Jelang Pengumuman MSCI, Saham 'Gorengan' dan 'Konglomerat' Bisa Bikin IHSG Turun Kelas!
Ilustrasi saham-saham masuk list MSCI [Suara.com/Hadi]
08:43
12 Mei 2026

Jelang Pengumuman MSCI, Saham 'Gorengan' dan 'Konglomerat' Bisa Bikin IHSG Turun Kelas!

Pengumuman rebalancing indeks MSCI (Morgan Stanley Capital International) Indonesia yang dikabarkan akan disampaikan hari ini jadi sorotan investor dan pelaku pasar.

Terkini, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengambil posisi tegas dengan memprioritaskan kualitas dan integritas pasar di atas fluktuasi indeks jangka pendek.

Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi, dan Pelindungan Konsumen OJK, Friderica Widyasari Dewi, memberikan pandangan yang cukup menenangkan namun realistis.

Menurutnya, potensi pergeseran atau penyesuaian saham dalam indeks global tersebut merupakan konsekuensi logis dari langkah besar Indonesia dalam memperbaiki "jeroan" pasar modalnya.

Dalam sebuah pertemuan di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Senin (11/5/2026), Friderica memberikan perumpamaan yang menarik.

Reformasi yang sedang dilakukan OJK seperti proses penyembuhan tubuh manusia. Ketika seseorang ingin menjadi lebih sehat dan bugar, terkadang ia harus melewati masa-masa pemulihan yang tidak nyaman.

"Saya sudah beberapa kali bilang bahwa dengan reformasi integritas yang kita lakukan, pasti ada dampaknya," tutur Friderica.

Ia menegaskan bahwa guncangan atau fluktuasi harga saham saat ini adalah harga yang pantas dibayar demi menciptakan pasar yang lebih transparan dan kredibel bagi pemodal internasional dalam jangka panjang.

Prinsipnya sederhana: lebih baik merasakan "sakit" dalam waktu singkat (short term pain) asalkan mendapatkan keuntungan yang berkelanjutan di masa depan (long term gain).

Salah satu kekhawatiran terbesar pelaku pasar adalah potensi turunnya kelas pasar modal Indonesia dari kategori Emerging Market (pasar negara berkembang).

Namun, OJK dengan penuh optimisme menepis keraguan tersebut. Berdasarkan evaluasi besar yang dijadwalkan pada Juni mendatang, Friderica yakin Indonesia memiliki modal kuat untuk bertahan.

Keyakinan ini bukan tanpa alasan. Indonesia dinilai memiliki salah satu standar keterbukaan informasi dan granularitas data terbaik di kawasan.

Transparansi inilah yang diharapkan menjadi nilai tawar positif di mata lembaga pemeringkat internasional seperti MSCI. Dengan integritas yang terjaga, status Emerging Market seharusnya tetap aman di tangan Indonesia.

Mengenai tinjauan MSCI kali ini, Friderica membocorkan bahwa kemungkinan besar tidak akan ada emiten baru yang masuk. Sebaliknya, ada potensi beberapa saham lama akan dikeluarkan karena sistem yang sedang di-"freeze" atau dibekukan untuk penyesuaian tertentu.

Mengenal Fenomena Saham HSC dan Langkah Tegas BEI

Isu lain yang tak kalah penting adalah soal bobot saham Indonesia dalam indeks global. Jika banyak saham yang dikeluarkan, porsi investasi asing di pasar saham kita berisiko menyusut.

Penjabat sementara (Pjs) Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik, menyoroti satu kriteria khusus yang menjadi sorotan MSCI, yaitu High Shareholding Concentration (HSC) atau saham dengan kepemilikan yang sangat terkonsentrasi.

Saham-saham dalam kategori HSC ini dianggap memiliki risiko likuiditas dan transparansi karena hanya dikuasai oleh segelintir pihak. Sebagai langkah antisipasi dan perbaikan kualitas bursa, BEI telah mendepak saham-saham kategori ini dari indeks-indeks utama seperti LQ45, IDX80, dan IDX30.

Hingga saat ini, tercatat ada 10 emiten yang masuk dalam pantauan radar HSC sejak diumumkan awal April lalu. Penghapusan ini adalah sinyal bahwa regulator ingin memastikan indeks acuan benar-benar diisi oleh perusahaan dengan tata kelola yang sehat.

Free Float Jadi Senjata Utama

Staf Ahli Menko Perekonomian Bidang Produktivitas dan Daya Saing Ekonomi, Evita Manthovani, menyatakan bahwa fundamental ekonomi kita sebenarnya masih sangat tangguh dengan valuasi yang kompetitif.

Untuk meningkatkan daya tarik bagi investor mancanegara, pemerintah bersama SRO (Self-Regulatory Organization) mempercepat agenda reformasi strategis.

Salah satu terobosan utamanya adalah menaikkan standar porsi saham publik (free float) secara signifikan. Jika sebelumnya batas minimal berada di angka 7,5 persen, kini targetnya dinaikkan menjadi 15 persen.

Tak hanya itu, porsi saham dalam indeks RTI 45 untuk sektor dana pensiun dan asuransi juga digenjot naik dari 8 persen menjadi 20 persen.

Editor: M Nurhadi

Tag:  #jelang #pengumuman #msci #saham #gorengan #konglomerat #bisa #bikin #ihsg #turun #kelas

KOMENTAR