Ketika Harapan Menggerakkan Ekonomi
"Ekonomi bukan hanya soal angka. Ia juga soal harapan."
KETIKA dunia masih dibayangi ketegangan geopolitik, pasar global justru menunjukkan reaksi yang menarik.
Harapan tercapainya perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran membuat kekhawatiran terhadap inflasi global mereda.
Harga minyak cenderung terkendali, pasar keuangan menjadi lebih tenang, dan investor mulai melihat masa depan dengan lebih optimistis.
Bahkan ketika konflik belum benar-benar berakhir, ekspektasi positif sudah mampu mengubah perilaku ekonomi.
Fenomena ini mengingatkan kita bahwa perekonomian sering kali bergerak bukan karena apa yang terjadi hari ini, melainkan karena apa yang diyakini akan terjadi esok hari.
Ekonom peraih Nobel Robert Lucas melalui Rational Expectations Theory menjelaskan bahwa masyarakat dan pelaku ekonomi membentuk keputusan berdasarkan ekspektasi terhadap masa depan.
Investor membeli saham bukan karena keuntungan perusahaan hari ini, tetapi karena mereka memperkirakan keuntungan yang lebih baik di masa mendatang.
Baca juga: Senyum Menkeu dan Rupiah yang Tidak Ikut Tersenyum
Pengusaha memperluas usaha bukan karena permintaan saat ini tinggi, melainkan karena mereka yakin pasar akan tumbuh.
Rumah tangga berani membeli rumah atau kendaraan karena percaya penghasilannya akan tetap terjaga.
Dengan kata lain, harapan bukan sekadar perasaan. Harapan adalah variabel ekonomi.
Optimisme Jadi Energi Ekonomi
Jauh sebelum Lucas, ekonom legendaris John Maynard Keynes telah memperkenalkan konsep animal spirits.
Dalam bukunya The General Theory of Employment, Interest and Money (1936), Keynes menjelaskan bahwa keputusan ekonomi sering kali dipengaruhi oleh optimisme, keyakinan, dan keberanian mengambil risiko.
Ketika masyarakat optimistis, mereka lebih berani berinvestasi, membuka usaha, dan melakukan konsumsi.
Sebaliknya, ketika pesimisme mendominasi, uang cenderung disimpan, investasi ditunda, dan aktivitas ekonomi melambat.
Di sinilah letak kekuatan harapan. Ia bekerja layaknya energi yang menggerakkan mesin ekonomi. Tidak terlihat, tetapi dampaknya nyata.
Kita dapat melihat contoh sederhana pada sektor properti. Ketika masyarakat percaya suku bunga akan turun dan ekonomi membaik, penjualan rumah meningkat, bahkan sebelum kebijakan tersebut benar-benar berlaku.
Optimisme menciptakan aktivitas ekonomi yang pada akhirnya menghasilkan pertumbuhan nyata.
Baca juga: Begal, Tembak di Tempat, dan Cermin Negara
Harapan yang positif sering kali menjadi ramalan yang mewujudkan dirinya sendiri (self-fulfilling prophecy).
Ketika banyak orang yakin ekonomi akan membaik, mereka bertindak seolah-olah perbaikan itu akan terjadi. Tindakan kolektif tersebut kemudian benar-benar mendorong ekonomi ke arah yang lebih baik.
Perkembangan ilmu ekonomi modern semakin mengakui bahwa manusia tidak selalu bertindak sepenuhnya rasional.
Ekonom peraih Nobel Daniel Kahneman menunjukkan bagaimana persepsi, emosi, dan psikologi memengaruhi keputusan ekonomi sehari-hari.
Pasar keuangan adalah contoh paling nyata. Satu pernyataan kepala negara, satu hasil perundingan damai, bahkan satu sinyal kebijakan bank sentral dapat mengubah sentimen pasar global hanya dalam hitungan menit.
Karena itu, dalam ekonomi modern terdapat istilah market sentiment. Harga saham, nilai tukar, harga emas, hingga keputusan investasi sering kali dipengaruhi oleh persepsi kolektif masyarakat terhadap masa depan.
Bukan berarti fakta menjadi tidak penting. Namun, persepsi terhadap masa depan sering kali bergerak lebih cepat dibandingkan fakta itu sendiri.
Di sinilah ekonomi bertemu dengan psikologi. Kepercayaan menciptakan tindakan, tindakan menciptakan aktivitas ekonomi, dan aktivitas ekonomi menghasilkan pertumbuhan.
Indonesia Butuh Narasi Harapan
Pelajaran terbesar dari fenomena ini sesungguhnya sangat relevan bagi Indonesia.
Dalam beberapa tahun terakhir, ruang publik sering dipenuhi berbagai kekhawatiran: pelemahan rupiah, perlambatan ekonomi global, ketidakpastian geopolitik, hingga ancaman pemutusan hubungan kerja. Semua itu memang fakta yang perlu dihadapi dengan jujur.
Namun, bangsa tidak bisa hidup hanya dengan ketakutan. Pemerintah, dunia usaha, akademisi, media massa, dan masyarakat perlu membangun optimisme yang berbasis kenyataan.
Baca juga: Gelap Sumatera dan Kecemasan Sosial
Optimisme bukan berarti menutupi masalah. Optimisme adalah keyakinan bahwa masalah dapat diselesaikan melalui kerja bersama.
Ketika masyarakat percaya lapangan kerja akan bertambah, mereka lebih berani meningkatkan keterampilan. Ketika pelaku usaha yakin iklim investasi membaik, mereka memperluas kapasitas produksi.
Ketika investor percaya stabilitas ekonomi terjaga, modal akan masuk dan menciptakan peluang baru.
Ekonomi pada akhirnya bukan hanya persoalan modal, teknologi, atau sumber daya alam. Banyak negara memiliki sumber daya melimpah, tetapi gagal maju karena kehilangan kepercayaan terhadap masa depannya.
Sebaliknya, tidak sedikit negara yang mampu melompat jauh karena memiliki optimisme kolektif yang kuat.
Karena itu, menjaga harapan sama pentingnya dengan menjaga inflasi, nilai tukar, atau pertumbuhan ekonomi. Sebab harapan yang sehat melahirkan keberanian, keberanian melahirkan tindakan, dan tindakan melahirkan kemajuan.
Pada akhirnya, perekonomian bangsa tidak hanya dibangun oleh uang yang beredar di pasar, tetapi juga oleh keyakinan yang beredar di benak warganya.
Ketika harapan tumbuh, ekonomi menemukan tenaganya. Ketika optimisme terpelihara, masa depan menjadi lebih mungkin untuk diwujudkan.
Itulah sebabnya, dalam banyak kesempatan, harapan yang positif mampu mengubah wajah ekonomi jauh sebelum angka-angka statistik mencatat perubahannya.