Tak Hanya Kualitas Produk, Brand Perlu Strategi Adaptif untuk Bersaing Global
Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kementerian Perdagangan, Fajarini Puntodewi (kiri), dan Senior Director of Tokopedia and TikTok Shop Indonesia, Vonny Ernita Susamto (kanan)(KOMPAS.COM /KIKI SAFITRI)
15:12
11 Mei 2026

Tak Hanya Kualitas Produk, Brand Perlu Strategi Adaptif untuk Bersaing Global

- Persaingan di pasar regional dan global dinilai tidak lagi hanya ditentukan oleh kualitas produk. Brand lokal Indonesia juga dituntut mampu beradaptasi dengan karakter konsumen baru, strategi pemasaran digital, hingga kesiapan operasional lintas negara agar mampu bersaing di tengah pesatnya pertumbuhan ekonomi digital kawasan Asia Tenggara.

Senior Director of Tokopedia and TikTok Shop Indonesia, Vonny Ernita Susamto mengatakan, saat ini brand lokal Indonesia tengah memasuki fase pertumbuhan baru, khususnya pada kategori kecantikan, fesyen, outdoor, dan kesehatan.

“Dua dari 10 brand kecantikan terbesar di Asia Tenggara berasal dari Indonesia pada tahun 2025. Ini mencerminkan kuatnya posisi brand lokal serta keselarasan dengan preferensi kecantikan di kawasan,” ujar Vonny di Jakarta, Senin (11/5/2026).

Baca juga: Transaksi Produk Elektronik Melonjak 200 Persen di Tokopedia dan TikTok Shop

Menurut dia, ekspansi regional menjadi langkah penting untuk memperluas pasar, mendiversifikasi sumber pendapatan, sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap pasar domestik. Namun, proses masuk ke pasar baru disebut tidak bisa dilakukan tanpa strategi yang matang.

“Brand tidak hanya perlu memahami konsumen baru, tetapi juga harus mampu menyesuaikan strategi konten, pendekatan pemasaran, hingga operasional lintas negara,” kata dia.

Vonny menilai banyak brand lokal sebenarnya telah siap dari sisi kualitas produk dan kapasitas produksi, tetapi masih menghadapi tantangan pada tahap implementasi dan eksekusi bisnis di pasar regional.

“Di sinilah kami melihat bahwa banyak brand sebenarnya sudah siap secara produk, tetapi masih membutuhkan dukungan dalam tahap eksekusi,” ujarnya.

Untuk menjawab kebutuhan tersebut, TikTok Shop by Tokopedia menghadirkan inisiatif “Lokal Mendunia” yang dirancang membantu brand lokal berekspansi ke pasar Asia Tenggara secara lebih terarah.

Melalui program tersebut, pelaku usaha mendapat dukungan berupa wawasan pasar, pemahaman perilaku konsumen, penguatan strategi konten dan live commerce, hingga kesiapan operasional lintas negara.

TikTok Shop juga menggandeng kreator dan partner lokal di masing-masing negara untuk mempercepat proses adaptasi brand Indonesia di pasar tujuan.

“Sejak diluncurkan pada Desember 2025, saat ini sudah ada 50 brand lokal Indonesia yang bergabung dalam Lokal Mendunia dan 35 di antaranya telah siap untuk ekspansi ke pasar Asia Tenggara,” kata Vonny.

Ia menambahkan, sejumlah brand yang telah mengikuti program tersebut menunjukkan hasil positif, baik dari sisi respons pasar, engagement, maupun pertumbuhan transaksi dalam waktu relatif singkat.

Vonny juga menilai ekspansi brand lokal ke pasar internasional dapat memperkuat daya saing produk Indonesia sekaligus mendorong pertumbuhan ekspor nonmigas nasional.

“Kami ingin melihat Indonesia tidak hanya dikenal sebagai basis produksi, tetapi juga sebagai sumber brand konsumen yang kompetitif di pasar regional,” tutur dia.

Sementara itu, Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kementerian Perdagangan, Fajarini Puntodewi mengatakan pemerintah menargetkan pertumbuhan ekspor nasional sebesar 7,1 persen pada 2026 sebagai bagian dari upaya menuju visi Indonesia Emas.

“Tahun lalu kontribusi ekspor terhadap GDP sudah mencapai 22 persen, di atas target RPJMN sebesar 21 persen. Idealnya kontribusi ekspor terhadap ekonomi nasional bisa mencapai 25 hingga 30 persen untuk menciptakan pertumbuhan ekonomi yang seimbang,” ujar Fajarini.

Menurut dia, penguatan ekspor perlu dilakukan melalui pengembangan ekonomi digital dan perluasan akses pasar internasional. Pemerintah pun terus memperluas kerja sama perdagangan melalui Free Trade Agreement (FTA) dan Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA) dengan sejumlah negara.

“Dengan adanya CEPA, produk yang dijual melalui e-commerce ke negara mitra bisa mendapatkan fasilitas tarif nol persen sehingga lebih kompetitif dibanding negara yang belum memiliki perjanjian serupa,” kata dia.

Fajarini menilai kondisi global yang penuh tantangan, mulai dari konflik geopolitik hingga gangguan logistik internasional, justru membuka peluang baru bagi pelaku usaha yang mampu bergerak cepat dan adaptif.

“Semua negara menghadapi tantangan yang sama. Peluang itu tetap ada, jadi siapa yang berani mengambil risiko tinggi dia juga akan menerima keuntungan yang lebih tinggi juga,” tegasnya.

Tag:  #hanya #kualitas #produk #brand #perlu #strategi #adaptif #untuk #bersaing #global

KOMENTAR