Rupiah Melemah Bikin Warga Kota Serba Waswas, Pilih Healing Murah, Dana Darurat Jadi Prioritas
Fenomena Rojali atau rombongan jarang beli di Mal, pengunjung ramai tapi penjualan lesu. Mal jadi lokasi healing. (KOMPAS.com/Lidia Pratama Febrian )
08:04
18 Mei 2026

Rupiah Melemah Bikin Warga Kota Serba Waswas, Pilih Healing Murah, Dana Darurat Jadi Prioritas

- Pelemahan nilai tukar rupiah dan meningkatnya ketidakpastian ekonomi mulai memengaruhi pola pengeluaran masyarakat urban.

Di tengah kenaikan harga kebutuhan pokok, ancaman pemutusan hubungan kerja (PHK), hingga biaya hidup yang semakin tinggi, sebagian warga kini dihadapkan pada dilema antara memenuhi kebutuhan hiburan seperti traveling dan memperkuat dana darurat keluarga.

Kondisi tersebut dirasakan Kasih Rinjani (30), seorang karyawati swasta yang mengaku semakin khawatir dengan tekanan ekonomi yang terjadi belakangan ini. Menurutnya, kenaikan harga makanan hingga tiket pesawat membuat kondisi keuangan masyarakat semakin tertekan, sementara pendapatan tidak mengalami peningkatan signifikan.

“Takut banget sebenarnya. Harga-harga makanan naik, harga tiket pesawat juga naik, sementara gaji sebagai pegawai segitu-gitu aja. Cari kerja juga sulit, ancaman PHK masih menghantui,” ujar Kasih kepada Kompas.com, Minggu (17/5/2026).

Baca juga: Rupiah Melemah Mulai Hantam Dapur Warga: Harga Tahu, Tempe, hingga Mi Instan Terancam Naik

Menurut Kasih, kondisi saat ini membuat banyak orang sulit menyisihkan uang untuk tabungan. Bahkan, dana simpanan yang sebelumnya disiapkan untuk kebutuhan masa depan mulai terpakai demi menutup kebutuhan sehari-hari.

“Benar-benar hidup kayak jalan di tempat. Mau nabung, uang sudah habis duluan sama kebutuhan. Bahkan tabungan mulai kepakai buat kebutuhan,” katanya.

Kasih juga mengaku khawatir pelemahan rupiah akan memicu efek domino terhadap perekonomian nasional dan berdampak langsung pada masyarakat kecil.

“Takut banget sama nilai rupiah yang semakin melemah ini karena pasti ada efek dominonya buat masyarakat. Semoga negara masih kuat ya, alias enggak bangkrut,” lanjutnya.

Baca juga: KALEIDOSKOP 2025: Rojali dan Rohana, Hidupkan Mal tapi Menguji Daya Beli

Tekanan Ekonomi Mulai Mengubah Pengeluaran Warga

Kekhawatiran serupa juga dirasakan Sabana (31), pekerja swasta asal daerah yang menilai kenaikan biaya hidup semakin terasa akibat masih tingginya ketergantungan Indonesia terhadap barang impor, khususnya bahan pangan.

“Kenaikan bahan pokok makin enggak terkendali karena kenyataannya komoditas kita masih banyak yang impor. Ujungnya biaya hidup makin tinggi,” kata Sabana.

Menurutnya, meskipun masyarakat tidak bertransaksi menggunakan dollar AS secara langsung di pasar tradisional, dampak pelemahan rupiah tetap terasa melalui kenaikan harga bahan pangan.

“Kami masyarakat desa memang enggak pakai dollar kalau belanja di pasar. Tapi selama swasembada pangan belum 100 persen terwujud, tahu tempe yang selama ini jadi andalan protein kami, kedelainya banyak yang impor. Beli bahan baku impor kan pakai dollar,” ujarnya.

Baca juga: Soal Rupiah Melemah, Presiden Prabowo: Orang Desa Tidak Pakai Dollar Kok...

