Marahnya Indonesia-Malaysia Usai Israel Tahan Rombongan Kapal GSF
Para pendukung dan aktivis rombongan kapal Global Sumud Flotilla berkumpul di pelabuhan Sidi Bou, Tunisia, menjelang keberangkatan armada ke Gaza pada 10 September 2025.(AFP/FETHI BELAID)
10:18
19 Mei 2026

Marahnya Indonesia-Malaysia Usai Israel Tahan Rombongan Kapal GSF

- Indonesia dan Malaysia melontarkan kecaman keras atas tindakan Israel mencegat rombongan kapal Global Sumud Flotilla (GSF) 2.0, dan menahan para penumpang serta aktivis di dalamnya pada Senin (18/5/2026).

Sebanyak 16 aktivis Malaysia dan sembilan Warga Negara Indonesia (WNI) ditahan oleh Pasukan Pertahanan Israel (IDF).

GSF merupakan rombongan kapal sipil yang membawa bantuan kemanusiaan untuk warga Gaza, Palestina. Sejumlah armadanya dicegat Israel di perairan internasional dekat Siprus, Mediterania Timur. Total lebih dari 100 aktivis ditahan dalam intersepsi tersebut.

Baca juga: 2 Jurnalis Republika Diculik Tentara Israel Saat Menuju Gaza, Minta DIselamatkan

Kecaman Malaysia

Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim berpidato dalam dalam KTT ke-47 Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) di Kuala Lumpur pada 28 Oktober 2025.AFP/LILLIAN SUWANRUMPHA Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim berpidato dalam dalam KTT ke-47 Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) di Kuala Lumpur pada 28 Oktober 2025.Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim langsung mengecam penahanan 16 warga Malaysia dalam rombongan itu.

"Tindakan yang dilakukan terhadap misi bantuan kemanusiaan tersebut bukan saja melanggar Hak Asasi Manusia dan hukum internasional, tetapi juga memperlihatkan kesewenang-wenangan rezim Zionis dalam menutup akses bantuan, membungkam suara kemanusiaan, serta menindas siapa pun yang bangkit mempertahankan dan membela rakyat Palestina," tegas Anwar Ibrahim dalam pernyataan di Kuala Lumpur, Senin, dikutip dari Antara.

Malaysia mengecam tindakan Israel dan menuntut jaminan keselamatan serta pembebasan segera seluruh aktivis.

Anwar menegaskan, dunia tidak boleh terus-menerus tunduk pada kezaliman.

Menurut dia, penindasan terhadap rakyat Palestina dan terhadap pihak-pihak yang menggalang serta membawa bantuan kemanusiaan harus segera dihentikan.

"Israel harus mempertanggungjawabkan tindakannya," tegas PM Malaysia sejak 2022 itu.

Pernyataan keras Anwar terhadap Israel bukan kali pertama disampaikan terkait aksi terhadap aktivis kapal kemanusiaan.

Dalam insiden penahanan sebelumnya, Anwar juga mengecam langsung aksi militer Israel terhadap para aktivis.

Anwar bahkan tidak ragu berdialog dengan pemimpin negara-negara sahabat dalam upaya pembebasan para aktivis.

Baca juga: 16 Warga Malaysia Rombongan GSF Ikut Ditahan Israel, bersama 9 WNI

Respons Indonesia

Juru Bicara Kemenlu Yvonne Mewengkang di Kantor Kemlu, Jakarta, Kamis, (30/4/2026).KOMPAS.com/HARYANTI PUSPA SARI Juru Bicara Kemenlu Yvonne Mewengkang di Kantor Kemlu, Jakarta, Kamis, (30/4/2026).Kementerian Luar Negeri Indonesia menyebutkan, sedikitnya 10 kapal misi kemanusiaan GSF 2.0 ditahan Israel, termasuk Amanda, Barbaros, Josef, dan Blue Toys.

Dalam rombongan yang ditahan itu terdapat juga aktivis WNI, termasuk wartawan media nasional dari Tempo dan Republika. Total ada lima warga Indonesia yang ditangkap.

Berdasarkan sumber dari Global Peace Convoy Indonesia (GPCI), satu aktivis yang ditangkap adalah Andi Angga Prasadewa dari Rumah Zakat yang menaiki kapal Josef.

Kemudian tiga orang yang menggunakan kapal Ozgurluk, yakni Thoudy Badai jurnalis Republika, Rahendro Herubowo jurnalis dari Inews, dan Andre Prasetyo Nugroho jurnalis dari TV Tempo.

Lalu ada jurnalis Republika, Bambang Noroyono atau Abeng yang menaiki kapal yang berbeda yakni BoraLize.

Republika mengonfirmasi keberadaan dua jurnalis mereka dalam misi tersebut, dan menyatakan intersepsi ini sebagai pelanggaran serius terhadap hukum internasional.

Tempo juga mengonfirmasi bahwa jurnalisnya termasuk salah satu dari lima WNI yang terdampak intersepsi Israel.

Baca juga: 2 Jurnalis Republika Diculik Tentara Israel Saat Menuju Gaza, Minta DIselamatkan

Jurnalis Republika, Bambang Noroyono yang ikut dalam misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla (GSF) 2.0 dilaporkan ditangkap tentara Israel, Senin (18/5/2026).KOMPAS.com/Nawir Arsyad Akbar Jurnalis Republika, Bambang Noroyono yang ikut dalam misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla (GSF) 2.0 dilaporkan ditangkap tentara Israel, Senin (18/5/2026).Pemimpin Redaksi Republika, Andi Muhyiddin, menegaskan keselamatan mereka menjadi perhatian serius, serta mengecam intersepsi tersebut.

