Rupiah Melemah ke Rp 17.677, Ketidakpastian Kebijakan Jadi Sorotan
– Nilai tukar rupiah kembali bergerak melemah terhadap dollar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Jumat (22/5/2026).
Tekanan terhadap mata uang rupiah dipengaruhi kombinasi faktor domestik dan global, mulai dari ketidakpastian kebijakan di dalam negeri hingga penguatan ekonomi AS.
Berdasarkan data pasar, rupiah pada Jumat pagi melemah 10 poin atau 0,06 persen menjadi Rp 17.677 per dollar AS, dibandingkan posisi penutupan sebelumnya di Rp 17.667 per dollar AS.
Baca juga: Rupiah Melemah, Simak Kurs USD-IDR Hari Ini di Bank
Tekanan terhadap rupiah juga terlihat di pasar spot. Hingga pukul 09.25 WIB, rupiah tercatat terdepresiasi 39 poin atau 0,22 persen ke level Rp 17.706 per dollar AS.
Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede menilai pelemahan rupiah kali ini dipengaruhi meningkatnya kehati-hatian investor terhadap arah kebijakan domestik.
“Rupiah terdepresiasi terhadap dolar AS, dipengaruhi oleh ketidakpastian kebijakan domestik,” ujar Josua, Jumat (22/5/2026) dikutip dari Antara.
Pelaku pasar disebut mulai mencermati potensi kebijakan baru terkait tata kelola ekspor yang akan memusatkan transaksi ekspor sejumlah komoditas di bawah badan usaha milik negara (BUMN).
Selain itu, investor juga mulai melakukan reposisi aset menjelang pengumuman Morgan Stanley Capital International (MSCI) pada Juni mendatang.
Baca juga: Efek BUMN Ekspor, Rupiah Diprediksi Bergerak Melemah Hari Ini (22/5)
Data ekonomi AS dorong penguatan dollar
Di sisi global, penguatan dollar AS turut dipengaruhi sejumlah data ekonomi Negeri Paman Sam yang menunjukkan ketahanan aktivitas ekonomi.
Data pasar tenaga kerja AS memperlihatkan klaim pengangguran awal untuk pekan yang berakhir pada 16 Mei 2026 turun menjadi 209.000 dari sebelumnya 212.000. Angka tersebut juga lebih rendah dari proyeksi pasar sebesar 210.000.
Kondisi itu mengindikasikan pasar tenaga kerja AS masih relatif kuat.
Dari sektor manufaktur, data awal S&P Global PMI Manufaktur AS naik menjadi 55,3 pada Mei 2026, dari posisi sebelumnya 54,5. Capaian itu juga melampaui ekspektasi pasar sebesar 53,8.
Rangkaian data ekonomi tersebut memperkuat pandangan bahwa ekonomi AS masih cukup solid, sehingga mengurangi ekspektasi pasar terhadap peluang pelonggaran kebijakan moneter bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed), dalam waktu dekat.
Baca juga: Dampak Pelemahan Rupiah ke Masyarakat: Harga Pangan hingga Risiko PHK
Meski demikian, laju penguatan dollar AS sempat tertahan oleh meningkatnya optimisme terkait potensi kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran.
Menurut Josua, pemerintah Iran menyatakan proposal terbaru dari AS mulai mempersempit perbedaan posisi antara kedua negara, sehingga memunculkan sentimen positif di pasar global.
Berdasarkan berbagai faktor tersebut, Permata Bank memperkirakan nilai tukar rupiah bergerak di kisaran Rp 17.600 hingga Rp 17.725 per dollar AS.
Mata uang di Asia kompak tertekan
Pergerakan rupiah juga sejalan dengan mayoritas mata uang Asia yang bergerak di zona merah terhadap dollar AS.
Won Korea Selatan menjadi mata uang dengan pelemahan terdalam di kawasan Asia setelah turun 0,25 persen.
Baht Thailand melemah 0,12 persen, diikuti dollar Singapura yang turun 0,09 persen dan yen Jepang yang terkoreksi 0,08 persen.
Ringgit Malaysia turun 0,05 persen, sementara dollar Hong Kong melemah tipis 0,01 persen terhadap greenback.
Di sisi lain, dollar Taiwan mencatat penguatan terbesar di Asia dengan kenaikan 0,14 persen. Peso Filipina menguat 0,08 persen, sementara yuan China naik tipis 0,02 persen.
Baca juga: Rupiah Anjlok, Perajin UMKM Tas Aceh Keluhkan Kenaikan Bahan Baku: Berat Kami...
IHSG sempat tertekan, lalu berbalik menguat
Pergerakan rupiah terjadi di tengah volatilitas pasar saham domestik.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat dibuka di zona merah pada perdagangan Jumat pagi. Indeks turun 57,527 poin atau 0,94 persen ke level 6.037,414.
Tekanan jual sempat membawa IHSG menyentuh level terendah harian di 5.966,860.
Namun, kondisi pasar berangsur membaik menjelang siang.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG berhasil berbalik menguat pada akhir sesi I. Indeks naik 18,50 poin atau 0,31 persen ke posisi 6.113,44.
Penguatan indeks ditopang kenaikan sejumlah sektor saham, terutama sektor barang baku dan energi.
Nilai transaksi di pasar reguler hingga akhir sesi pertama mencapai Rp 10,17 triliun dengan volume perdagangan 19,95 miliar saham dan frekuensi transaksi sekitar 1,14 juta kali.
Tag: #rupiah #melemah #17677 #ketidakpastian #kebijakan #jadi #sorotan