Manfaatkan Drum Bekas, Jamur Tiram Trisha Gerakkan Ekonomi di Nias
Hafsah Pohan, pendiri dan pemilik usaha budidaya jamur tiram Trisha di Pulau Nias, Sumatera Utara.(DOKUMENTASI PRIBADI HAFSAH POHAN)
19:16
21 Mei 2026

Manfaatkan Drum Bekas, Jamur Tiram Trisha Gerakkan Ekonomi di Nias

Perjalanan menuju Pulau Nias, Sumatera Utara memakan waktu berjam-jam. Laut menjadi penghubung sekaligus tantangan.

Bagi sebagian orang, itu hanya soal jarak. Namun, bagi Hafsah Pohan, perempuan asal Gunungsitoli, menjadi titik baliknya memiliki usaha jamur tiram dengan jenama Jamur Tiram Trisha.

Bercerita kepada Kompas.com, Hafsah membuka usaha jamur tiram pada tahun 2020 silam.

Baca juga: Jamur Tiram Jadi Ladang Cuan, Ibu-Ibu Sangatta Naik Kelas

Produk jamur tiram Trisha yang siap dipasarkan. DOKUMENTASI PRIBADI HAFSAH POHAN Produk jamur tiram Trisha yang siap dipasarkan.

Awalnya dia hanya menjadi reseller jamur ketika berkuliah di Medan. Akan tetapi, lantaran jarak dari Medan ke kampung halamannya cukup jauh, produk jamur dagangannya kerap rusak.

Padahal bagi dia, pangsa pasar jamur tiram di kampungnya cukup besar. Dari sanalah Hafsah melihat peluang yang besar untuk dimanfaatkan.

Ditambah lagi, ia dipaksa oleh keadaan yakni pandemi Covid-19 yang melanda, membuatnya kesulitan untuk mendapatkan pekerjaan saat itu.

“Kebetulan saya juga baru lulus dan itu Pandemi Covid-19. Jadi saya mengira ini sulit banget dapat pekerjaan. Ya sudah, karena melihat peluang plus ada dorongan untuk segera bekerja, akhirnya saya memberanikan diri untuk buka usaha Jamur Tiram Trisha,” ujarnya kepada Kompas.com, Rabu (20/5/2026).

Baca juga: Punya “Spark” terhadap Isu Keberlanjutan, Startup Bandung MYCL Berhasil Kembangkan Jamur Jadi Kain Kulit dengan Dukungan Bank DBS Indonesia

Modal Rp 600.000 jadi awal perjalanan Jamur Tiram Trisha

Trisha mengenang, saat dia membuka usahanya modalnya cukup terbatas. Hanya menggunakan sisa tabungan. Namun, lantaran dorongan keluarganya, dia optimistis dan percaya diri bahwa usahanya akan berhasil.

Budidaya jamur tiram milik Hafsah Pohan di Pulau Nias, Sumatera Utara. DOKUMENTASI PRIBADI HAFSAH POHAN Budidaya jamur tiram milik Hafsah Pohan di Pulau Nias, Sumatera Utara.

“Hanya sekitar Rp 600.000, itu juga sisa tabungan selepas kuliah. Tak ada fasilitas lengkap, tanpa ada peralatan modern hanya menggunakan drum yang bekas saja,” kenangnya.

Sebulan, dua bulan, hingga beberapa bulan setelah dia resmi membuka usahanya, semua berjalan normal dan sesuai harapan Hafsah. Bahkan penjualannya juga cukup terbilang besar.

Namun di pertengahan tahun, Hafsah merasakan tantangan hingga beberapa kali gagal panen. Apalagi jamur merupakan tanaman yang sangat bergantung pada cuaca.

Baca juga: Budi Daya Jamur di PPU, Manfaatkan Limbah Serbuk Kayu hingga Pelat Besi buat Sterilisasi

Belum lagi kontaminasi ke jamur sering membuat hasil produksi tak berjalan sesuai harapan. Padahal, kala itu pelanggannya cukup banyak.

Elnusa Petrofin jadi harapan dan beri multiplier effect

Untungnya, Hafsah dibantu oleh PT Elnusa Petrofin. Hafsah masuk sebagai UMKM binaan Elnusa Petrofin sejak Januari 2024 silam.

Ini berawal dari dirinya yang membutuhkan wadah untuk budidaya jamur.

