Rupiah Tertekan, Kelas Menengah dan APBN Ikut Terdampak
ilustrasi utang (thikstockphotos)
14:44
21 Mei 2026

Rupiah Tertekan, Kelas Menengah dan APBN Ikut Terdampak

Tekanan terhadap nilai tukar rupiah terus menguat di tengah memanasnya konflik geopolitik global dan meningkatnya ketidakpastian ekonomi dunia.

Nilai tukar rupiah sempat melemah ke level terendah sepanjang masa, yakni menembus Rp 17.700 per dollar AS. Pada hari ini, Kamis (21/5/2026), kurs rupiah berada di level Rp 17.686 per dollar AS.

Rupiah menguat setelah Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga BI Rate sebesar 50 basis poin menjadi 5,25 persen pada Rabu (20/5/2026).

Baca juga: Industri Tekstil Tertekan Pelemahan Rupiah, Asosiasi Usulkan Kebijakan Ini

Pelemahan rupiah secara drastis yang berlangsung dalam beberapa pekan terakhir tidak hanya menjadi persoalan pasar keuangan, tetapi mulai menimbulkan dampak yang lebih luas terhadap perekonomian domestik dan kehidupan masyarakat.

Ilustrasi rupiah dan dollar ASTHINKSTOCKS Ilustrasi rupiah dan dollar AS

Kenaikan harga barang impor, meningkatnya tekanan terhadap anggaran negara, hingga menurunnya daya beli masyarakat menjadi efek yang mulai dirasakan.

Akademisi Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (UGM) Rijadh Djatu Winardi menilai pelemahan rupiah saat ini terjadi akibat akumulasi berbagai tekanan global dan domestik yang datang secara bersamaan.

Ia menyebut kondisi tersebut sebagai “perfect storm” yang memperbesar tekanan terhadap nilai tukar rupiah.

Baca juga: Mampukah Suku Bunga 5,25 Persen Mendongkrak Rupiah?

“Dari sisi global, ketegangan geopolitik dan ketidakpastian ekonomi dunia mendorong lonjakan permintaan terhadap dollar AS sehingga investor cenderung menjadikannya sebagai aset aman utama,” ujar Rijadh.

Menurut dia, dari sisi domestik terdapat sejumlah faktor musiman dan struktural yang turut memperberat tekanan terhadap rupiah. Salah satunya adalah periode pembayaran dividen kepada investor asing yang secara rutin meningkatkan kebutuhan valuta asing.

Selain itu, meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap ruang fiskal pemerintah yang semakin terbatas juga dinilai ikut mendorong persepsi risiko terhadap perekonomian Indonesia.

“Kombinasi dari sisi global dan sisi domestik inilah yang menurut saya membuat pelemahan rupiah terasa lebih tajam,” jelasnya.

Baca juga: Rupiah Pagi Lanjut Menguat, IHSG Masih Loyo

BI sebut rupiah undervalue

Di tengah tekanan terhadap rupiah, Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menilai nilai tukar rupiah saat ini berada dalam kondisi undervalue atau berada di bawah kondisi fundamental ekonomi Indonesia.

Menurut Perry, kondisi fundamental ekonomi domestik masih tergolong kuat. Hal itu tercermin dari pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I 2026 yang mencapai 5,61 persen serta inflasi tahunan sebesar 2,42 persen.

“Nilai tukar sekarang itu undervalue. Undervalue dan ke depan kita yakini akan stabil dan menguat. Kenapa undervalue? Fundamental kita itu kuat,” ujar Perry dalam konferensi pers Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) di Istana Merdeka, Jakarta, Selasa (5/5/2026).

BI mencatat nilai tukar rupiah telah melemah 3,65 persen sejak meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.

Baca juga: Mengintip Sejarah Rupiah 1997-1998

Pada penutupan perdagangan hari itu, rupiah melemah 30 poin atau 0,17 persen ke level Rp 17.424 per dollar AS.

Untuk menjaga stabilitas rupiah, BI telah menyiapkan tujuh langkah kebijakan yang juga telah mendapat persetujuan Presiden Prabowo Subianto.

“Kami melapor kepada Bapak Presiden dan Bapak Presiden merestui dan kemudian memberikan suatu penguatan-penguatan tujuh langkah penting yang ditempuh BI untuk membuat rupiah kuat, membuat rupiah itu stabil ke depan,” kata Perry.

