MSCI Coret Saham RI, Bos BEI: Positif, Kurangi Ketidakpastian
- PT Bursa Efek Indonesia (BEI) menilai keputusan Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang mencoret sejumlah saham asal Indonesia dari indeks globalnya membawa dampak positif bagi pasar domestik.
Keputusan tersebut dinilai mampu mengurangi salah satu sumber ketidakpastian yang selama ini membayangi pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
Pejabat Sementara (Pjs) Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik, mengatakan, pasar saham tanah air dalam beberapa waktu terakhir dalam kondisi ketidakpastian akibat sentimen global dan domestik.
Menurutnya, ketidakpastian berasal dari beragam faktor baik tensi geopolitik di Timur Tengah yang naik turun, fluktuasi harga minyak dunia, pelemahan nilai tukar rupiah, hingga rebalancing indeks MSCI yang sejak beberapa pekan terakhir menjadi perhatian investor.
Baca juga: Rupiah dan Saham Melemah, Apa Dampaknya?
“Selama ini, akhir-akhir ini pasar kita ada dalam kondisi ketidakpastian yang sangat tinggi. Dan sumber ketidakpastiannya itu banyak, mulai dari gejolak geopolitik, baik yang terjadi di Timur Tengah, kemudian juga fluktuasi harga komoditas dan mata uang (rupiah). Dan salah satu unsur ketidakpastian itu adalah pasar menunggu keputusan dari MSCI,” ujar Jeffrey saat konferensi pers di gedung BEI, Jakarta, Rabu (13/5/2026).
Karena itu hasil rebalancing MSCI terkait evaluasi indeks yang dipublikasikan pada Rabu justru memberi kepastian baru bagi pelaku pasar modal dalam negeri, meskipun beberapa saham asal Indonesia harus keluar dari indeks global tersebut.
Ia menilai, pengumuman dari MSCI setidaknya menghilangkan satu faktor ketidakpastian yang sebelumnya membuat investor cenderung bersikap wait and see.
“Oleh karena itu tentu kami melihat dengan apa yang disampaikan oleh MSCI hari ini mengurangi satu unsur ketidakpastian,” paparnya.
Jeffrey optimistis setelah ketidakpastian tersebut mulai mereda, bursa tanah air memiliki ruang untuk kembali tumbuh.
Namun penguatan pasar membutuhkan dukungan bersama antara regulator, emiten, dan seluruh pelaku pasar.
“Tentu itu adalah sesuatu yang positif bagi pasar dan itu juga yang tadi disampaikan akan menjadi basis bagi kita untuk bertumbuh ke depan. Tentu bersama-sama dengan emiten kita dan seluruh pelaku pasar,” tukas dia.
MSCI sebelumnya mengumumkan hasil tinjauan berkala atau index review periode Mei 2026.
Hasil rebalancing kali ini mengejutkan pelaku pasar karena dinilai jauh melenceng dari ekspektasi.
Dalam penyesuaian tersebut, MSCI mengeluarkan enam saham Indonesia dari MSCI Global Standard Indexes, yakni PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN), dan PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT).
Meski dikeluarkan dari MSCI Global Standard Indexes, saham AMRT dipindahkan ke MSCI Small Cap Indexes.
Selain itu, MSCI juga menghapus 13 saham Indonesia dari MSCI Small Cap Indexes, yakni PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI), PT Bank Aladin Syariah Tbk (BANK), PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE), PT Dharma Satya Nusantara Tbk (DSNG), dan PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk (SIDO).
Kemudian, PT Midi Utama Indonesia Tbk (MIDI), PT Mitra Keluarga Karyasehat Tbk (MIKA), PT Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk (TKIM), PT Pacific Strategic Financial Tbk (APIC), PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk (SSMS), PT Triputra Agro Persada Tbk (TPAG), dan PT MNC Digital Entertainment Tbk (MSIN).
MSCI menyebut seluruh perubahan tersebut akan berlaku setelah penutupan perdagangan pada 29 Mei 2026 dan efektif mulai 1 Juni 2026.
Baca juga: Menurut Analis, Ini Alasan Saham Favorit Investor Dicoret dari Indeks MSCI