Survei: Gen Z dan Milenial Ingin Tempat Kerja Fleksibel dan Bermakna
Ilustrasi pekerja Gen Z, pekerja muda.(MAGNIFIC/PRESSFOTO)
08:20
19 Mei 2026

Survei: Gen Z dan Milenial Ingin Tempat Kerja Fleksibel dan Bermakna

- Gen Z dan milenial semakin mengubah cara pandang dunia kerja.

Bagi dua generasi ini, lingkungan kerja ideal bukan lagi sekadar soal gaji tinggi atau jabatan prestisius, melainkan tempat kerja yang memberi fleksibilitas, mendukung kesehatan mental, memiliki tujuan yang jelas, dan memungkinkan keseimbangan hidup.

Temuan itu tergambar dalam Deloitte Global 2026 Gen Z and Millennial Survey yang melibatkan lebih dari 22.500 responden dari 44 negara.

Baca juga: Survei Deloitte: Hampir 30 Persen Gen Z Punya Pekerjaan Sampingan

Ilustrasi pekerja Gen Z, pekerja muda.MAGNIFIC/TEKSOMOLIKA Ilustrasi pekerja Gen Z, pekerja muda.

Survei tersebut menunjukkan generasi muda kini memandang karier dengan pendekatan yang lebih realistis dan berkelanjutan.

Deloitte mencatat, Gen Z dan milenial tumbuh di tengah berbagai ketidakpastian, mulai dari tekanan ekonomi, mahalnya biaya hidup, perubahan teknologi yang cepat, hingga meningkatnya risiko burnout di dunia kerja. Situasi itu membentuk ekspektasi baru terhadap tempat kerja ideal.

Chief People & Purpose Officer Deloitte Global Elizabeth Faber mengatakan, Gen Z dan milenial kini memilih jalur karier yang dianggap lebih berkelanjutan dibanding sekadar mengejar ambisi tanpa batas.

“Mereka memilih apa yang berkelanjutan, bukan sekadar performatif, dan menyelaraskan pilihan hidup dengan kondisi realistis dibanding timeline tradisional,” ungkap Faber dalam laporan tersebut.

Baca juga: Survei Deloitte: AI Jadi “Teman Kerja” Baru Milenial dan Gen Z

Work-life balance jadi prioritas

Salah satu perubahan paling mencolok terlihat dari cara Gen Z dan milenial memandang kesuksesan karier. Kenaikan jabatan cepat tidak lagi menjadi tujuan utama.

Dalam survei Deloitte, hanya 6 persen Gen Z dan milenial yang menyebut posisi kepemimpinan sebagai tujuan karier utama mereka. Sebaliknya, mayoritas lebih memilih perkembangan karier yang stabil dan seimbang.

Ilustrasi pekerja Gen Z, pekerja muda. PEXELS/FAUXELS Ilustrasi pekerja Gen Z, pekerja muda.

Sebanyak 44 persen Gen Z dan 45 persen milenial mengatakan mereka lebih menyukai kemajuan karier yang stabil.

Sementara itu, hanya 25 persen Gen Z dan 21 persen milenial yang memilih pertumbuhan cepat lewat promosi dan kenaikan jabatan.

Baca juga: Deloitte: Gen Z dan Milenial Menunda Masa Depan karena Tekanan Keuangan

Bahkan sekitar 20 persen responden mengaku bersedia berpindah secara lateral atau menerima posisi lebih junior demi memperoleh pengalaman yang dianggap penting untuk kesuksesan jangka panjang.

Integrated Marketing and Communications Executive sekaligus Adjunct Professor untuk Texas Christian University dan University of Dallas Megan Korns Russell menilai generasi muda kini tidak ingin hidupnya hanya berpusat pada pekerjaan.

“Generasi milenial dan Gen Z sangat menginginkan kesempatan untuk memiliki kehidupan yang utuh, yang bukan hanya tentang meniti karier di perusahaan. Mereka menghargai kesejahteraan,” kata Russell.

Pandangan serupa juga muncul dari responden survei. Seorang responden Gen Z bernama Nita mengatakan dirinya ingin pekerjaan yang bermakna tanpa harus mengorbankan kehidupan pribadi.

Baca juga: Survei: Karier Tak Lagi Soal Jabatan, Gen Z dan Milenial Kini Cari Hidup Seimbang

“Saya ingin mengubah dunia menjadi lebih baik melalui pekerjaan, tetapi juga bisa pulang dan menjalani hidup saya, bersantai, dan memiliki pemisahan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi,” tutur dia.

Burnout bikin generasi muda enggan jadi pemimpin

Survei Deloitte juga menunjukkan bahwa banyak Gen Z dan milenial memandang posisi kepemimpinan identik dengan tekanan kerja berlebihan.

