IHSG Menghijau Meski FTSE Rebalancing, Bank Jumbo Jadi Penahan Koreksi
Pengunjung melintas di depan layar yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (24/4/2026).(ANTARA FOTO/Putra M. Akbar)
06:36
26 Mei 2026

IHSG Menghijau Meski FTSE Rebalancing, Bank Jumbo Jadi Penahan Koreksi

- Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil ditutup menguat pada perdagangan Senin (25/5/2026) meski pasar sempat dibayangi sentimen negatif rebalancing indeks FTSE Russell yang mengeluarkan sejumlah saham Indonesia dari indeks globalnya.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG ditutup naik 0,72 persen ke level 6.206,349. Penguatan indeks terutama ditopang kenaikan saham-saham big caps perbankan yang memiliki bobot dominan terhadap pergerakan IHSG.

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia Nafan Aji Gusta mengatakan, dampak rebalancing FTSE kali ini relatif terbatas karena saham-saham yang dikeluarkan tidak memiliki kontribusi dominan terhadap pembentukan arah indeks utama bursa domestik.

Menurut dia, saham-saham super big caps seperti PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), dan PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) masih menjadi penopang utama IHSG.

“Saham yang keluar seperti DSSA memang memiliki kapitalisasi pasar yang cukup besar, namun bobotnya terhadap pergerakan harian IHSG tidak se-signifikan saham super big caps seperti BBRI, BBCA, BMRI, atau TLKM,” ujar Nafan kepada Kompas.com, Senin (25/5/2026).

Baca juga: Usai FTSE Coret 4 Saham RI, Bos BEI Awasi Ketat Kepatuhan Free Float Emiten

Sentimen FTSE sebelumnya sempat menekan saham PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) yang anjlok 11,93 persen ke level Rp 480. Sepanjang perdagangan, saham emiten Grup Sinar Mas tersebut bergerak fluktuatif sebelum akhirnya ditutup di area terendah harian.

Tekanan terhadap DSSA muncul setelah FTSE Russell mengumumkan pengeluaran saham tersebut dari kategori large cap FTSE Global Equity Index Series (GEIS) akibat tingginya konsentrasi kepemilikan saham atau high shareholding concentration (HSC).

Namun, pelemahan DSSA tidak cukup menyeret IHSG ke zona merah karena pasar justru mendapatkan dukungan dari penguatan saham perbankan besar.

Saham BBRI ditutup melonjak 3,93 persen ke level Rp 3.170. Sementara BBCA menguat 3,39 persen menjadi Rp 6.100 dan BMRI naik 2,43 persen ke level Rp 4.220. Adapun saham TLKM turut menopang indeks dengan kenaikan 0,34 persen ke posisi Rp 2.930.

Baca juga: Sentimen FTSE, IHSG Diprediksi Menguat Terbatas Senin (25/5), Ritel Bisa Cermati Saham HRUM, MBMA, hingga CPIN

Investment Specialist PT Korea Investment and Sekuritas Indonesia (KISI) Azharys Hardian menilai ketahanan IHSG menunjukkan bahwa pengaruh FTSE terhadap pasar domestik relatif lebih kecil dibandingkan indeks global lain seperti MSCI.

“Ketahanan IHSG hari ini menunjukkan bahwa sentimen rebalancing FTSE memang tidak terlalu berdampak signifikan karena porsi indeks tersebut terhadap IHSG relatif lebih kecil jika dibandingkan dengan MSCI,” kata Azharys.

Selain faktor FTSE, pasar juga mulai mencermati kondisi likuiditas perdagangan pada pekan ini yang cenderung lebih terbatas karena berlangsung dalam periode short trading week.

Kondisi tersebut dinilai dapat meningkatkan volatilitas pasar dalam jangka pendek, terutama apabila terjadi aksi profit taking pada saham-saham big caps yang sebelumnya menopang penguatan IHSG.

Untuk perdagangan Selasa (26/5/2026), IHSG diperkirakan berpotensi bergerak dalam rentang 6.150 hingga 6.300 dengan peluang technical rebound tetap terbuka selama saham-saham perbankan besar masih menjadi motor penggerak indeks.

Baca juga: DSSA Efektif Didepak dari FTSE Russel Per 22 Juni, Investor Ritel Diminta Wait and See

Sebelumnya, FTSE Russell mengumumkan pengeluaran empat saham Indonesia dari indeks FTSE GEIS dalam laporan June 2026 Quarterly Review.

Selain DSSA, saham PT Daaz Bara Lestari Tbk (DAAZ) dikeluarkan dari kategori micro cap karena free float di bawah batas minimum. Kemudian saham PT Hillcon Tbk (HILL) dan PT Mulia Industrindo Tbk (MLIA) juga dikeluarkan karena tidak memenuhi kriteria surveillance stocks screen.

Keputusan tersebut efektif berlaku setelah penutupan perdagangan pada 19 Juni 2026, meski FTSE Russell masih membuka kemungkinan revisi hingga 5 Juni 2026.

Disclaimer: Artikel ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi menjadi tanggung jawab investor. Pastikan melakukan riset mandiri sebelum menentukan pilihan.

Tag:  #ihsg #menghijau #meski #ftse #rebalancing #bank #jumbo #jadi #penahan #koreksi

KOMENTAR