Dilema Lipstick Effect: Dompet Tertekan, Belanja Kosmetik Kencang
Ilustrasi lipstik. Lipstick effect menggambarkan kebiasaan membeli barang kecil seperti makeup atau skincare untuk memperbaiki suasana hati.(PIXABAY/ALEKSANDRA85FOTO)
05:41
21 Mei 2026

Dilema Lipstick Effect: Dompet Tertekan, Belanja Kosmetik Kencang

– Fenomena lipstick effect muncul di saat kondisi ekonomi masyarakat kelas menengah tertekan.

Lipstick effect adalah konsep ekonomi yang menggambarkan kebiasaan konsumen membeli barang kecil yang memberi rasa nyaman atau dihargai pada saat kondisi keuangan sedang sulit. Barang yang dibeli biasanya bukan kebutuhan utama, tetapi tetap dianggap terjangkau, seperti kosmetik, parfum, kopi, atau makan di luar setelah gajian.

Masyarakat kelas menengah yang menunda pembelian barang besar seperti rumah dan mobil di tengah tekanan ekonomi disebut mencari pelarian dengan membeli barang kecil yang menawarkan kepuasan emosional.

Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE), Mohammad Faisal menyoroti fenomena peningkatan pembelian barang-barang perawatan pribadi dan kosmetik atau yang dikenal sebagai lipstick effect di tengah tekanan daya beli masyarakat saat ini.

Baca juga: Muncul Tekanan Daya Beli, Lipstick Effect Jadi Alarm Potensi Krisis Ekonomi?

Faisal menjelaskan, indikasi tersebut mulai terlihat dari pergerakan indeks penjualan ritel.

"Kalau melihat beberapa indikator seperti indeks penjualan ritel itu ada beberapa items ritel yang mengalami peningkatan seperti perawatan pribadi," ujar Faisal kepada Kompas.com, Rabu (20/5/2026).

Menurut Faisal, gejala ini menjadi hal yang cukup unik karena terjadi di tengah kekhawatiran masyarakat terhadap situasi krisis ekonomi.

"Itu salah satu gejala yang menurut saya cukup menarik ya, di tengah tekanan daya beli, ya dan juga kekhawatiran terhadap krisis," ucap dia.

Kendati demikian, Faisal menekankan data agregat saat ini belum bisa memetakan secara perinci distribusi pembelian tersebut berdasarkan kelas ekonomi masyarakat.

"Secara agregat ya, kita tidak tahu juga dari sisi distribusinya bagaimana, apakah masyarakat menengah, kaya, ataupun miskin. Tapi secara agregat memang ada peningkatan pembelian barang-barang yang sifatnya perawatan pribadi ya," ucap dia.

Bukan indikasi krisis lebih besar

Ia berpandangan, munculnya fenomena lipstick effect ini belum bisa ditarik menjadi kesimpulan sebagai sinyal akan terjadinya krisis ekonomi yang lebih mendalam.

"Saya rasa itu agak terlalu untuk saat sekarang ya, untuk kacamata sekarang terlalu jump to conclusion. Jadi terlalu cepat untuk menyimpulkan dan saya pikir belum sampai ke sana ya, untuk kacamata pada saat sekarang," jelas Faisal.

Faisal menjabarkan, perhatian masyarakat terhadap produk kesehatan dan perawatan pribadi sebenarnya bukan fenomena baru, melainkan kelanjutan dari tren yang sudah terbentuk sejak enam tahun lalu.

"Karena fenomenanya itu terjadi bukan hanya pada saat sekarang, tapi juga sudah terjadi sejak pandemi. Jadi artinya sudah 6 tahun ya, sudah terjadi selama 6 tahun terakhir," papar dia.

"Mungkin juga sejak pandemi ada concern atau juga perhatian yang lebih besar terhadap kesehatan. Nah kemudian selain kesehatan juga jadinya pada perawatan pribadi termasuk juga ya kosmetik ya, seperti itu," tambah Faisal.

Imbauan Bijaksana dalam Pengeluaran

Di tengah kondisi daya beli yang sedang tertekan, Faisal berharap masyarakat bisa lebih cermat dan memprioritaskan kebutuhan yang bersifat primer atau mendasar.

"Dalam kondisi di mana daya beli yang tertekan tentu saja kita berharap ya masyarakat tentu saja lebih lebih lebih bijaksana dalam hal spending, ya. Dan lebih mengutamakan yang lebih esensial tentu saja yang basic needs yang betul-betul lebih primer ya, daripada yang tersier," imbaunya.

