Jepang Tambah Stok Minyak dari UEA, Antisipasi Blokade Selat Hormuz
Jepang memperkuat strategi ketahanan energinya di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Negara tersebut kini memperluas kerja sama pasokan minyak dan cadangan strategis dengan Uni Emirat Arab (UEA), menyusul ancaman gangguan distribusi energi akibat konflik di sekitar Selat Hormuz.
Dikutip dari Nikkei, Senin (11/5/2026), Jepang dikabarkan sepakat membeli 20 juta barrel minyak dari UEA.
Baca juga: Gangguan di Selat Hormuz Picu Hilangnya 1 Miliar Barel Minyak Global
ilustrasi minyak mentah
Menurut warta Reuters, pemerintah Jepang dan UEA sepakat memulai pembicaraan untuk memperluas pasokan minyak mentah sekaligus meningkatkan stok cadangan minyak bersama yang disimpan di Jepang.
Kesepakatan itu diumumkan setelah pertemuan tingkat menteri kedua negara.
Menteri Ekonomi, Perdagangan, dan Industri Jepang Ryosei Akazawa mengatakan Tokyo memperoleh komitmen dari UEA untuk meningkatkan cadangan minyak mentah bersama yang disimpan perusahaan-perusahaan UEA di Jepang.
“Kami ingin meningkatkan secara signifikan persediaan bersama dengan UEA,” kata Akazawa kepada wartawan di Paris seusai kunjungan ke Timur Tengah.
Baca juga: Papua Punya 11 Blok Migas, Produksi Gas 2.000 MMSCFD, Minyak 14.000 Barrel
Ia menambahkan, UEA juga berjanji untuk mengisi kembali minyak mentah yang telah dikeluarkan sebelumnya serta memperluas volume cadangan di masa mendatang.
Namun, rincian mengenai tambahan volume pasokan maupun besaran stok baru masih akan dibahas dalam negosiasi lanjutan.
Langkah Jepang mempererat kerja sama dengan UEA tidak terlepas dari meningkatnya kekhawatiran terhadap gangguan distribusi minyak dunia akibat konflik di sekitar Selat Hormuz.
Komandan Perancis Thomas Scalabre saat menunjuk posisi kapal-kapal di Selat Hormuz, dalam layar di MICA (Maritime Information and Cooperation Awareness) di Brest, Perancis, 27 April 2026.
Jalur pelayaran strategis tersebut selama ini menjadi rute utama pengiriman minyak dari Timur Tengah ke Asia.
Baca juga: Expor Minyak Kuwait 0 Persen, Pertama Kali Sejak 1988
Reuters melaporkan, sekitar 20 persen perdagangan minyak dan gas dunia melewati Selat Hormuz. Penutupan jalur tersebut akibat konflik telah menekan arus pasokan energi global dan memicu lonjakan harga minyak dunia.
Harga minyak mentah Brent sempat melonjak 5,8 persen menjadi 114,44 dollar AS per barrel atau sekitar Rp 1,99 juta per barrel dengan kurs Rp 17.377 per dollar AS.
Sementara itu, harga acuan minyak mentah AS West Texas Intermediate (WTI) naik 4,4 persen menjadi 106,42 dollar AS per barrel atau sekitar Rp 1,85 juta per barrel.
Jepang menjadi salah satu negara yang paling rentan terhadap gangguan tersebut karena sangat bergantung pada impor energi dari Timur Tengah.
Baca juga: Mengapa Harga Bensin di AS Melonjak Meski Impor Minyak Timur Tengah Kecil?
Reuters mencatat, sekitar 95 persen kebutuhan minyak Jepang berasal dari kawasan tersebut.
Dalam kondisi normal, minyak dari UEA menyumbang sekitar 40 persen total impor minyak mentah Jepang. Karena itu, stabilitas hubungan energi kedua negara menjadi sangat penting bagi keamanan energi Jepang.
Pemerintah Jepang sebelumnya juga telah menyiapkan sejumlah langkah darurat untuk menjaga ketahanan energi nasional.
Mengutip Japan Times, Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi pada April 2026 lalu mengumumkan rencana pelepasan tambahan cadangan minyak nasional setara 20 hari konsumsi mulai Mei 2026.
Baca juga: Harga Minyak Dunia Naik ke 101 Dollar AS per Barrel, Konflik AS-Iran Kembali Memanas
Tokyo juga menyatakan telah memperoleh pasokan alternatif minyak untuk Mei 2026 yang setara sekitar 60 persen volume impor tahun lalu dari sumber-sumber yang tidak melewati Selat Hormuz.
Selain cadangan nasional, Jepang memiliki skema penyimpanan minyak bersama dengan sejumlah negara produsen, termasuk Arab Saudi, UEA, dan Kuwait.
Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi saat menghadiri penghitungan suara pemilihan umum atau pemilu Jepang di Tokyo, Minggu (8/2/2026).
Dalam skema tersebut, perusahaan energi negara produsen menyimpan minyak di fasilitas Jepang dan Tokyo memiliki hak prioritas untuk menggunakan stok tersebut saat terjadi keadaan darurat.
Reuters melaporkan, total stok bersama Jepang dengan negara-negara produsen mencapai sekitar 13 juta barrel.
Baca juga: Harga Minyak Turun Usai AS Pertimbangkan Kawal Kapal di Selat Hormuz
Sementara itu, keseluruhan cadangan minyak Jepang setara 254 hari impor, menjadikannya salah satu yang terbesar di dunia.
Kondisi geopolitik di Timur Tengah juga mulai mengubah pola perdagangan energi Asia. Penutupan Selat Hormuz membuat impor minyak Asia turun tajam ke level terendah dalam 10 tahun pada April 2026.
Reuters mencatat, impor minyak mentah Asia turun menjadi 19,39 juta barrel per hari pada April 2026, jauh lebih rendah dibandingkan sebelum konflik pecah pada akhir Februari.
Di sisi lain, ekspor minyak Amerika Serikat ke Asia meningkat signifikan dan diperkirakan mencapai rekor 2,08 juta barel per hari pada Mei 2026.
Baca juga: Harga Minyak Anjlok 7 Persen usai AS dan Iran Dikabarkan Dekati Kesepakatan Damai
Namun, volume tersebut dinilai belum mampu menggantikan sepenuhnya pasokan dari Timur Tengah.
Gangguan pasokan juga mulai terlihat pada pasar produk minyak olahan di Asia.
Reuters melaporkan, stok produk minyak di Singapura turun ke level terendah dalam lebih dari sembilan bulan akibat berkurangnya ekspor minyak mentah dan bahan bakar dari Timur Tengah.
Total persediaan produk minyak di Singapura tercatat hanya 44,83 juta barrel pada 6 Mei 2026.
Baca juga: Bursa Asia Reli ke Rekor Tertinggi, Harga Minyak Mulai Melandai
Stok minyak diesel dan avtur juga mengalami penurunan, sementara Singapura untuk pertama kalinya dalam hampir tiga bulan menjadi importir bersih gasoil.
Tekanan terhadap rantai pasok energi global juga mendorong negara-negara Asia mencari jalur distribusi baru serta memperluas jaringan kerja sama energi di luar rute tradisional Timur Tengah.
Selat Hormuz saat dilihat dari Satelit Terra milik NASA pada 5 Februari 2025.
Laporan Logistics Viewpoints menyebutkan bahwa risiko di Selat Hormuz kini mulai mengubah peta rantai pasok energi global.
Negara dan perusahaan energi disebut tengah mendesain ulang jaringan distribusi untuk mengurangi ketergantungan terhadap jalur yang rentan konflik geopolitik.
Baca juga: Harga Minyak Merosot, AS Disebut Segera Capai Kesepakatan Damai dengan Iran
Dalam konteks tersebut, kerja sama Jepang dan UEA dipandang sebagai bagian dari strategi jangka panjang untuk memastikan pasokan energi tetap tersedia di tengah ketidakpastian global.
Kesepakatan itu juga muncul setelah keputusan mengejutkan UEA keluar dari Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak dan Sekutunya (OPEC+).
Reuters melaporkan, keluarnya UEA dari kelompok tersebut berpotensi mengubah dinamika pasokan minyak dunia.
Meski demikian, HSBC menilai dampak jangka pendek terhadap pasokan global masih terbatas karena ekspor minyak dari kawasan Teluk tetap terganggu akibat situasi di Selat Hormuz.
Baca juga: Skenario Terburuk Rupiah Rp 18.300, Ekonom Soroti Peran Minyak dan Arus Modal
Bagi Jepang, ancaman utama saat ini bukan hanya kenaikan harga minyak, tetapi juga risiko terganggunya arus distribusi energi ke kawasan Asia.
Perdana Menteri Takaichi sebelumnya menyebut tekanan pasokan minyak global telah memberikan dampak luar biasa terhadap kawasan Asia-Pasifik.
Di tengah kondisi tersebut, Jepang memilih memperkuat cadangan strategis sekaligus mempererat hubungan dengan negara produsen utama seperti UEA.
Langkah ini dilakukan untuk memastikan pasokan energi tetap aman ketika ketegangan geopolitik global terus meningkat.
Tag: #jepang #tambah #stok #minyak #dari #antisipasi #blokade #selat #hormuz