"Tindakan ini pelanggaran serius terhadap hukum internasional, prinsip kemanusiaan universal, serta kebebasan sipil warga dunia yang membawa bantuan bagi rakyat Palestina di Gaza," kata Andi, dikutip dari BBC Indonesia.

Menurut pernyataan mereka, para relawan tidak membawa senjata, melainkan bantuan kemanusiaan seperti obat-obatan dan logistik untuk warga Gaza.

Sementara itu, wartawan TV Tempo, Andre Prasetyo Nugroho, disebut mengirim video pesan darurat atau SOS.

Andre sempat tidak dapat dihubungi sebelum mengirimkan video berdurasi 53 detik kepada tim GPCI.

Video tersebut merupakan salah satu protokol yang telah disiapkan peserta pelayaran Global Sumud Flotilla.

Para peserta diminta merekam pesan darurat untuk dipublikasikan apabila tentara Israel menangkap atau memutus komunikasi mereka selama misi berlangsung.

Baca juga: Israel Cegat Kapal GSF: Tahan 9 WNI, Ada Jurnalis Tempo dan Republika

"Apabila kawan-kawan sudah menonton video ini, tandanya saya telah ditangkap oleh rezim Zionis Israel," ujar Andre dalam video tersebut, dikutip dari Tempo, Senin (18/5/2026) malam.

Kemenlu menyebut situasi di lapangan masih dinamis dan terus berkembang.

Pemerintah Indonesia mendesak agar seluruh kapal dan awak misi kemanusiaan segera dibebaskan.

"Kami mendesak Pemerintah Israel untuk segera melepaskan seluruh kapal dan awak misi kemanusiaan internasional yang ditahan," ujar Juru Bicara Kemenlu RI Yvonne Mewengkang.

Kemenlu menambahkan, pihaknya telah berkoordinasi dengan KBRI Ankara, KBRI Cairo, dan KBRI Amman untuk menyiapkan langkah antisipatif, termasuk perlindungan dan kemungkinan pemulangan WNI.

Baca juga: Kemlu RI Buka Suara soal Penculikan 9 WNI oleh Tentara Israel Saat Menuju Gaza

Apa kata GSF dan Israel?

Tangkapan layar dari livestream kapal Global Sumud Flotilla memperlihatkan personel Angkatan Laut Israel menaiki kapal Oxygono yang menuju Gaza, pada 2 Oktober 2025.GLOBAL SUMUD FLOTILLA via AFP Tangkapan layar dari livestream kapal Global Sumud Flotilla memperlihatkan personel Angkatan Laut Israel menaiki kapal Oxygono yang menuju Gaza, pada 2 Oktober 2025.Dalam pernyataan resminya, GSF menyebut armadanya yang terdiri dari kapal-kapal sipil tengah berlayar untuk membuka jalur bantuan kemanusiaan ke Gaza, ketika dikepung kapal perang Israel di perairan internasional, sekitar 250 mil laut dari wilayah tersebut.

GSF menggambarkan situasi tersebut sebagai kelanjutan dari pola intersepsi sebelumnya terhadap kapal sipil dalam misi serupa, termasuk insiden beberapa minggu sebelumnya.

"Pengepungan militer ini menandai dimulainya kembali agresi ilegal di laut lepas," tulis mereka dalam pernyataan bertanggal 18 Mei 2026.

GSF menegaskan, seluruh peserta dalam armada tersebut adalah warga sipil tak bersenjata, termasuk tenaga medis, jurnalis, dan relawan.

Mereka menyatakan bahwa tindakan intersepsi di perairan internasional melanggar hukum maritim dan prinsip kebebasan navigasi.

Tepat setelah pukul 10.30 di Siprus atau 07.30 GMT pada Senin (18/5/2026), siaran langsung video di situs web GSF menunjukkan pasukan komando di atas kapal penyerbu mendekati sebuah kapal layar, lalu menaikinya saat para penumpang mengangkat tangan.

Baca juga: Militer Israel Kembali Cegat Armada Global Sumud Flotilla yang Angkut 500 Aktivis ke Gaza

"Kapal-kapal militer saat ini sedang mencegat armada kami dan pasukan (Israel) menaiki kapal pertama kami di siang bolong," kata penyelenggara GSF.

"Kami menuntut jalur aman untuk misi kemanusiaan kami yang sah dan non-kekerasan," tambahnya.

"Pemerintah harus bertindak sekarang untuk menghentikan tindakan ilegal atau pembajakan ini yang dimaksudkan untuk mempertahankan pengepungan genosida Israel di Gaza."

GSF mengatakan, para aktivis di atas kapal membawa makanan, susu formula bayi, dan bantuan medis untuk warga Palestina di Gaza.

Kondisi kehidupan di Gaza disebut sangat memprihatinkan, dengan sebagian besar dari 2,1 juta penduduknya mengungsi meski ada gencatan senjata yang disepakati Israel dan Hamas pada Oktober lalu.

Namun, Kementerian Luar Negeri Israel menyebut Gaza sebagai wilayah yang "dibanjiri bantuan".

Israel mengatakan, lebih dari 1,5 juta ton bantuan dan ribuan ton pasokan medis telah memasuki wilayah tersebut selama tujuh bulan terakhir.

Sementara itu PBB pekan lalu mengatakan, banyak keluarga yang mengungsi di Gaza masih terpaksa berlindung di tenda-tenda sesak atau struktur bangunan yang rusak parah karena tidak adanya alternatif yang lebih aman.

Baca juga: Kian Dekatnya UEA-Israel dan Teka-teki Kunjungan Rahasia Netanyahu

Tag:  #marahnya #indonesia #malaysia #usai #israel #tahan #rombongan #kapal

KOMENTAR