Industri Plastik RI Masih Bergantung Impor Nafta, INAPLAS Minta Solusi
Asosiasi Industri Olefin Aromatik dan Plastik Indonesia (INAPLAS) menyatakan, krisis energi global bisa menjadi momentum untuk mewujudkan kemandirian industri petrokimia nasional melalui strategi diversifikasi bahan baku (feedstock).
Ketua Umum INAPLAS Suhat Miyarso mengatakan, saat ini industri petrokimia masih sangat bergantung pada impor nafta yang mencapai 90 persen.
Nafta sendiri merupakan bahan baku utama untuk pembuatan zat kimia, seperti etilena dan propilena.
Baca juga: Inaplas Sebut Tidak Ada PHK di Industri Petrokimia dan Plastik
Para penjual plastik di Pasar Pucang Anom, Surabaya yang mengeluhkan kenaikan harga melambung.
Kedua senyawa tersebut digunakan untuk membuat berbagai jenis plastik, seperti polietilena (PE) dan polipropilena (PP).
“Nah dengan adanya krisis ini kemungkinan bisa menjadi momentum yang paling bagus karena sebenarnya ini sudah kita dorong cukup lama. Kemudian yang kedua, kalau dari metanol sebenarnya gas alam kita juga cukup banyak. Apakah gas alam ini langsung jadi energi atau jadi petrokimia atau jadi pupuk,” ujarnya dalam diskusi Krisis Energi Global dan Ancaman Dumping: Saatnya Perkuat Industri Kimia Nasional di Jakarta, Selasa (5/5/2026).
Sementara itu, Sekretaris Jenderal Inaplas Fajar Budiono mengatakan, untuk penguatan jangka panjang, pihaknya meminta pemerintah memperluas sumber bahan baku.
Tidak hanya bergantung pada minyak bumi saja tetapi juga metanol hingga biofeedstock.
Baca juga: Bea Masuk Elpiji Dihapus, Pemerintah Jaga Industri Plastik dari Lonjakan Harga
Kemudian di sisi hilirnya diharapkan pemain industri mulai melakukan inovasi-inovasi lain seperti mengurangi berat, ukuran hingga material-material dari daur ulang plastik itu sendiri.
“Jadi mungkin inovasi dengan material-material yang dari recycle plastik kemudian dari penambahan filler atau mungkin inovasi-inovasi yang lain dengan mengurangi berat, ukuran, dan lain-lain sehingga harga yang sekarang ini berubah masih bisa terjangkau sesuai dengan kebutuhan kita tanpa mengurangi fungsi dari plastik itu sendiri,” jelas dia.
Ilustrasi industri petrokimia.
Pihaknya juga mendorong pemerintah untuk menambah tiga kilang minyak baru dengan kapasitas masing-masing 300.000 barrel per hari untuk memastikan ketersediaan nafta di dalam negeri.
“Dengan demikian maka nanti akan ada nafta yang bisa dipakai untuk dua cracker petrokimia yang sudah ada. Pada saat itu kita harapkan bahwa ketahanan industri petrokimia di dalam negeri bisa membaik jauh lebih baik daripada sekarang ini,” pungkasnya.
Baca juga: Besok Airlangga Pimpin Rapat Satgas Bahas Harga Plastik
Untuk diketahui, kenaikan harga bahan baku nafta berdampak langsung terhadap harga plastik di dalam negeri.
Sebab, selama ini 60 hingga 70 persen pasokan bahan baku industri petrokimia nasional, termasuk nafta, dipasok dari kawasan Timur Tengah.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), nilai impor plastik dan barang dari plastik (HS39) pada Januari dan Februari 2026 masing-masing 949,2 juta dollar AS dan 873,2 juta dollar AS.
Impor meningkat 6,79 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu.
Baca juga: Harga Plastik Naik, Menteri UMKM Pilih Amankan Pasokan dan Substitusi Ketimbang Beri Insentif
Kontributor impor terbesar berasal dari China, Thailand, dan Korea Selatan.
Tag: #industri #plastik #masih #bergantung #impor #nafta #inaplas #minta #solusi