Hal senada disampaikan Adhit (28), seorang penyiar radio yang mulai merasakan kenaikan harga kebutuhan sehari-hari memengaruhi pola konsumsi pribadinya.

“Ya melemahnya rupiah saat ini pasti sangat berdampak di sejumlah sektor, mulai dari ekonomi sampai pangan. Harga sembako naik, transportasi kemungkinan besar juga naik,” ujar Adhit.

Ia menilai ketergantungan terhadap impor membuat harga berbagai kebutuhan domestik ikut terdorong naik ketika rupiah melemah terhadap dollar AS.

“Walaupun kita enggak pakai dollar secara langsung, tetap saja bahan makanan dan bahan dasar banyak yang impor. Jadi pasti terdampak semuanya,” katanya.

Menurut Adhit, kondisi tersebut membuat masyarakat harus mulai menyesuaikan gaya hidup dan pengeluaran sehari-hari.

“Yang harusnya saya bisa jajan Rp 25.000 sehari sudah dapat makan dan minum, sekarang takutnya enggak bisa lagi karena semua naik dan makin mahal,” ucapnya.

Baca juga: Dampak Pelemahan Rupiah Mulai Terasa: Gaji Naik Kecil, Harga Kebutuhan Melonjak...

Healing Tetap Dicari, tetapi Harus Lebih Hemat

Ilustrasi traveling membuat Anda merasa bahagia.recep-bg Ilustrasi traveling membuat Anda merasa bahagia.Di tengah tekanan ekonomi, sebagian masyarakat mengaku tetap membutuhkan waktu untuk berlibur atau sekadar healing demi menjaga kesehatan mental. Namun, pilihan destinasi dan besaran anggaran kini mulai disesuaikan dengan kondisi keuangan.

Kasih mengaku masih berusaha menyediakan waktu untuk jalan-jalan, tetapi lebih berhati-hati dalam menentukan tujuan wisata.

“Kalau untuk jalan-jalan sih tetap aja ya, tapi mungkin destinasinya cari yang sesuai kantong aja. Karena kondisi seperti ini ya tetap harus jaga-jaga dan punya dana darurat,” ucap Kasih.

Sementara itu, hobinya mendaki gunung membuat Sabana tetap menyisihkan anggaran untuk kegiatan healing. Hanya saja, ia kini lebih selektif mencari promo dan membeli tiket perjalanan jauh hari demi menghemat pengeluaran.

“Karena hobi saya mendaki, untuk masalah healing sepertinya enggak terlalu berpengaruh. Hanya saja tetap mencari tiket promo atau beli tiket jauh-jauh hari,” katanya.

Adhit pun mulai mengurangi perjalanan yang bersifat mewah dan memilih destinasi yang lebih terjangkau.

“Kalau jalan-jalan yang fancy mungkin enggak dulu. Lebih ke trip murah seperti ke Puncak atau ke pantai. Karena jujur takut juga kan kondisi enggak pasti seperti ini, PHK masih terjadi. Jadi kalau healing memang perlu, tapi enggak harus mahal konsepnya,” tuturnya.

Baca juga: Purbaya Ungkap Penopang Ekonomi RI 5,61 Persen, Ekonom Soroti Kondisi Riil

Rupiah Melemah, Harga Pangan hingga Transportasi Ikut Naik

Pelemahan nilai tukar rupiah yang sempat menyentuh level Rp 17.500 per dollar AS dinilai belum dapat dikategorikan sebagai kondisi krisis seperti yang terjadi pada 1998.

Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede mengatakan, posisi rupiah saat ini memang berada pada level psikologis yang cukup tinggi, namun situasinya berbeda jauh dibanding krisis moneter akhir 1990-an.

Menurut dia, fundamental ekonomi Indonesia saat ini relatif lebih solid, baik dari sisi rasio utang luar negeri pemerintah maupun ketahanan cadangan devisa yang masih berada di level aman.

