Kesepakatan China-AS Jadi 'Omong Kosong', Perang Masih Ancam Ekonomi Dunia
Ilustrasi Donald Trump dan Xi Jinping [Suara.com/HD-diedit dengan AI]
09:44
17 Mei 2026

Kesepakatan China-AS Jadi 'Omong Kosong', Perang Masih Ancam Ekonomi Dunia

Kunjungan resmi Presiden Amerika Serikat Donald Trump ke Beijing pekan ini dinilai hanya menghasilkan kesepakatan yang moderat menurut standar pertemuan puncak (KTT) dua kekuatan ekonomi terbesar dunia.

Kendati demikian, pertemuan ini membawa keuntungan tersendiri bagi China. Setelah tensi tinggi perang dagang yang ekstrem pada tahun lalu, kedua negara kini tampak kembali ke pola lama mereka: kebuntuan ekonomi dan strategi yang sudah akrab terjalin (standoff).

Dialog selama dua hari antara Donald Trump dan Pemimpin China Xi Jinping menegaskan bahwa meskipun AS sempat menerapkan tarif "Hari Pembebasan" (Liberation Day) yang diikuti dengan gencatan senjata dagang pada akhir tahun lalu, Washington dan Beijing tetap terjebak dalam kompetisi warisan yang sama saat Trump memulai masa jabatan keduanya.

Bagi Xi Jinping, stabilitas rapuh ini memberikan ruang bernapas dan mengembalikan bentuk tantangan ke ranah yang lebih dapat diprediksi. Xi menggambarkan perubahan atmosfer ini dengan memperkenalkan kerangka kerja hubungan baru yang ia sebut sebagai "stabilitas strategis yang konstruktif."

Gencatan Senjata Perang Dagang yang Menguntungkan Beijing

Pakar China dari Center for Strategic and International Studies (CSIS) di Washington, Scott Kennedy, menilai China berada dalam posisi yang lebih diuntungkan mengingat mundurnya pendekatan agresif yang sempat diterapkan pemerintahan Trump pada awal tahun 2025.

"Jika dibandingkan dengan posisi kita setahun lalu, di mana tarif bea masuk menyentuh 145% dan AS benar-benar mendesak China serta dunia untuk berubah secara fundamental, saat ini telah terjadi revolusi balik dan kita kembali ke titik stabilitas," ujar Kennedy, dikutip dari Reuters pada Minggu (17/5/2026).

Meskipun Trump memboyong sejumlah pemimpin korporasi papan atas AS dalam KTT Kamis-Jumat tersebut—termasuk CEO Tesla Elon Musk dan CEO Nvidia Jensen Huang—sebagian besar dari mereka pulang tanpa membawa kesepakatan besar, di luar jamuan makan malam yang mewah.

Pertemuan tingkat tinggi ini juga gagal mengamankan komitmen terbuka dari pihak China untuk membantu AS meredakan konflik perang di Iran, sebuah isu geopolitik panas yang belakangan ini mengacaukan pasar global dan menggerus tingkat kepuasan publik (approval rating) terhadap pemerintahan Trump.

"KTT ini memproyeksikan stabilitas, tetapi membiarkan jalan buntu tetap utuh," kata Craig Singleton, pakar China di Foundation for Defense of Democracies. "Pertemuan ini hanya menghasilkan output yang moderat, mudah dipasarkan, dan dapat dikelola, yang mana memang hanya sejauh itu kapasitas yang bisa ditampung oleh hubungan AS-China saat ini."

Menanggapi penilaian tersebut, seorang pejabat Gedung Putih menyatakan pembelaannya. "Presiden Trump memanfaatkan hubungan positifnya dengan Presiden Xi guna membawa pulang hasil nyata bagi rakyat Amerika," ungkapnya, sembari mencontohkan rencana pembelian pesawat Boeing serta komitmen perjanjian agrikultur untuk memperluas ekspor AS.

