BPJS Kesehatan Mulai Fokus Cegah Diabetes dan Hipertensi di Usia Muda
BPJS Kesehatan mulai memperkuat upaya pencegahan penyakit kronis di usia muda sekaligus memperluas layanan kesehatan canggih untuk peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).
Langkah ini dilakukan di tengah meningkatnya kasus diabetes, hipertensi, hingga penyakit jantung di Indonesia.
Melansir Antara pada Rabu (20/5/2026), Direktur Utama BPJS Kesehatan, Prihati Pujowaskito, mengatakan pihaknya kini mendorong penguatan budaya hidup sehat melalui Program Pengelolaan Penyakit Kronis (Prolanis) Muda.
Program tersebut difokuskan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat usia produktif terhadap risiko hipertensi dan diabetes melitus yang kini semakin banyak ditemukan pada kelompok usia di bawah 45 tahun.
“Program Prolanis Muda merupakan upaya berkelanjutan JKN melalui penguatan budaya hidup sehat dan gotong royong sejak usia produktif,” kata Prihati di Universitas Padjadjaran, Kota Bandung.
Baca juga: BPJS Kesehatan Diusulkan Jadi Syarat Mahasiswa Baru saat Daftar Kuliah
Hipertensi dan diabetes sering muncul tanpa gejala
Prihati menjelaskan hipertensi dan diabetes sering berkembang tanpa keluhan pada tahap awal sehingga banyak orang baru menyadarinya setelah muncul komplikasi serius.
“Hipertensi dan diabetes ini sering kali tidak ada keluhannya. Setelah kondisinya berat baru menimbulkan keluhan, padahal kerusakan sudah terjadi bertahun-tahun,” ujarnya.
Menurut dia, kedua penyakit tersebut dapat memicu komplikasi berat seperti penyakit jantung, stroke, pembengkakan jantung, hingga penyumbatan pembuluh darah.
Karena itu, BPJS Kesehatan menilai deteksi dini dan perubahan gaya hidup perlu dilakukan lebih masif, terutama di usia produktif.
Baca juga: Penyakit Katastropik Bikin Beban BPJS Kesehatan Makin Berat, Ini Penyebabnya
BPJS ajak masyarakat mulai rutin olahraga
Ilustrasi olahraga lari menggunakan headset. BPJS Kesehatan mulai memperkuat pencegahan diabetes dan hipertensi di usia muda sekaligus memperluas layanan jantung untuk peserta JKN.
Sebagai bagian dari edukasi kesehatan, BPJS Kesehatan juga mengajak peserta JKN mulai membiasakan aktivitas fisik sederhana.
Salah satunya melalui kegiatan lari bersama sejauh lima kilometer atau berjalan kaki.
“Kami mengajak masyarakat beserta peserta JKN, khususnya Prolanis Muda, untuk lari bersama lima kilometer. Yang kuat silakan berlari, yang belum kuat bisa berjalan,” kata Prihati.
Selain olahraga, masyarakat juga diingatkan menjaga pola makan sehat agar tetap produktif dan terhindar dari penyakit kronis.
Baca juga: Kasus Kanker Payudara Melonjak, BPJS Kesehatan Catat Tambahan 860 Ribu
Layanan cathlab diperluas untuk pasien jantung
Selain memperkuat langkah promotif dan preventif, BPJS Kesehatan juga memperluas akses layanan kesehatan canggih seperti kateterisasi jantung atau cathlab.
Menurut Prihati, perluasan layanan tersebut dilakukan agar peserta JKN bisa mendapatkan penanganan lebih cepat dan mudah, terutama dalam kondisi darurat.
“Perluasan layanan cathlab merupakan komitmen BPJS Kesehatan dalam menghadirkan kemudahan layanan bagi peserta JKN,” ujarnya.
Layanan cathlab sendiri digunakan untuk membantu diagnosis dan penanganan gangguan pembuluh darah jantung.
BPJS Kesehatan menyebut penyakit kardiovaskular menjadi kelompok penyakit dengan pembiayaan tertinggi sepanjang 2025, dengan nilai mencapai Rp11,83 triliun.
Baca juga: 11 Juta Peserta BPJS Terancam Terkendala Layanan, Pemerintah Siapkan SKB
Kasus layanan jantung terus meningkat
BPJS Kesehatan mencatat biaya pelayanan cathlab telah mencapai lebih dari Rp3,5 triliun dengan jumlah kasus lebih dari 138 ribu kasus.
Jumlah tersebut meningkat dua kali lipat dibandingkan tahun 2021.
Karena itu, BPJS Kesehatan berencana memperluas fasilitas cathlab, terutama di rumah sakit daerah nonperkotaan yang sudah memenuhi syarat tenaga kesehatan dan fasilitas pendukung.
Prihati mengatakan rumah sakit swasta juga dapat ikut memperluas akses layanan jika memenuhi persyaratan.
Layanan kesehatan harus tepat sasaran
Dalam kesempatan yang sama, Wakil Menteri Kesehatan Benyamin Paulus Octavianus mengatakan layanan kesehatan yang baik tidak hanya bergantung pada teknologi medis modern, tetapi juga ketepatan pelayanan sesuai kebutuhan pasien.
“Keberhasilan pelayanan kesehatan bukan tentang semakin banyak tindakan medis yang dilakukan, melainkan bagaimana memberikan tindakan yang tepat kepada pasien yang tepat pada waktu yang tepat,” ujar Benyamin.
Menurut dia, penguatan layanan JKN harus memastikan pelayanan kesehatan tetap mudah diakses, bermutu, dan berkelanjutan bagi masyarakat.
Baca juga: 11 Juta Peserta BPJS Nonaktif Tetap Dilayani, Begini Cara Reaktivasinya
Tag: #bpjs #kesehatan #mulai #fokus #cegah #diabetes #hipertensi #usia #muda