Anak Usaha Garuda Cetak Kenaikan Laba, Bisnis Perawatan Pesawat Makin Kuat
Ilustrasi pesawat Garuda Indonesia.(Dok. Garuda Indonesia)
16:52
7 Mei 2026

Anak Usaha Garuda Cetak Kenaikan Laba, Bisnis Perawatan Pesawat Makin Kuat

- Anak usaha Garuda Indonesia Group di sektor maintenance, repair & overhaul (MRO), PT Garuda Maintenance Facility Aero Asia Tbk (GMFI), membukukan laba berjalan sebesar 6,76 juta dollar AS hingga kuartal I 2026.

Direktur Utama GMF Andi Fahrurrozi mengatakan, nilai tersebut meningkat 78,28 persen dibandingkan periode sama tahun lalu sebesar 3,79 juta dollar AS.

Kenaikan laba sejalan dengan pertumbuhan pendapatan perseroan. Hingga akhir Maret 2026, pendapatan GMF mencapai 114,94 juta dollar AS atau naik 20,53 persen dibandingkan kuartal I 2025 sebesar 95,36 juta dollar AS.

“Pertumbuhan laba dan pendapatan pada awal tahun ini mencerminkan momentum penguatan bisnis GMF yang semakin solid. Selain didukung peningkatan aktivitas maintenance,” kata Andi dalam keterangan resmi, Kamis (7/5/2026).

“Capaian ini juga menunjukkan semakin kompetitifnya kapabilitas GMF dalam menjawab kebutuhan industri aviasi domestik maupun internasional,” lanjut Andi.

Baca juga: Garuda Indonesia (GIAA) Finalisasi Inbreng Aset GMF dan Angkasa Pura

Sepanjang kuartal I 2026, GMF mencatat sejumlah pencapaian strategis yang memperkuat posisi perseroan sebagai salah satu pemain MRO regional.

Salah satunya melalui penyelesaian full overhaul perdana secara mandiri untuk mesin CFM56-5B milik Citilink. Proyek tersebut didukung pendanaan Danantara.

Pencapaian itu menjadi bagian dari upaya mendukung peningkatan serviceability armada Garuda Indonesia Group sekaligus memperkuat kapabilitas engineering nasional.

GMF juga memperluas basis pelanggan internasional melalui penambahan pelanggan baru dari Korea Selatan, yakni Airzeta dan T-Way.

“Perseroan juga menyelesaikan sejumlah proyek strategis global, termasuk overhaul pesawat A330 milik Korean Air dan landing gear change untuk Fiji Airways,” jelas Andi.

Selain sektor penerbangan, GMF memperkuat diversifikasi bisnis engineering melalui pengerjaan proyek non-aviasi.

Salah satu proyek tersebut ialah normalisasi PLTG MPP Balai Pungut TM2500 #3 untuk PLN Batam.

“Ini menjadi bagian dari strategi Perseroan dalam memperluas sumber pertumbuhan usaha berbasis engineering services,” lanjut dia.

Baca juga: GMF AeroAsia Gelar Rights Issue, Angkasa Pura Inbreng Rp 5,66 Triliun

Andi menegaskan, komitmen menjaga standar layanan global turut diperkuat lewat sertifikasi baru dari otoritas penerbangan Selandia Baru dan Aruba.

Sertifikasi tersebut memperluas cakupan layanan GMF di pasar internasional.

Di tengah peningkatan profitabilitas, kondisi permodalan perseroan juga menunjukkan penguatan.

Hingga akhir Maret 2026, total ekuitas GMF tercatat mencapai 140,58 juta dollar AS, naik dibandingkan posisi akhir 2025 sebesar 114,57 juta dollar AS.

Penguatan struktur keuangan ditopang akumulasi laba perusahaan serta realisasi aksi korporasi melalui penerbitan saham baru.

Andi optimistis pertumbuhan bisnis GMF akan berlanjut di tengah meningkatnya aktivitas penerbangan global dan kebutuhan layanan perawatan pesawat.

“Kami optimistis momentum pertumbuhan bisnis ini akan terus berlanjut seiring meningkatnya aktivitas penerbangan global dan kebutuhan layanan maintenance yang semakin tinggi,” ujar Andi.

GMF akan fokus memperkuat operational excellence, memperluas penetrasi pasar internasional, serta meningkatkan kapabilitas engineering agar tetap kompetitif dan mampu menopang pertumbuhan usaha yang sehat dan berkelanjutan.

Sebagai informasi, Garuda Indonesia Group juga mencatat pemulihan kinerja pada kuartal I 2026.

Hingga akhir Maret 2026, Garuda Indonesia Group membukukan pendapatan konsolidasi sebesar 762,35 juta dollar AS atau sekitar Rp 12,65 triliun dengan asumsi kurs Rp 16.600 per dollar AS.

Nilai tersebut tumbuh 5,36 persen dibandingkan periode sama tahun sebelumnya.

Pertumbuhan didorong kenaikan jumlah penumpang sebesar 6,76 persen menjadi 5,42 juta penumpang.

Peningkatan trafik penumpang ditopang bertambahnya kapasitas produksi penerbangan, optimalisasi pemanfaatan armada, serta membaiknya kesiapan operasional pesawat melalui percepatan program return to service.

Sejalan dengan perbaikan kinerja tersebut, rugi bersih perusahaan berhasil ditekan 45,19 persen menjadi 41,62 juta dollar AS atau sekitar Rp 690,9 miliar.

Tag:  #anak #usaha #garuda #cetak #kenaikan #laba #bisnis #perawatan #pesawat #makin #kuat

KOMENTAR