Ilustrasi Gen Z di tempat kerjaDok. Freepik/jcomp Ilustrasi Gen Z di tempat kerja

Sebanyak 50 persen Gen Z dan 49 persen milenial menyebut stres dan burnout sebagai alasan utama mereka tidak memprioritaskan posisi kepemimpinan.

Selain itu, 50 persen Gen Z dan 48 persen milenial menilai tanggung jawab yang terlalu besar menjadi hambatan untuk mengejar posisi tersebut.

Baca juga: Strategi Budgeting Ala Gen Z: Kelola Uang dengan Kantong Digital

Kekhawatiran soal keseimbangan hidup dan pekerjaan juga menjadi faktor penting. Sebanyak 41 persen Gen Z dan 46 persen milenial mengaku enggan mengejar jabatan tinggi karena takut kehilangan work-life balance.

Global Chief Strategy Officer Deloitte Global Mike Canning mengatakan generasi muda sebenarnya tetap tertarik menjadi pemimpin, tetapi dengan syarat lingkungan kerja mendukung kualitas hidup mereka.

“Peran kepemimpinan masih menarik, tetapi perlu menawarkan fleksibilitas,” papar Canning.

Meski demikian, minat menjadi pemimpin dalam jangka panjang masih tinggi. Sebanyak 76 persen Gen Z dan 67 persen milenial mengaku tertarik mengejar posisi kepemimpinan senior di masa depan.

Baca juga: Mayoritas Penduduk RI Gen Z dan Milenial, Bonus Demografi Belum Berakhir

Namun, mereka ingin jalur menuju posisi tersebut lebih jelas dan fleksibel. Faktor yang dianggap dapat meningkatkan minat terhadap posisi kepemimpinan antara lain kompensasi lebih tinggi, fleksibilitas kerja, dan kejelasan jalur karier.

Senior Vice President sekaligus Global Head of SAP Next Gen SAP Soledad Alvarado Ganzhorn mengatakan Gen Z dan milenial ingin menjadi pemimpin dengan cara mereka sendiri.

“Mereka ingin menjadi pemimpin dengan cara mereka sendiri,” terang Ganzhorn.

Lingkungan kerja harus punya makna

Selain fleksibilitas, rasa memiliki tujuan atau purpose menjadi elemen penting dalam lingkungan kerja ideal bagi generasi muda.

Baca juga: Paradoks Karier: Gen Z Tak Lagi Mengejar Tahta Organisasi

Sebanyak 96 persen Gen Z dan 97 persen milenial mengatakan memiliki tujuan dalam pekerjaan penting bagi kepuasan kerja dan kesejahteraan mereka.

Ilustrasi pekerja Gen Z, pekerja muda.PEXELS/IVAN S Ilustrasi pekerja Gen Z, pekerja muda.

Bahkan sekitar 40 persen responden mengaku pernah menolak calon pemberi kerja karena tidak sesuai dengan nilai atau keyakinan pribadi mereka.

Selain itu, 68 persen Gen Z dan 72 persen milenial merasa pekerjaan mereka saat ini memungkinkan mereka memberi kontribusi bermakna bagi masyarakat.

Deloitte menilai generasi muda kini semakin mempertimbangkan nilai dan tujuan perusahaan dalam mengambil keputusan karier.

Baca juga: Gen Z dalam Persimpangan Tekanan Ekonomi, Kedewasaan Finansial, dan Kehadiran Keluarga

“Tujuan tetap menjadi inti,” tulis Deloitte dalam laporan tersebut.

Relasi sosial di kantor juga penting

Lingkungan kerja ideal bagi Gen Z dan milenial juga mencakup hubungan sosial yang sehat di tempat kerja.

Sekitar dua pertiga responden dari kedua generasi mengatakan mereka memiliki setidaknya satu teman dekat di tempat kerja. Temuan Deloitte menunjukkan hubungan sosial di kantor berpengaruh terhadap loyalitas karyawan.

Di kalangan Gen Z, mereka yang memiliki pertemanan dekat di kantor 15 poin lebih mungkin bertahan di perusahaan lebih dari lima tahun dibanding yang tidak memiliki teman dekat di tempat kerja. Pada kelompok milenial, selisihnya mencapai 18 poin.

Baca juga: Kala Purbaya Soroti Investor Gen Z dan Yakin Pasar Modal RI Bakal Cerah

Menurut Deloitte, koneksi sosial kini menjadi bagian penting dalam menciptakan lingkungan kerja yang mendukung kesejahteraan pekerja muda.

Kesehatan mental jadi perhatian utama

Meski kondisi kesehatan mental generasi muda menunjukkan perbaikan dibanding tahun sebelumnya, stres masih menjadi pengalaman sehari-hari bagi banyak pekerja muda.