Lebih lanjut, ia mengaku tertarik untuk melakukan kajian yang lebih mendalam guna melihat kelompok masyarakat mana yang paling dominan menggerakkan pasar kosmetik saat ini.

"Kita perlu lihat juga apa kelompok masyarakat mana sebetulnya yang punya karakteristik untuk membeli barang-barang kosmetik tersebut dalam kondisi seperti sekarang? Apakah kalangan atas, menengah, calon kelas menengah, ya?" kata Faisal.

Ia memaparkan, kelompok masyarakat kelas atas cenderung tidak terpengaruh oleh situasi ekonomi saat ini dalam hal pemenuhan kebutuhan sekunder tersebut.

Sementara itu, kondisi berbeda terlihat pada kelompok kelas menengah yang dinilai terus mengalami tekanan ekonomi yang cukup panjang sejak beberapa tahun lalu.

"Tapi kelas menengah ini sebetulnya mulai dari krisis pandemi maksud saya di 2020 yang lalu sampai dengan sekarang terus mengalami penurunan dari sisi daya beli dan jumlah orangnya itu juga mengalami penurunan," ungkap Faisal.

Meskipun porsi pengeluaran untuk kebutuhan pokok seperti pangan mencatatkan kenaikan secara proporsi, komoditas kosmetik secara mengejutkan juga ikut merangkak naik.

"Semestinya kalau melihat dari fenomena itu, kebutuhan akan basic needs itu tetap lebih harus diutamakan dibandingkan yang bukan basic needs. Tapi memang pada saat kalau lihat dari spending-nya memang basic needs mengalami peningkatan secara proporsi, tapi selain yang basic needs seperti pangan yang meningkat secara proporsinya, itu juga adalah barang-barang kosmetik ya, yang juga mengalami peningkatan," tutur Faisal.

Baca juga: Dampak Rupiah Rp 17.500, Kelas Menengah-Bawah Mulai Terjepit Harga Pangan dan BBM

Lipstick effect di tengah tekanan daya beli

Senada, Ekonom sekaligus Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia Budi Frensidy mengatakan, munculnya fenomena lipstick effect memang tidak otomatis menjadi bukti krisis besar akan terjadi.

Menurut dia, lipstick effect lebih tepat dibaca sebagai sinyal tekanan daya beli, bukan bukti krisis besar pasti akan terjadi.

"Jadi, lipstick effect adalah alarm kecil," ucap dia.

Budi menambahkan, fenomena lipstick effect baru menjadi lebih serius jika disertai penurunan tabungan, kenaikan utang konsumtif, meningkatnya kredit macet paylater, dan pelemahan konsumsi barang tahan lama.

Secara umum, fenomena ini terjadi ketika masyarakat mulai menahan belanja besar, seperti rumah, kendaraan, atau elektronik, tetapi tetap membeli barang kecil yang memberi kepuasan emosional, seperti kosmetik, skincare, kopi, makanan, atau hiburan murah.

Di Indonesia, Budi menyebut, ini bisa muncul karena harga kebutuhan naik, pendapatan sebagian masyarakat tertekan, ketidakpastian kerja meningkat, dan budaya self-reward makin kuat.

"Terutama karena media sosial dan promosi digital," ungkap dia.

Masyarakat harus bijak kelola keuangan

Dalam menanggapi adanya fenomena tersebut, Budi mengimbau masyarakat untuk lebih bijak mengelola keuangan.

Membeli barang kecil untuk menyenangkan diri tidak salah, selama masih sesuai anggaran.

"Yang berbahaya adalah ketika belanja kecil dilakukan terlalu sering, memakai paylater atau utang konsumtif," ungkap dia.

Ia berpesan, prioritas sebaiknya tetap pada kebutuhan pokok, cicilan wajib, dana darurat, dan perlindungan dasar.

"Self-reward boleh, tetapi jangan sampai berubah menjadi pelarian finansial," ucap dia.

Karyawan menyeberang Jalan Prof Dr Satrio di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, saat jam makan siang. Para karyawan ini adalah potret kelas menengah Indonesia. Kelas menengah dengan gaji terbatas bersiasat untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari dan menabung untuk masa depan.HARIAN KOMPAS/PRIYOMBODO Karyawan menyeberang Jalan Prof Dr Satrio di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, saat jam makan siang. Para karyawan ini adalah potret kelas menengah Indonesia. Kelas menengah dengan gaji terbatas bersiasat untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari dan menabung untuk masa depan.

