksi Beli saat Koreksi

Meskipun terdapat peningkatan aktivitas penjualan dalam periode tersebut, bank sentral secara keseluruhan masih mempertahankan posisi sebagai pembeli bersih emas.

Peran bank sentral ini menjadi salah satu faktor yang menjaga stabilitas permintaan emas global, bahkan ketika sektor lain mengalami fluktuasi.

Dinamika ETF dan perubahan sentimen

Salah satu perkembangan penting dalam laporan ini adalah perubahan dinamika pada ETF emas.

Setelah mencatat arus masuk yang kuat pada tahun sebelumnya, ETF mengalami perlambatan signifikan pada kuartal I 2026.

Baca juga: Harga Emas Dunia Turun ke Level Terendah Hampir 4 Minggu, Pasar Soroti Konflik Iran dan Rapat The Fed

Secara keseluruhan, ETF masih mencatat pembelian sebesar 62 ton, tetapi jauh lebih rendah dibandingkan 230 ton pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Penurunan ini mencerminkan perubahan sentimen investor, terutama di pasar Barat, yang dipengaruhi oleh faktor seperti suku bunga, inflasi, dan kondisi pasar keuangan global.

Ilustrasi emas, emas batangan. Penyebab harga emas naik-turun. Harga emas.FREEPIK/RAWPIXEL.COM Ilustrasi emas, emas batangan. Penyebab harga emas naik-turun. Harga emas.

Arus keluar yang terjadi pada bulan Maret 2026 menjadi indikasi investor institusi mulai mengambil keuntungan atau mengalihkan portofolio ke aset lain.

Faktor geopolitik dan ekonomi global

Permintaan emas pada kuartal I 2026 tidak dapat dilepaskan dari konteks global yang lebih luas.

Baca juga: Morgan Stanley Pangkas Proyeksi Harga Emas Dunia 2026, Kilaunya Memudar?

Ketidakpastian geopolitik, volatilitas pasar, serta dinamika kebijakan moneter menjadi faktor utama yang memengaruhi permintaan emas.

Harga emas yang sempat mencapai rekor tertinggi mencerminkan meningkatnya permintaan terhadap aset safe haven.

Namun, fluktuasi harga juga menunjukkan sensitivitas pasar terhadap perubahan kondisi ekonomi global.

World Gold Council menilai, faktor-faktor tersebut akan tetap menjadi pendorong utama permintaan emas ke depan, dengan minat investor yang diperkirakan tetap kuat meskipun terjadi tekanan pada sektor tertentu.

Baca juga: Harga Emas Dunia Turun, Pasar Cermati Perang AS-Iran dan Arah Suku Bunga The Fed

Keseimbangan antara sektor permintaan

Secara keseluruhan, laporan Gold Demand Trends Q1 2026 menunjukkan adanya keseimbangan baru dalam struktur permintaan emas global.

Ketika satu sektor mengalami tekanan, sektor lain justru menguat dan menjaga stabilitas permintaan secara keseluruhan.

Permintaan investasi yang kuat berhasil mengimbangi penurunan pada sektor perhiasan, sementara pembelian bank sentral memberikan dukungan tambahan.

Di sisi lain, dinamika ETF menunjukkan bahwa permintaan emas tidak hanya dipengaruhi oleh faktor fundamental, tetapi juga oleh sentimen pasar dan perilaku investor.

Baca juga: Emas Diramal Melejit Pekan Depan, Target Harga Dekati Rp 3 Juta per Gram

Dengan demikian, permintaan emas global pada awal 2026 mencerminkan interaksi kompleks antara harga, preferensi konsumen, dan kondisi ekonomi global, yang bersama-sama membentuk arah pasar emas ke depan.

Tag:  #permintaan #emas #global #menguat #asia #jadi #motor #investasi

KOMENTAR