Bidik Laba Rp 621,8 Miliar, GMFI Perkuat Bisnis Perawatan Pesawat dan Industri Pertahanan
Ilustrasi pesawat Garuda Indonesia. (www.garuda-indonesia.com)
09:28
23 Mei 2026

Bidik Laba Rp 621,8 Miliar, GMFI Perkuat Bisnis Perawatan Pesawat dan Industri Pertahanan

 Anak usaha Garuda Indonesia, PT Garuda Maintenance Facility Aero Asia Tbk (GMFI), menargetkan pendapatan tahunan sebesar 542,8 juta dolar Amerika Serikat (AS) pada 2026.

Nilai tersebut setara Rp 9,6 triliun dengan asumsi kurs Rp 17.716 per dolar AS.

GMFI juga memperkirakan laba bersih mencapai 35,1 juta dolar AS atau setara Rp 621,8 miliar.

“Target ini akan dicapai melalui keberlanjutan transformasi korporasi, penguatan fundamental operasional, dan pertumbuhan bisnis profitable,” kata Direktur Utama GMFI, Andi Fahrurrozi dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) dan Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST), Jumat (22/5/2026).

Baca juga: Garuda Indonesia (GIAA) Rombak Direksi dan Komisaris, Simak Susunannya

Andi mengatakan kinerja keuangan GMFI pada awal 2026 menunjukkan performa solid. Kinerja tersebut ditopang fundamental operasional yang semakin sehat.

GMFI membukukan laba berjalan sebesar 6,76 juta dolar AS pada kuartal I 2026. Pendapatan usaha perseroan pada periode yang sama mencapai 114,94 juta dolar AS.

“Melalui pencapaian positif dan efisiensi yang terjaga di tengah dinamika pasar dan tantangan industri, GMFI siap melangkah lebih jauh dalam menghadirkan solusi terintegrasi bagi industri aviasi maupun sektor lainnya,” lanjut Andi.

GMFI juga menjaga momentum pertumbuhan pada 2025.

Baca juga: Anak Usaha Garuda GMFI Bukukan Laba Rp 570 Miliar, Ekuitas Berbalik Positif

Kontribusi pendapatan dari segmen non group afiliasi mencapai 141,3 juta dolar AS atau setara 28,7 persen dari total pendapatan.

Sektor perawatan pesawat komersial masih menjadi salah satu penopang bisnis.

GMFI mencatat sejumlah pelanggan lama seperti Korean Air, Vietjet Air, dan Cebu Pacific.

Perseroan juga memperluas basis pelanggan baru, seperti One Air, Air Swift, dan Texel Air.

GMFI turut menyelesaikan reaktivasi 13 pesawat Airbus A320 milik Citilink dan dua pesawat Airbus A330 milik Garuda Indonesia.

Langkah tersebut menjadi bagian dari sinergi Garuda Indonesia Group untuk mengoptimalkan kesiapan armada penerbangan nasional.

Sektor pertahanan juga ikut menopang kinerja GMFI.

Perseroan menyelesaikan pekerjaan perawatan helikopter Bell 412 hingga unit keempat dan dua pesawat VIP Boeing 737 800.

GMFI juga memperluas kapabilitas industri pertahanan melalui kerja sama strategis dengan Dassault Aviation.

Kerja sama tersebut terkait implementasi program Imbal Dagang Kandungan Lokal dan Offset (IDKLO) untuk pesawat Rafale.

Lini bisnis non commercial aircraft turut mencatat pertumbuhan positif.

Segmen tersebut mencakup SBU Defense Industry, Industrial Solutions, dan Power Services.

Pendapatan dari lini bisnis tersebut mencapai 36,7 juta dolar AS atau tumbuh 59,9 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Capaian itu mencerminkan efektivitas strategi diversifikasi perseroan.

Tahun lalu, GMFI mencatat pertumbuhan pendapatan usaha sebesar 491,9 juta dolar AS atau setara Rp 8,25 triliun.

Angka tersebut tumbuh 16,8 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

GMFI juga membukukan laba bersih sebesar 33,9 juta dolar AS atau setara Rp 570 miliar.

Nilai itu naik 26,3 persen dibandingkan 2024 yang sebesar 26,9 juta dolar AS atau setara Rp 451 miliar.

“Kami telah bertumbuh secara signifikan dan berkelanjutan. Dengan kapabilitas semakin kuat dan adaptif, GMFI akan terus membuka peluang baru untuk memenuhi kebutuhan industri penerbangan nasional maupun global,” ujar Andi.

Total aset GMFI tumbuh menjadi 813 juta dolar AS atau setara Rp 13,6 triliun.

Angka tersebut naik 91,5 persen dari tahun sebelumnya. Struktur permodalan perseroan juga membaik signifikan.

Ekuitas GMFI berbalik dari negatif 257,9 juta dolar AS atau minus Rp 4,33 triliun menjadi positif 114,6 juta dolar AS atau Rp 1,92 triliun.

Perbaikan ekuitas tersebut ditopang aksi korporasi berupa inbreng lahan senilai Rp 5,6 triliun.

Aksi korporasi itu memperkuat nilai aset tetap perseroan sekaligus mengembalikan posisi ekuitas menjadi positif.

“Peningkatan kinerja finansial Perseroan ditopang oleh transformasi operasional yang dijalankan secara konsisten sepanjang tahun 2025, mulai dari peningkatan produktivitas operasional, percepatan turnaround time (TAT), penguatan infrastruktur, hingga pemenuhan berbagai sertifikasi dan kualifikasi internasional,” ujar Andi.

“Tahun 2025 menjadi momentum pembuktian GMF dalam mengeksekusi berbagai langkah transformasi dan aksi korporasi strategis secara agresif sekaligus terukur. Pencapaian positif ini tentu tidak akan terwujud tanpa fundamental operasional yang semakin solid,” tegasnya.

Tag:  #bidik #laba #6218 #miliar #gmfi #perkuat #bisnis #perawatan #pesawat #industri #pertahanan

KOMENTAR