Lipstick effect diperparah dengan strategi penurunan kelas produk

Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet mengungkapkan fenomena lipstick effect ini diperparah dengan munculnya strategi bertahan dari konsumen melalui metode penurunan kelas produk (downtrading) demi mempertahankan kebiasaan sehari-hari.

“Apalagi sekarang mulai terlihat gejala downtrading, konsumen beralih ke produk yang lebih murah, kemasan kecil, atau memanfaatkan paylater untuk menjaga gaya hidup,” jelas dia.

Oleh karena itu, ia mengingatkan para pemangku kebijakan dan pelaku pasar agar tidak salah dalam membaca pergerakan data konsumsi mikro yang saat ini tampak bergerak aktif.

Efek lipstik sebaiknya dibaca sebagai sinyal kehati-hatian, bukan tanda konsumsinya sedang kuat,” tegas Yusuf.

Yusuf juga mewanti-wanti adanya dampak jangka panjang bagi ketahanan finansial keluarga jika kondisi stagnasi pendapatan dan tekanan ekonomi ini terus berlanjut tanpa arah perbaikan.

“Kalau tekanan ekonomi berlangsung terlalu lama sementara pendapatan tidak naik, risiko berikutnya adalah tabungan rumah tangga terkuras, konsumsi utang meningkat, dan daya tahan masyarakat semakin melemah,” ungkap dia.

Ekonomi kelas menengah stagnan

Ekonom sekaligus Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Islam Internasional Indonesia Teguh Yudo Wicaksono mengatakan, lipstick effect adalah fenomena kelas menengah yang mengalami tekanan.

"Kita ketahui bahwa selama ini banyak kebijakan ekonomi yang membuat kelas menengah stagnan," ungkap dia.

Hal tersebut misalnya adalah ketidakpastian usaha hingga pelemahan nilai tukar.

"Ini membuat investor menahan untuk ekspansi," ucap dia.

Akibat dari peristiwa tersebut dirasakan langsung oleh kelas menengah.

Akhirnya kelas menengah mengalokasikan belanja barang mewah yang besar, seperti mobil dan rumah ke barang mewah yang kecil-kecil.

"Jadi semua memang indikasi kelas menengah dalam tekanan," kata dia.

Baca juga: MBG Disebut Tak Hanya Penuhi Gizi, tapi Gerakkan Ekonomi Desa

Fenomena lipstick effect muncul di awal tahun 2.000-an

Fenomena lipstick effect pertama kali populer setelah Leonard Lauder dari perusahaan kosmetik Estée Lauder melihat penjualan lipstik meningkat saat ekonomi melemah.

Estée Lauder melaporkan kenaikan drastis penjualan lipstik setelah terjadi serangan teroris pada 11 September 2001.

Istilah lipstick effect pertama kali diperkenalkan oleh ekonom Juliet Schor yang merujuk pada perilaku konsumen yang berbelanja barang mewah dengan harga yang terjangkau, misalnya kosmetik premium.

Dilaporkan dari Forbes (1/6/2022), istilah ini kemudian dikenal sebagai salah satu indikator perilaku konsumen saat resesi.

Selama bertahun-tahun, efek lipstik sering dikaitkan dengan anggapan bahwa perempuan membeli produk kecantikan untuk menarik perhatian pasangan atau meningkatkan peluang kerja.

Namun, penelitian terbaru menunjukkan kinerja yang lebih kompleks.

Ekonom California State University, San Bernardino, Yasemin Dildar mengatakan, peningkatan pembelian produk kecantikan saat ekonomi sulit sebenarnya lebih berkaitan dengan kebutuhan emosional.

“Itu hanyalah bentuk hiburan kecil,” kata Dildar, seperti dikutip dari Bloomberg (15/11/2025).

Menurut penelitian yang ia lakukan saat periode resesi besar, konsumen cenderung mengurangi pembelian mahal seperti tas, pakaian, atau perhiasan, lalu menggantinya dengan produk yang lebih murah tetapi tetap memberi rasa puas.

Baca juga: Lipstick Effect di Indonesia, Bukan Tanda Konsumsi Masyarakat Kuat

Tag:  #dilema #lipstick #effect #dompet #tertekan #belanja #kosmetik #kencang

KOMENTAR