Elnusa membantu Hafsah untuk mendapatkan wadah-wadah yang merupakan sisa bekas pakai dari perseroan yang masih layak pakai. Elnusa pun mengajak Hafsah untuk bergabung menjadi UMKM binaan.

Baca juga: Kisah Bisnis IP Farm, dari Budidaya Jamur hingga Kelola Agrowisata di Lembang

Semenjak menjadi UMKM binaan Elnusa Petrofin, Hafsah mengaku bisnisnya sangat terbantu. Bahkan, penjualannya meningkat hampir dua kali lipat.

“Saya bukan hanya terbantu dari sisi pendanaan, tapi juga Elnusa Petrofin membantu pemasaran saya. Itu juga yang ternyata membuat bisnis jamur saya dikenal banyak orang. Alhamdullilah,” tutur Hafsah.

Elnusa Petrofin memiliki semangat dalam mendorong pertumbuhan ekonomi lokal melalui program CSR UMKM Academy.

Usaha jamur tiram Trisha yang didirikan oleh Hafsah Pohan menjadi UMKM binaan PT Elnusa Petrofin.DOKUMENTASI PRIBADI HAFSAH POHAN Usaha jamur tiram Trisha yang didirikan oleh Hafsah Pohan menjadi UMKM binaan PT Elnusa Petrofin.

Program UMKM Academy merupakan bagian dari strategi tanggung jawab sosial perusahaan yang telah dijalankan di berbagai daerah, menyasar kelompok rentan, komunitas ibu rumah tangga, serta pelaku UMKM pemula.

Baca juga: Renyahnya Laba Bisnis Jamur Crispy...

Membuka peluang reseller di tengah sulitnya lapangan kerja

Semenjak menjadi UMKM binaan Elnusa, dampak positif usaha jamurnya pun bukan dirasakan oleh Hafsah sendiri, tapi juga dampak sosial ke lingkungannya.

Dengan membuka kesempatan bagi masyarakat atau siapapun yang ingin menjadi reseller produknya, menjadi kebahagiaan sendiri baginya. Apalagi di tengah sulitnya mendapatkan pekerjaan, menjadi reseller produk jamurnya cukup menjanjikan.

Selain itu untuk dampak positif juga terasa untuk keberlanjutan lingkungannya. Sebab, dia menggunakan serbuk kayu, dedak, dan bahan organik sebagai media tanam.

Dengan begitu, proses pembudidayaan jamurnya sangat minim limbah.

Baca juga: Bisnis Jamur Krispy, Bisa Balik Modal 3 Bulan

“Selain minim limbah, ekonomis juga karena material yang sebelumnya kurang dimanfaatkan bisa saya olah kembali,” katanya.

Jamur Tiram Trisha kembangkan eduwisata di Pulau Nias

Usaha Hafsah juga turut berkontribusi pada wisata di daerahnya. Sebab, ia membuka kelas budidaya jamur secara daring dan luring untuk anak muda, ibu-ibu rumah tangga, hingga masyarakat yang ingin memulai usaha dari rumah.

“Jadi kayak eduwisata juga, saya mengajar cara membudidayakan jamur. Orang-orang dari luar kota juga banyak yang datang kemari untuk belajar sambil wisata,” katanya.

Harga jamur tiram yang dia pasarkan tergolong murah, mulai dari Rp 40.000 hingga Rp 60.000 per kilogram.

Baca juga: Meraup Untung Budidaya Jamur Tiram, Modal Awal Cuma Rp 2,5 Juta

Ilustrasi jamur tiram, budidaya jamur tiram. SHUTTERSTOCK/DIMDIZ Ilustrasi jamur tiram, budidaya jamur tiram.

Jamur tiram bisa diolah menjadi kerupuk, olahan tumisan dan sup, ataupun untuk produk kesehatan.

Hafsah ingin bisnisnya berdampak dan ciptakan lapangan kerja

Ke depan, Hafsah berharap, bisnisnya bukan hanya sekadar bisnis yang bisa bertahan di tengah gempuran ekonomi, tapi juga bisa memberikan banyak peluang yang lebih besar lagi untuk sekitarnya.

“Bisnis ini bukan hanya sekadar menjual jamur saja tapi berdampak bagi sekitar, bisa berkontribusi untuk memberi lapangan kerja yang besar, dan meningkatkan pertumbuhan ekonomi daerah saya,” pungkasnya.

Tag:  #manfaatkan #drum #bekas #jamur #tiram #trisha #gerakkan #ekonomi #nias

KOMENTAR