Mempertanyakan Pariwisata Berkualitas
BEBERAPA tahun terakhir ini, istilah pariwisata berkualitas (quality tourism) makin popular di Indonesia.
Dari mulai menteri pariwisata, wakil menteri pariwisata, hingga pejabat pemerintah daerah sepertinya makin gemar memperkatakannya.
Apa itu pariwisata berkualitas? Definisinya bisa panjang.
Intinya berkualitas itu fokus mereka bukan lagi pada kuantitas atau jumlah kunjungan wisatawan, tapi lebih menekankan pada kualitas pengalaman wisatawan, keberlanjutan lingkungan, manfaat ekonomi bagi masyarakat lokal, dan pelestarian budaya.
UN Tourism mendefinisikan sebagai suatu proses yang memenuhi harapan konsumen terhadap produk dan layanan dengan harga yang wajar, sambil tetap memperhatikan keselamatan, keamanan, kebersihan, aksesibilitas, dan keberlanjutan lingkungan.
Pendekatan ini, menurut UN Tourism, memprioritaskan keberlanjutan, manfaat bagi masyarakat, dan pengalaman pengunjung daripada sekadar jumlah pengunjung.
Tapi, rupanya karena pengalaman pengunjung lebih penting daripada jumlah pengunjung, kata ”pariwisata berkualitas” ini agaknya menjadi lebih sering dipakai untuk ”bersembunyi” dari kenyataan ketidakmampuan kita untuk menarik lebih banyak wisatawan mancanegara (wisman).
Baca juga: Generasi Tanpa Profesi
Contohnya ketika seorang pejabat ditanya wartawan mengapa jumlah wisman yang berkunjung ke Indonesia itu lebih kecil dibandingkan Malaysia dan Thailand, bahkan Vietnam, jawabnya sangat lugas: karena kita tidak mengejar kuantitas tapi kualitas!
Makin menarik lagi, karena mereka ternyata menolak untuk mendefinisikan wisatawan berkualitas sebagai wisatawan “kelas atas”, tetapi wisatawan yang menghargai budaya lokal, tinggal lebih lama, membelanjakan uang lebih banyak secara sehat, tertib dan bertanggung jawab, serta memberi dampak positif bagi destinasi.
Artinya, berkualitas yang dimaksud adalah walaupun jumlah wisman yang datang itu lebih sedikit tapi karena mereka sangat happy maka mereka akan tinggal lebih lama dan membelanjakan uangnya lebih banyak lagi.
Katakanlah begini. Ada 100 wisman berkunjung ke Danau Toba misalnya Parapat tadinya mereka hanya rencanakan menginap tiga hari.
Tapi karena mereka senang dengan suasana di sana, mereka perpanjang tinggal disana menjadi 6 hari, dengan 3 hari tambahan mereka habiskan di Samosir atau Bukittinggi.
Uang pengeluaran wisman ini pun naik dua kali lipat dari Rp 20 juta per orang per kunjungan menjadi Rp 40 juta per orang per kunjungan.
Nah, kita juga senang kalau begitu. Pariwisata berkualitas jika teorinya benar seperti itu, maka ia akan mendorong terciptanya length of stay lebih lama, dan spending of money wisman lebih banyak. Itu dua indikator pentingnya.
Tapi bagaimana kenyataannya?
Saya baru buka-buka data Passenger Exit Survey (PES) oleh BPS (Badan Pusat Statistik) khususnya mengenai pengeluaran wisman per tahun sejak 2021 sampai 2025, termasuk data length of stay (lama tinggal) wisman.
Baca juga: Membaca Kehebatan Persib yang Berpeluang Hattrick Juara
Ada yang menarik bahwa ketika kita gemar bicara pariwisata berkualitas ternyata spending of money atau rata-rata pengeluaran wisman di Indonesia ternyata justru mengalami penurunan!
Dari 3.097 dolar AS pada tahun 2021, turun ke 1.448 dolar AS di tahun 2022 lalu turun lagi ke 1.391,85 dolar AS di tahun 2024, dan untuk tahun 2025 walaupun data lengkapnya belum ada, namun dari laporan kuartal III-2025 jumlah pengeluaran rata-rata wisman adalah 1.297,31 dolar AS yang artinya terjadi penurunan lagi.
Ini berarti apa? Tujuan Kemenpar untuk mendorong pariwisata berkualitas dengan spending of money lebih tinggi ternyata juga tidak bisa terwujud.
Begitu juga dengan rata-rata lama tinggal wisatawan mancanegara menurut kebangsaan (hari), juga menurun.
Tahun 2022 rata-rata lama tinggal 9,88 hari, tahun 2023 turun menjadi 8,50 hari, lalu tahun 2024 turun lagi menjadi 7,60 hari.
Hal ini bertolak belakang dari gagasan tentang pariwisata berkualitas yang sudah ramai disebut-sebut sejak era Menpar Sandiaga Uno dan berlanjut ke era Menpar Widiyanti Putri Wardhana.
Data ini menunjukkan pariwisata berkualitas yang dimaksud ternyata belum mampu mendorong lama tinggal wisman yang semakin lama atau pengeluaran mereka makin besar, terbukti dari data Passenger Exit Survey (PES) tadi.
Atau dalam arti kata, kita masih sebatas omong-omon tanpa melakukan atau mempersiapkan dengan baik apa-apa yang dibutuhkan untuk mendukung terwujudnya pariwisata berkualitas.
Kita belum mendengar apa konsep untuk memperlama kunjungan wisman, dan bagaimana kaitannya dengan kebijakan penerbangan atau kolaborasi antar-destinasi wisata.
Kita juga belum mendengar apa konsep yang ditawarkan untuk mendorong lebih banyak hasil dari wisatawan menetes kepada masyarakat lokal.
Kita belum mendengar seperti apa memastikan daya dukung lingkungan memberikan kenyamanan bagi wisatawan, dan seterusnya.
Karena itu, agaknya perlu hati-hati untuk menggunakan ”pariwisata berkualitas”.
Pariwisata berkualitas jangan sampai dikesankan bahwa kita tidak perlu wisatawan lebih banyak untuk berkunjung.
Baca juga: Ekonomi Indonesia dari Sawah, Bukan Wall Street
Berkualitas memang berarti menghargai lingkungan hidup, mendukung masyarakat dan ekonomi lokal, menghargai wisatawan, pelestarian seni budaya, hingga memberikan rasa aman dan keselamatan.
Tapi berkualitas juga terkait dengan segmen pariwisata yang memang punya spending of money-nya lebih tinggi dan length of stay lebih lama.
Entah itu MICE, wisata premium, wisata budaya eksklusif, wisata petualangan, ekoturisme, dan lainnya.
Berkualitas juga terkait strategi bagaimana membagi wisatawan tak hanya berkunjung ke Bali tapi juga ke destinasi wisata lainnya di Indonesia.
Berkualitas bukan lawan kata dari kuantitas. Keduanya harusnya saling mendukung.
Bali memang ramai, tapi Danau Toba, Likupang, Lombok dan destinasi wisata lain masih sepi.
Ada 7,05 juta kunjungan ke Bali tahun lalu, ke Sumut itu hanya 292.481 kunjungan, atau ke Sulut itu hanya 61.495 kunjungan!
Itu ibarat bumi dan langit jauhnya.