Langkah pertama dilakukan melalui intervensi di pasar valuta asing, baik melalui transaksi spot maupun instrumen Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di dalam negeri dan Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore seperti Hong Kong, Singapura, London, dan New York.

Baca juga: Rupiah Melemah Tajam, Harga Pupuk Subsidi Nasional Ikut Naik?

Ilustrasi rupiah, uang rupiah. Kenapa rupiah terus melemah. Nilai tukar rupiah. Penyebab nilai tukar rupiah melemah. Apa yang terjadi jika rupiah melemah. Kenapa rupiah melemah.PIXABAY/DARNO BEGE Ilustrasi rupiah, uang rupiah. Kenapa rupiah terus melemah. Nilai tukar rupiah. Penyebab nilai tukar rupiah melemah. Apa yang terjadi jika rupiah melemah. Kenapa rupiah melemah.

Kedua, BI mendorong peningkatan aliran modal asing melalui optimalisasi Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) guna menutup tekanan arus modal keluar dari pasar Surat Berharga Negara (SBN) dan saham.

“Itu koordinasi kami dengan Pak Menteri Keuangan sehingga betul-betul menjaga inflow-nya dari portofolio asing itu masih year to date-nya masih terjadi inflow dan itu memperkuat nilai tukar rupiah,” ujar Perry.

Ketiga, BI melanjutkan pembelian SBN di pasar sekunder sebagai bagian dari sinergi kebijakan fiskal dan moneter. Hingga saat ini, realisasi pembelian SBN oleh BI mencapai Rp 123,1 triliun secara year to date.

Keempat, BI bersama pemerintah menjaga kecukupan likuiditas di perbankan dan pasar uang yang tercermin dari pertumbuhan uang primer sebesar 14,1 persen.

Baca juga: BI Rate Naik, Ekonom Sebut Rupiah Bakal Balik ke Level Rp 17.200

Kelima, BI memperketat kebijakan pembelian valuta asing tanpa underlying transaksi. Batas pembelian yang sebelumnya 100.000 dollar AS per bulan diturunkan menjadi 50.000 dollar AS dan selanjutnya akan dipangkas menjadi 25.000 dollar AS.

“Termasuk di dalam negeri itu adalah pasar Chinese yuan dengan rupiah sudah berkembang di dalam negeri. Karena local currency kita dengan yuan China sama rupiah itu sangat tinggi dan sekarang sudah mulai terbentuk pasar domestik yuan sama rupiah termasuk ini local currency sehingga itu mengurangi atau melakukan diversifikasi dari dollar sehingga itu bisa memperkuat,” tambahnya.

Langkah keenam dilakukan melalui penguatan intervensi di pasar offshore menggunakan instrumen NDF dengan melibatkan perbankan domestik untuk meningkatkan pasokan valuta asing.

Ketujuh, BI meningkatkan pengawasan terhadap aktivitas perbankan dan korporasi yang memiliki permintaan dollar AS tinggi.

Baca juga: IHSG Ditutup Melemah ke 6.318, Rupiah Justru Menguat usai BI Rate Naik

“Kami kirim pengawas ke sana (perbankan dan korporasi), koordinasi dengan Bu Friderica Widyasari Ketua OJK untuk memastikan bagaimana stabilitas sistem keuangan terjaga,” tuturnya.

Pedagang di Pasar Inpres Kota Lhokseumawe, Provinsi Aceh, Kamis (21/5/2026)KOMPAS.COM/MASRIADI SAMBO Pedagang di Pasar Inpres Kota Lhokseumawe, Provinsi Aceh, Kamis (21/5/2026)

Harga kebutuhan pokok hingga transportasi terdampak

Rijadh menjelaskan pelemahan nilai tukar rupiah memiliki dampak yang relatif cepat terhadap harga barang yang dikonsumsi masyarakat.

Dalam kajian ekonomi, kondisi tersebut dikenal sebagai inflasi impor atau imported inflation, yakni ketika pelemahan kurs membuat harga barang impor dalam denominasi rupiah menjadi lebih mahal.

Menurut dia, perusahaan yang masih bergantung pada bahan baku impor akan menghadapi kenaikan biaya produksi. Meski sebagian perusahaan masih memiliki stok lama, penyesuaian harga pada akhirnya sulit dihindari.