Ilustrasi kesehatan mental di tempat kerjafreepik Ilustrasi kesehatan mental di tempat kerja

Sebanyak 63 persen Gen Z dan 66 persen milenial menilai kesehatan mental mereka dalam kondisi baik atau sangat baik, meningkat dibanding tahun sebelumnya. Namun, sekitar sepertiga responden masih mengaku merasa cemas atau stres hampir sepanjang waktu.

Tekanan finansial dan jam kerja panjang menjadi pemicu utama stres tersebut. Selain itu, kelelahan digital juga makin umum terjadi.

Baca juga: Gen Z, Investasi, dan Ilusi Pertumbuhan di Tengah Ekonomi Survival Mode

Lebih dari separuh Gen Z, yakni 58 persen, serta 54 persen milenial mengaku mengalami digital fatigue akibat terlalu banyak notifikasi dan penggunaan berbagai platform digital secara bersamaan.

Deloitte mencatat bahwa kompleksitas digital justru sering memperbesar tekanan kerja dibanding mengurangi beban pekerjaan.

Fleksibilitas dan pembelajaran jadi daya tarik

Gen Z dan milenial juga menginginkan lingkungan kerja yang mendukung pembelajaran berkelanjutan.

Dalam survei tersebut, kemampuan yang paling ingin mereka kembangkan meliputi public speaking, kepemimpinan, kemahiran AI, komunikasi, dan kreativitas.

Baca juga: Purbaya Ingatkan Investor Muda Risiko Investasi: Gen Z Biasanya Sok Tahu

Deloitte menilai generasi muda kini memandang kemampuan beradaptasi sebagai strategi penting untuk bertahan di dunia kerja yang terus berubah.

“Kemampuan beradaptasi telah menjadi kemampuan inti,” tulis Deloitte.

Perusahaan pun dinilai perlu menciptakan budaya belajar yang terus berjalan dalam aktivitas kerja sehari-hari, bukan sekadar pelatihan sesekali.

Selain itu, fleksibilitas kerja tetap menjadi salah satu faktor utama yang dicari generasi muda. Deloitte menyebut biaya tempat tinggal, ongkos transportasi, dan tanggung jawab pengasuhan membuat fleksibilitas kerja semakin penting dalam menentukan pilihan karier.

Ilustrasi Gen Z. Perbedaan cara berkomunikasi hingga penggunaan media sosial membuat sejumlah kebiasaan Gen Z dinilai membingungkan hingga memicu stres bagi generasi milenial.FREEPIK/FREEPIK Ilustrasi Gen Z. Perbedaan cara berkomunikasi hingga penggunaan media sosial membuat sejumlah kebiasaan Gen Z dinilai membingungkan hingga memicu stres bagi generasi milenial.

Baca juga: Gen Z Dominasi Investor Kripto, Upbit Gencarkan Edukasi di Kampus

Survei ini menunjukkan, bagi Gen Z dan milenial, lingkungan kerja ideal adalah tempat yang memungkinkan mereka berkembang tanpa kehilangan keseimbangan hidup, memiliki tujuan yang jelas, memperoleh dukungan kesehatan mental, serta memberi ruang untuk terus belajar dan beradaptasi.

Survei Deloitte Global 2026 Gen Z and Millennial Survey dilakukan terhadap lebih dari 22.500 responden dari 44 negara.

Responden terdiri dari generasi Z yang lahir pada 1995-2007 dan milenial yang lahir pada 1983-1994.

Selain survei kuantitatif, laporan ini juga dilengkapi wawancara kualitatif dengan para pemimpin bisnis di berbagai negara untuk menangkap pandangan mengenai dunia kerja, kepemimpinan, dan perubahan ekspektasi tenaga kerja muda.

Baca juga: Gen Z Dominasi Penggunaan Search, Google Tingkatkan Peran AI

Deloitte menyebut survei ini merupakan edisi ke-15 sejak pertama kali diluncurkan dengan nama “The Voice of Millennials”.

Awalnya, riset tersebut berfokus pada masuknya generasi milenial ke dunia kerja dan bagaimana mereka mulai mengubah hubungan antara pekerja dan perusahaan. Ketika Gen Z mulai memasuki pasar kerja beberapa tahun kemudian, Deloitte memperluas cakupan survei untuk memasukkan perspektif generasi tersebut.

Dalam laporan tahun 2026 ini, Deloitte menyoroti bagaimana Gen Z dan milenial memandang pekerjaan, kehidupan pribadi, kepemimpinan, kesehatan mental, penggunaan AI, hingga tujuan hidup di tengah tekanan ekonomi global dan perubahan teknologi yang cepat.

Survei juga memetakan perubahan ekspektasi generasi muda terhadap lingkungan kerja, termasuk kebutuhan akan fleksibilitas, keseimbangan hidup, dan makna dalam pekerjaan.

Tag:  #survei #milenial #ingin #tempat #kerja #fleksibel #bermakna

KOMENTAR