Mengacu pada data Bank Indonesia (BI), posisi utang luar negeri Indonesia tercatat sebesar 437,9 miliar dollar AS per Februari 2026. Sementara itu, cadangan devisa nasional hingga April 2026 masih berada di level 146,2 miliar dollar AS.

“Kami perlu memberikan edukasi bahwa kondisi rupiah saat ini yang berada di atas Rp 17.000 per dollar AS tidak bisa disamakan dengan kondisi saat krisis moneter 1998," ujarnya saat media briefing PIER Economic Review Kuartal I 2026, Selasa (12/5/2026).

Baca juga: Fenomena Antre Barang Viral, INDEF: Dipicu FOMO dan Status Sosial

Di sisi lain, Guru Besar Universitas Airlangga Rahma Gafmi menilai tekanan ekonomi saat ini banyak dipengaruhi imported inflation atau inflasi yang berasal dari kenaikan biaya impor pangan, energi, hingga bahan baku industri.

Ia mengatakan, kondisi tersebut membuat beban pengeluaran masyarakat semakin meningkat karena harus mengeluarkan biaya lebih besar untuk memperoleh kebutuhan yang sama dibanding tahun sebelumnya.

“Kalau kenaikan upah rata-rata hanya sekitar 3 persen sampai 4 persen, sementara inflasi kebutuhan pokok bisa naik 5 persen sampai 7 persen akibat efek kurs, maka daya beli riil masyarakat akan turun,” ujar Rahma kepada Kompas.com, Jumat (15/5/2026).

Menurut Rahma, sejumlah produk konsumsi sehari-hari seperti mi instan, roti, tahu, dan tempe diperkirakan akan mengalami kenaikan harga secara bertahap.

Bagi masyarakat berpenghasilan rendah, lonjakan harga tahu dan tempe dinilai sangat berpengaruh karena kedua komoditas tersebut selama ini menjadi sumber protein murah yang paling mudah dijangkau.

Sementara kelompok kelas menengah mulai merasakan tekanan dari meningkatnya harga makanan olahan, biaya makan di luar rumah, hingga tarif transportasi. Rahma juga menyoroti kenaikan harga BBM nonsubsidi yang mulai memicu efek berantai terhadap biaya distribusi barang.

Menurutnya, kenaikan harga Dexlite dan Pertamina Dex menyebabkan ongkos logistik ikut meningkat, sehingga harga berbagai barang di pasaran, termasuk produk lokal, ikut terdorong naik.

“Sayur-mayur lokal pun bisa naik meski bukan barang impor karena biaya transportasinya lebih mahal,” katanya.

Ia mengingatkan kelompok kelas menengah menjadi pihak yang paling rentan dalam situasi saat ini karena tidak mendapat bantuan sosial, tetapi harus menghadapi kenaikan biaya hidup secara mandiri.

Sebelumnya, Presiden RI Prabowo Subianto merespons santai kekhawatiran sejumlah kalangan terkait pelemahan nilai tukar rupiah dan kondisi ekonomi nasional.

Dalam pidatonya saat meresmikan Museum Ibu Marsinah dan Rumah Singgah di Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, Sabtu (16/5/2026), Prabowo menilai gejolak kurs dollar AS tidak terlalu dirasakan langsung oleh masyarakat kecil, khususnya warga di pedesaan.

“Rakyat di desa enggak pakai dollar kok,” ujar Prabowo dikutip dari tayangan YouTube Setpres, Sabtu.

Prabowo juga menegaskan bahwa kondisi pangan dan energi nasional masih aman di tengah situasi global yang tidak menentu.

“Pangan aman. Energi aman. Banyak negara panik, Indonesia masih oke,” ujar dia.

Tag:  #rupiah #melemah #bikin #warga #kota #serba #waswas #pilih #healing #murah #dana #darurat #jadi #prioritas

KOMENTAR