Baca juga: Rupiah Sempat Rp 17.700 Per Dollar AS, BI Gencar Intervensi di Pasar Valas

“Perusahaan yang bergantung pada bahan baku impor akan menghadapi peningkatan biaya produksi. Meski masih memiliki stok lama, penyesuaian harga pada akhirnya sulit dihindari dan umumnya mulai diteruskan kepada konsumen dalam rentang waktu satu hingga beberapa bulan setelahnya,” ujarnya.

Ia menilai masyarakat akan mulai merasakan dampaknya melalui kenaikan harga kebutuhan pokok, biaya transportasi, hingga produk kesehatan.

“Masyarakat akan mulai merasakan dampaknya dalam bentuk harga kebutuhan pokok yang meningkat, biaya transportasi yang naik, hingga harga produk kesehatan yang ikut terdampak,” katanya.

Tekanan terhadap rupiah juga dinilai memberi dampak besar terhadap anggaran negara. Rijadh menyebut subsidi energi menjadi salah satu pos yang paling rentan terdampak karena Indonesia masih bergantung pada komponen impor energi.

Baca juga: BI Rate Naik Jadi 5,25 Persen, Dorong Penguatan Rupiah Hari Ini

Menurut dia, ketika rupiah melemah, beban subsidi otomatis meningkat karena pemerintah harus mengeluarkan anggaran lebih besar untuk menutup selisih harga energi.

Selain subsidi, beban utang luar negeri pemerintah juga ikut meningkat. Meski kewajiban utang dalam dollar AS tidak berubah, nilai pembayaran pokok dan bunga dalam rupiah menjadi lebih besar.

Ilustrasi utang, utang pribadi. SHUTTERSTOCK/CHAYANUPHOL Ilustrasi utang, utang pribadi.

“Ketika ruang fiskal terserap untuk subsidi dan utang, maka fleksibilitas pemerintah untuk membiayai sektor lain seperti pendidikan, kesehatan, atau perlindungan sosial menjadi terbatas,” jelasnya.

Dilema BI menjaga stabilitas

Rijadh menilai kondisi saat ini juga menempatkan BI dalam posisi yang dilematis.

Baca juga: BI Naikkan Suku Bunga, Rupiah Menguat ke Rp 17.650 per Dollar AS

Di satu sisi, BI perlu menjaga stabilitas nilai tukar rupiah agar tekanan terhadap ekonomi tidak semakin besar. Namun di sisi lain, kebijakan suku bunga yang terlalu tinggi berisiko menahan pertumbuhan ekonomi domestik.

Menurut dia, menjaga suku bunga tetap rendah penting untuk mendukung aktivitas ekonomi dan menjaga biaya kredit tetap terjangkau bagi masyarakat maupun dunia usaha.

Namun, stabilitas rupiah juga harus tetap dijaga agar arus modal asing tidak terus keluar dari pasar domestik.

Rijadh menilai pendekatan yang diambil BI sejauh ini cukup rasional melalui kombinasi intervensi di pasar valuta asing dan penggunaan instrumen keuangan seperti surat berharga untuk menarik aliran modal.

Baca juga: Gejolak Rupiah: Fase Sulit Ekonomi Indonesia Naik Kelas

“Pendekatan ini menurut saya cukup rasional, karena mencoba menjaga keseimbangan antara stabilitas makro dan momentum pertumbuhan ekonomi domestik,” katanya.

Ia juga menekankan pentingnya menjaga kredibilitas fiskal melalui disiplin belanja negara serta memperkuat sektor domestik untuk mengurangi ketergantungan impor, terutama pada sektor pangan dan energi.

Menurut dia, pelemahan rupiah saat ini juga dapat dimanfaatkan untuk mendorong ekspor Indonesia menjadi lebih kompetitif.

“Yang tidak kalah penting menurut saya adalah menjaga daya tahan masyarakat rentan. Program perlindungan sosial harus tetap kuat dan adaptif, karena kelompok inilah yang biasanya paling cepat merasakan dampak dari kenaikan harga,” tutupnya.

