Kolokasi dan Ekspansi Fiber Jadi Penopang Kinerja Mitratel (MTEL)
- PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL) atau Mitratel mengandalkan strategi kolokasi untuk mendorong efisiensi dan memperkuat profitabilitas di tengah industri menara telekomunikasi yang semakin matang dan terkonsolidasi.
Berdasarkan data perseroan, tenancy ratio MTEL meningkat menjadi 1,57 kali pada kuartal I-2026.
Kenaikan ini sejalan dengan pertumbuhan kolokasi sebesar 11,3 persen secara tahunan menjadi 23.006 unit.
Baca juga: Mitratel (MTEL) Kelola 40.327 Menara, Raup Pendapatan Rp 2,29 Triliun
Tower Mitratel
Peningkatan tenancy ratio tersebut turut ditopang ekspansi operator seluler ke luar Pulau Jawa. MTEL memiliki lebih dari 59 persen portofolio menara yang berada di luar Jawa, termasuk wilayah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (3T).
Analis Panin Sekuritas Aqil Triyadi menilai kenaikan tenancy ratio menjadi salah satu katalis utama bagi MTEL.
Menurut dia, pertumbuhan yang berasal dari kolokasi memiliki kualitas yang lebih baik karena dapat meningkatkan pendapatan tanpa mengubah struktur biaya secara signifikan.
“Untuk perusahaan menara yang sudah mature, kuncinya bukan lagi semata-mata menambah jumlah tower secara agresif, tetapi bagaimana aset yang sudah ada bisa menghasilkan pendapatan lebih besar. Ketika tenancy ratio naik, incremental revenue dari tenant tambahan biasanya memiliki margin yang lebih tinggi,” ujar Aqil, Jumat (8/5/2026).
Baca juga: Kinerja MTEL 2025 Catatkan Pertumbuhan, Simak Rekomendasi Analis
Aqil menambahkan, tenancy ratio MTEL berpotensi terus meningkat seiring implementasi program Internet Rakyat berbasis Fixed Wireless Access (FWA).
Teknologi ini membutuhkan dukungan menara telekomunikasi untuk memancarkan sinyal internet ke rumah pelanggan.
Menurut dia, dua operator IRA, yakni MyRepublic dan PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI), memiliki target ekspansi layanan yang agresif. Hal tersebut dinilai dapat membuka peluang tambahan kolokasi bagi perusahaan menara seperti MTEL.
Anak usaha Telkom, Mitratel, memiliki portofolio berupa lebih dari 28.000 menara telekomunikasi yang tersebar di seluruh Indonesia.
Aqil menambahkan, target agresif kedua operator internet rakyat akan sulit dicapai jika seluruh kebutuhan infrastruktur dibangun sendiri.
Baca juga: Pendapatan Mitratel (MTEL) Rp 9,53 Triliun pada 2025, Bisnis Fiber Tumbuh 18,1 Persen
"Karena itu, opsi menyewa menara eksisting, termasuk milik MTEL, menjadi pilihan yang lebih efisien. Kolaborasi antara penyedia menara dan ekosistem FWA hanya soal waktu karena mereka butuh akselerasi dengan biaya yang lebih murah,” ujarnya.
Hingga kuartal I-2026, MTEL mengelola 40.327 menara atau tumbuh 1,9 persen secara tahunan.
Dengan skala aset tersebut, kenaikan kolokasi dinilai menjadi lebih strategis dibanding sekadar ekspansi jumlah menara.
Pada kuartal I-2026, MTEL mencatat pendapatan sebesar Rp 2,29 triliun atau naik 1,4 persen secara tahunan. Sementara itu, laba bersih tumbuh 3,6 persen menjadi Rp 545 miliar.
Baca juga: Mitratel (MTEL) Gandeng ZTE Kembangkan Solusi Efisiensi Jaringan Telekomunikasi
EBITDA margin perseroan tercatat tetap kuat di level 82,7 persen yang mencerminkan efisiensi operasional terjaga.
Selain bisnis menara, MTEL juga memperkuat jaringan fiber optic yang tumbuh 17,3 persen menjadi 72.842 km billable length.
Penguatan fiberisasi tersebut dinilai penting untuk mendukung kebutuhan kapasitas jaringan, latensi rendah, serta pengembangan layanan 5G.
Dari sisi kas, MTEL mencatat arus kas neto dari aktivitas operasi sebesar Rp 4 triliun pada kuartal I-2026.
Baca juga: Mitratel (MTEL) dan Anak Usaha Airbus Perpanjang Kerja Sama Kembangkan Stratospace hingga 2027
Posisi kas dan setara kas meningkat menjadi Rp 2,84 triliun, dengan total aset mencapai Rp 60,56 triliun dan ekuitas sebesar Rp 33,66 triliun.
Tag: #kolokasi #ekspansi #fiber #jadi #penopang #kinerja #mitratel #mtel