AS Gandeng Filipina untuk Amankan Rantai Pasok Teknologi Strategis
Ilustrasi bendera Filipina.(WIKIMEDIA COMMONS/NATIONAL HISTORICAL COMMISION OF THE PHILIPPINES)
15:44
21 Mei 2026

AS Gandeng Filipina untuk Amankan Rantai Pasok Teknologi Strategis

Amerika Serikat (AS) memperkirakan kesepakatan jangka panjang soal zona keamanan ekonomi dengan Filipina bakal tercapai dalam waktu dekat.

Hal itu disampaikan Wakil Menteri Luar Negeri AS untuk Urusan Ekonomi Jacob Helberg dalam wawancara dengan Reuters, Kamis (21/5/2026).

Kesepakatan tersebut menjadi bagian dari perluasan aliansi rantai pasok teknologi bernama “Pax Silica”, inisiatif Washington untuk mengamankan pasokan teknologi strategis di tengah rivalitas global yang makin tajam.

“Saya memperkirakan Amerika Serikat dan Filipina akan mencapai kesepakatan lebih cepat daripada nanti,” kata Helberg.

“Ada momentum yang sangat besar di balik ini,” lanjut dia.

Filipina resmi bergabung dengan Pax Silica bulan lalu.

Baca juga: Stok Melimpah, Thailand Akan Ekspor Avtur ke Vietnam dan Filipina

Negara itu menjadi anggota ke-13 dalam aliansi yang mencakup rantai pasok teknologi dari hulu hingga hilir, mulai dari mineral penting, manufaktur canggih, komputasi, hingga infrastruktur data.

Helberg mengatakan jumlah anggota Pax Silica kini sudah bertambah menjadi 15 negara dari tujuh anggota pendiri pada September tahun lalu.

“Kemungkinan besar kita akan mencapai 16 anggota pada akhir bulan depan, karena kita mungkin akan menambah satu atau dua anggota lagi dalam empat minggu ke depan,” ujarnya.

Baca juga: AS Bongkar Dugaan Penggelapan Dana Rp 354 Miliar di Telekom Malaysia

Fokus ke rantai pasok teknologi

Pax Silica menjadi bagian dari strategi AS untuk mengurangi ketergantungan terhadap China di sektor teknologi strategis.

Kerangka kerja ini mendorong negara anggota membangun rantai pasok yang lebih terintegrasi dan dianggap aman secara geopolitik.

Berdasarkan perjanjian yang ditandatangani bulan lalu, AS dan Filipina memiliki waktu dua tahun untuk menyusun pengaturan detail zona keamanan ekonomi tersebut.

Kedua negara juga akan menentukan sektor industri prioritas yang masuk dalam kawasan itu.

Meski begitu, masih ada sejumlah isu sensitif dalam negosiasi.

Bloomberg sebelumnya melaporkan Filipina belum menyetujui permintaan AS terkait kekebalan diplomatik untuk zona tersebut.

Baca juga: Rivalitas China VS Amerika Serikat: Menang Tanpa Berperang

Kawasan industri baru

Helberg pekan ini juga mengunjungi lokasi kawasan yang diusulkan di New Clark City, sebelah utara Manila.

Luas kawasan itu mencapai 4.000 acre atau sekitar 1.620 hektar.

Ia datang bersama perwakilan lebih dari selusin perusahaan AS, termasuk 8VC, Agility Robotics, Joby Aviation, dan Valar Atomics.

Ketua Foxconn, Young Liu, juga terlihat dalam delegasi tersebut berdasarkan foto yang diunggah di platform X.

Foxconn merupakan produsen elektronik kontrak terbesar di dunia dan pemasok utama Apple.

Menurut Helberg, minat perusahaan AS terhadap proyek ini cukup tinggi.

“Meskipun masih terlalu dini, terdapat minat yang tinggi, baik dari perusahaan-perusahaan yang hadir maupun perusahaan-perusahaan AS lainnya,” kata dia.

AS dekati ASEAN

Helberg menyampaikan pernyataan itu saat menghadiri KTT ATX di Singapura.

Dalam forum tersebut, ia bertemu para menteri digital dari 11 negara anggota ASEAN atau Association of Southeast Asian Nations.

Ia mengatakan telah berdiskusi dengan Singapura dan sejumlah negara lain mengenai peluang kerja sama di sektor mineral dan logistik.

Langkah Washington memperluas Pax Silica menunjukkan persaingan teknologi global kini tidak lagi hanya soal chip dan kecerdasan buatan, tetapi juga perebutan pengaruh atas rantai pasok industri masa depan.

Tag:  #gandeng #filipina #untuk #amankan #rantai #pasok #teknologi #strategis

KOMENTAR