Baca juga: Suku Bunga BI Naik Jadi 5,25 Persen, Rupiah Jadi Fokus

Ilustrasi kelas menengah, Sejumlah pekerja berjalan di kawasan Sudirman, Jakarta, Kamis (2/4/2026)ANTARA FOTO/Salma Talita Ilustrasi kelas menengah, Sejumlah pekerja berjalan di kawasan Sudirman, Jakarta, Kamis (2/4/2026)

Kelas menengah dinilai paling rentan

Sementara itu, sosiolog UGM Arie Sujito menilai kelompok kelas menengah menjadi pihak yang paling rentan merasakan dampak pelemahan rupiah saat ini.

Menurut dia, tekanan terhadap nilai tukar rupiah bukan lagi sekadar persoalan angka di pasar keuangan, melainkan telah menjadi ancaman nyata terhadap daya beli masyarakat, tabungan, investasi, hingga rasa aman ekonomi keluarga.

Arie menjelaskan kenaikan biaya kebutuhan hidup membuat masyarakat harus menghitung ulang pengeluaran rumah tangga dan menyesuaikan berbagai rencana hidup yang sebelumnya telah disusun.

Kondisi tersebut perlahan mengubah pola konsumsi masyarakat, terutama untuk kebutuhan sekunder yang mulai dikurangi demi menjaga stabilitas ekonomi keluarga.

Baca juga: Suku Bunga BI Rate Naik Jadi 5,25 Persen demi Perkuat Rupiah

Ia menilai pelemahan rupiah juga memunculkan rasa tidak aman karena cadangan sumber daya ekonomi masyarakat mengalami penurunan nilai secara signifikan.

Menurut Arie, tekanan ekonomi global saat ini turut memperbesar kerentanan ekonomi domestik Indonesia. Konflik geopolitik internasional, termasuk perang antara Iran dan Israel yang melibatkan AS dan sekutunya, dinilai ikut memengaruhi kenaikan harga minyak dunia dan berbagai biaya kebutuhan di dalam negeri.

Situasi tersebut dinilai membuat pemerintah menghadapi tantangan besar untuk menjaga stabilitas ekonomi sekaligus mempertahankan kemampuan subsidi bagi masyarakat.

“Kalau negara tidak memiliki kemampuan mengatasi secara cepat, dampaknya akan beruntun,” ungkapnya.

Baca juga: Dollar AS Kian Perkasa, Rupiah dan Rupee Sentuh Rekor Terlemah

Ilustrasi kelas menengah. Thinkstockphotos.com Ilustrasi kelas menengah.

Arie menilai dampak dari kondisi global tersebut dalam jangka pendek paling cepat dirasakan oleh kelompok kelas menengah dan masyarakat bawah.

Ia mengingatkan tekanan ekonomi yang terus berlangsung dapat berkembang menjadi persoalan sosial yang lebih luas apabila tidak segera diantisipasi.

Menurut dia, ketika masyarakat mulai kesulitan memenuhi kebutuhan primer, dampaknya tidak lagi terbatas pada persoalan ekonomi rumah tangga semata, tetapi juga dapat memengaruhi stabilitas sosial.

“Kalau sudah masuk ke kebutuhan primer itu akan punya dampak secara sosial,” jelasnya.

Baca juga: Pelemahan Rupiah dan Ujian bagi Ketahanan Pangan Indonesia

Tekanan fiskal hingga risiko sosial

Arie menilai pemerintah sebenarnya telah menjalankan berbagai program perlindungan sosial untuk menjaga daya tahan masyarakat di tengah tekanan ekonomi. Namun, ia melihat langkah tersebut belum sepenuhnya mampu menjawab kondisi yang terjadi di lapangan.

Menurut dia, terdapat jarak antara kebijakan yang dirancang pemerintah dengan realitas yang dihadapi masyarakat sehari-hari.

“Terjadi diskoneksi antara upaya-upaya program yang dilakukan itu dengan krisis yang terjadi,” tuturnya.

Ia juga menyoroti berkurangnya kapasitas fiskal negara dan daerah yang dinilai turut memperbesar tekanan sosial ekonomi masyarakat.

Baca juga: Rupiah Melemah, Ini Prediksi BI Rate dan Dampaknya ke IHSG

Menurut Arie, penurunan transfer fiskal dari pemerintah pusat membuat banyak daerah mengalami kesulitan pembiayaan pembangunan dan pelayanan publik.

Dampaknya mulai terasa di berbagai sektor, termasuk pendidikan yang harus menghadapi pengurangan anggaran dan keterbatasan pembiayaan.

