Bumi Resources (BUMI) Anjlok Lagi ke Rp 210, Net Sell Tembus Rp 164 Miliar
Ilustrasi saham, IHSG. (canva.com)
11:44
11 Mei 2026

Bumi Resources (BUMI) Anjlok Lagi ke Rp 210, Net Sell Tembus Rp 164 Miliar

- Saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) kembali tertekan pada sesi satu perdagangan Senin (11/5/2026).

Saham emiten batu bara milik Grup Bakrie dan Salim itu melanjutkan tren pelemahan setelah sebelumnya juga anjlok pada perdagangan akhir pekan lalu.

Hingga sekitar pukul 10.42 WIB, saham BUMI turun 2,78 persen atau melemah 6 poin ke level Rp 210 per saham.

Tekanan jual yang tinggi membuat saham BUMI menjadi salah satu saham paling aktif diperdagangkan di pasar reguler.

Baca juga: Asing Net Sell Rp 2,4 Triliun, Berikut 4 Saham dan ETF Direkomendasikan Sepekan Ini

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), sebanyak 1,98 persen saham BUMI telah berpindah tangan dengan frekuensi transaksi mencapai 41.628 kali. Sementara itu, nilai transaksi saham BUMI tercatat mencapai Rp 425 miliar.

Pelemahan saham BUMI kali ini didorong derasnya aksi jual pelaku pasar. Berdasarkan data pada aplikasi Stockbit Sekuritas, saham BUMI membukukan net sell sebesar Rp 164,8 miliar, tertinggi di antara saham-saham lain yang mengalami tekanan jual pada perdagangan pagi ini.

Aksi jual tersebut memperpanjang tekanan terhadap saham BUMI setelah sebelumnya juga terkoreksi tajam sebesar 6,09 persen pada perdagangan Jumat (8/5/2026).

Secara agregat, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih bergerak di zona merah hingga menjelang akhir sesi satu perdagangan Senin ini. Indeks melemah 62,947 poin atau 0,90 persen ke level 6.906,449.

IHSG sempat dibuka di posisi 6.959,943, sebelum mengalami tekanan tajam hingga menyentuh angka terendah di 6.846,632. Meski sempat mencoba rebound, pergerakan indeks masih tertahan di bawah area psikologis 6.900-an.

Sementara itu, posisi tertinggi IHSG tercatat di posisi 6.968,926.

Baca juga: IHSG Diperkirakan Menguat Terbatas, Ritel bisa Cermati Saham MAPI, AADI hingga BULL

Pelemahan indeks terjadi di tengah dominasi saham yang bergerak di zona merah. Sebanyak 445 saham melemah, 229 saham menguat dan 137 saham stagnan.

Aktivitas perdagangan juga terpantau cukup ramai. Volume transaksi mencapai 22,428 miliar saham dengan frekuensi perdagangan 1,55 juta kali transaksi.

Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Hari Rachmansyah, mengatakan potensi pergerakan pasar pada pekan 11-13 Mei 2026 diperkirakan masih dipengaruhi berbagai dinamika global dan domestik.

Pekan ini perdagangan hanya berlangsung selama tiga hari karena adanya libur nasional dan cuti bersama Kenaikan Yesus Kristus pada 14-15 Mei 2026.

Dari sisi global, Hari menilai sejumlah perkembangan geopolitik akan menjadi perhatian utama pelaku pasar.

“Baru-baru ini Presiden Rusia Vladimir Putin menyatakan keyakinannya bahwa perang Ukraina akan segera berakhir. Pernyataan ini disampaikan hanya beberapa jam setelah ia berpidato menegaskan tekad kemenangan Rusia dalam perayaan Hari Kemenangan di Moskow yang berlangsung lebih sederhana dibanding tahun-tahun sebelumnya,” ujar Hari lewat keterangan pers, Senin (11/5/2026).

Ia menambahkan, kekhawatiran terkait potensi wabah hantavirus sejauh ini belum terlalu mengganggu pasar. Berdasarkan data dari platform prediksi Kalshi, probabilitas wabah hantavirus menjadi ancaman serius tahun ini hanya sebesar 21 persen.

“Angka ini mengindikasikan bahwa pelaku pasar belum menganggap isu ini sebagai risiko yang perlu diperhitungkan secara signifikan,” kata dia.

Di sisi lain, perhatian pasar global kini tertuju pada potensi pertemuan antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping. Menurut Hari, isu perang Iran diperkirakan akan mendominasi agenda pembahasan kedua pemimpin tersebut.

“Kondisi ini berpotensi mempersempit ruang negosiasi untuk isu-isu krusial lainnya seperti tarif perdagangan dan pasokan rare earth, sehingga ketidakpastian pada dua isu tersebut kemungkinan masih akan bertahan dalam waktu dekat,” jelasnya.

Sementara itu, dari sisi domestik, terdapat sejumlah agenda penting yang diperkirakan memengaruhi arah pasar dalam jangka pendek. Salah satunya adalah rebalancing MSCI Indonesia yang dijadwalkan berlangsung pada 12 Mei 2026.

“Rebalancing MSCI Indonesia yang dijadwalkan pada 12 Mei 2026 kemungkinan tidak menghadirkan pendatang baru, namun tetap berpotensi memicu pergeseran bobot saham yang dapat memengaruhi arah pergerakan pasar secara keseluruhan,” ujar Hari.

Selain itu, Kementerian ESDM telah menggelar public hearing pada 8 Mei 2026 terkait usulan perubahan tarif royalti untuk komoditas tembaga, timah, nikel, emas, dan perak. Kebijakan tersebut ditargetkan mulai berlaku pada Juni 2026.

Hari menilai, dari seluruh komoditas yang terdampak, emas menjadi komoditas dengan kenaikan tarif paling signifikan secara persentase, terutama pada batas bawah yang mencapai 100 persen. Kondisi tersebut dinilai memberikan tekanan langsung di tengah harga emas global yang masih berada di level tinggi.

Sementara itu, timah disebut menjadi komoditas yang paling terpukul secara keseluruhan karena kenaikan tarif terjadi di kedua ujung rentang tarif sekaligus.

“Yang perlu menjadi perhatian lebih lanjut, tekanan terhadap sektor minerba tidak berhenti pada kenaikan royalti semata. Wacana penerapan bea ekspor dan windfall tax yang tengah dikaji Kementerian Keuangan turut menambah lapisan ketidakpastian, khususnya bagi subsektor nikel dan batu bara, sehingga volatilitas sektor minerba secara keseluruhan berpotensi bertahan dalam jangka pendek,” ungkap Hari.

Disclaimer: Artikel ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Seluruh rekomendasi berasal dari analis sekuritas. Keputusan investasi menjadi tanggung jawab investor. Pastikan melakukan riset mandiri sebelum menentukan pilihan.

Tag:  #bumi #resources #bumi #anjlok #lagi #sell #tembus #miliar

KOMENTAR