Sementara itu, juru bicara Kedutaan Besar China di Washington menyebut pertemuan antara Xi dan Trump berlangsung secara "jujur, mendalam, konstruktif, dan strategis," serta menjadi ruang untuk "mengeksplorasi cara yang tepat bagi dua negara besar untuk saling berdampingan."

Sejumlah analis menilai bahwa dalam perang dagang tahun lalu, Trump tampak terlalu melebih-lebihkan kekuatan tarif untuk memaksa China melakukan konsesi sepihak. Beijing membalasnya dengan menaikkan tarif internal mereka sendiri dan mengancam akan menghentikan pasokan mineral kritis yang sangat dibutuhkan oleh industri manufaktur AS, sebuah langkah yang memaksa kedua negara berada dalam posisi seimbang yang tidak nyaman.

Sejak saat itu, Gedung Putih menunjukkan keengganan untuk menanggung risiko ekonomi yang lebih besar jika mereka menggunakan instrumen pengaruh finansial dan teknologi AS lainnya, seperti menjatuhkan sanksi pada bank-bank besar milik China.

Refleksi dari melunaknya tensi ini terlihat dari absennya pembahasan publik mengenai tuntutan lama AS selama pekan ini, salah satunya adalah desakan agar China mengatasi kelebihan kapasitas industri (overcapacity) yang dinilai oleh mitra dagang barat sengaja membanjiri pasar global dengan barang-barang murah.

Di sisi lain, China tampak puas dengan gencatan senjata yang rapuh ini seiring upaya mereka menavigasi pelemahan ekonomi domestik dan memperkuat sektor teknologi dalam negeri demi memenangkan persaingan jangka panjang dengan AS.

Berdasarkan informasi dari sumber yang dekat dengan negosiasi dagang ini, pihak China sebenarnya menginginkan perpanjangan masa gencatan senjata yang lebih lama daripada yang ditawarkan oleh pemerintahan Trump.

Beijing juga mencari kepastian hukum terkait investigasi AS yang berpotensi menghidupkan kembali tarif masuk pada beberapa komoditas, yang awal tahun ini sempat dibatalkan oleh Mahkamah Agung AS.

Secara keseluruhan, kedua belah pihak tidak menaruh banyak poin negosiasi di atas meja kerja KTT. Sumber tersebut menambahkan bahwa beberapa kesepakatan komersial kemungkinan besar sengaja disimpan untuk musim gugur mendatang, saat Xi Jinping dijadwalkan melakukan kunjungan balasan ke Gedung Putih.

Minimnya hasil komersial pada kunjungan kali ini sangat kontras dengan kunjungan Trump ke China pada tahun 2017 silam, di mana perusahaan-perusahaan yang mendampinginya sukses menandatangani kesepakatan dan nota kesepahaman (MoU) dengan nilai fantastis mencapai US$ 250 miliar.

KTT pekan ini juga tidak menghasilkan terobosan terkait izin penjualan chip kecerdasan buatan (artificial intelligence) tingkat lanjut, Nvidia H200, ke pasar China.

Hal ini dipandang melegakan bagi kelompok antipati China (hawk) dari kubu Republik maupun Demokrat di Washington, yang sebelumnya telah memperingatkan pemerintah agar tidak menyokong perkembangan teknologi AI militer Beijing.

Untuk sektor penerbangan, meskipun belum dikonfirmasi sepenuhnya, Trump mengeklaim Boeing telah mengunci kesepakatan pembelian 200 jet oleh China. Angka ini berada jauh di bawah ekspektasi awal sebanyak 500 jet, dan lebih rendah dari 300 jet yang disetujui Beijing pada kunjungan tahun 2017.

Mantan Wakil Perwakilan Dagang AS, Wendy Cutler, menyebut capaian ekonomi dari KTT ini "jauh di bawah ekspektasi."

Editor: M Nurhadi

Tag:  #kesepakatan #china #jadi #omong #kosong #perang #masih #ancam #ekonomi #dunia

KOMENTAR