Dalam situasi tersebut, berbagai institusi dinilai dipaksa bertahan di tengah tekanan ekonomi yang semakin berat.

Nilai tukar rupiah kembali tertekan menembus level Rp 17.600 per dollar AS. Apa yang Terjadi Jika Rupiah Tembus Rp 20.000 per Dollar AS? Ekonom Ungkap Jadi Posisi TerberatANTARA FOTO/Darryl Ramadhan Nilai tukar rupiah kembali tertekan menembus level Rp 17.600 per dollar AS. Apa yang Terjadi Jika Rupiah Tembus Rp 20.000 per Dollar AS? Ekonom Ungkap Jadi Posisi Terberat

Arie menilai kondisi tersebut tidak dapat dianggap ringan karena berkaitan langsung dengan keberlanjutan pelayanan publik bagi masyarakat.

Baca juga: Prabowo Targetkan Rupiah 16.800 sampai 17.500 per Dollar AS pada 2027

Lebih jauh, ia mengingatkan bahwa krisis ekonomi yang tidak segera ditangani berpotensi berkembang menjadi krisis sosial bahkan politik.

Menurut dia, tekanan yang dialami kelas menengah dapat memicu dampak berantai terhadap kelompok masyarakat lain, terutama kelas bawah yang memiliki daya tahan ekonomi lebih lemah.

“Apabila tekanan ekonomi terus menumpuk tanpa solusi yang jelas, kondisi ini dikhawatirkan memengaruhi stabilitas sosial dan kepercayaan masyarakat terhadap negara,” pungkasnya.

Rupiah melemah karena kombinasi faktor global dan domestik

Analis mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan pelemahan rupiah terjadi seiring menguatnya dollar AS di tengah meningkatnya risiko inflasi global akibat lonjakan harga minyak dunia.

Baca juga: Harga Mahal Menjaga Rupiah

“Penguatan dollar AS terjadi karena meningkatnya risiko inflasi yang didorong oleh tingginya harga minyak yang memperkuat ekspektasi bahwa Federal Reserve dapat mempertahankan suku bunga tinggi untuk waktu yang lebih lama,” ujar Ibrahim, Senin (18/5/2026).

Kenaikan harga energi membuat pasar memperkirakan bank sentral AS atau The Fed akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama. Situasi tersebut mendorong investor global menarik dana dari negara berkembang dan memindahkannya ke aset berbasis dollar AS yang dianggap lebih aman.

Selain faktor ekonomi, ketegangan geopolitik di Timur Tengah juga dinilai memperburuk sentimen pasar.

Ibrahim menilai komunikasi pemerintah turut memengaruhi persepsi pasar terhadap kondisi ekonomi Indonesia.

Baca juga: Purbaya Sebut di Tengah Tekanan Rupiah, Dana Asing Mulai Masuk ke Obligasi RI

Di sisi lain, Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (CELIOS) Bhima Yudhistira menilai pelemahan rupiah tidak hanya dipicu faktor eksternal, tetapi juga berkaitan dengan kondisi fundamental ekonomi domestik dan tingkat kepercayaan investor.

“Siapa yang mau berinvestasi dalam kondisi ekonomi yang dianggap shaky atau sangat fluktuatif seperti sekarang?” kata Bhima, Senin.

Menurut Bhima, terdapat sejumlah faktor utama yang memicu pelemahan rupiah, mulai dari penguatan dollar AS akibat kebijakan suku bunga tinggi The Fed, konflik geopolitik global, kekhawatiran investor terhadap ekonomi domestik, hingga arus modal asing yang keluar dari pasar Indonesia.

Bhima mengingatkan apabila pelemahan rupiah terus berlangsung tanpa intervensi efektif, nilai tukar rupiah berpotensi menembus Rp 20.000 per dollar AS.

Baca juga: Rupiah Sentuh Level Terendah, Pemerintah Jelaskan Beda Kekuatan Ekonomi 2026 dan 1998

“Kalau hari ini kurs sekitar Rp 17.600 dan pelemahannya rata-rata 0,5 persen per hari, maka pada 9 Juni 2026 rupiah bisa tembus di atas Rp 20.000 per dollar AS,” ujar Bhima.

Tag:  #rupiah #tertekan #kelas #menengah #apbn #ikut #terdampak

KOMENTAR