Booming F&B Indonesia, Tantangan Terbesar Justru Saat Ekspansi Cabang
Industri makanan dan minuman (F&B) di Indonesia masih mencatat pertumbuhan positif pada awal 2026.
Namun di balik tingginya pertumbuhan penjualan, pelaku usaha disebut mulai menghadapi tantangan baru ketika bisnis memasuki fase ekspansi cabang.
Data Bank Indonesia mencatat penjualan ritel tumbuh 6,5 persen secara tahunan pada Maret 2026.
Baca juga: Transaksi OVO Melonjak 79 Persen Saat Sahur, F&B Dominasi Offline
Ilustrasi UMKM.
Sementara kategori makanan dan minuman tercatat tumbuh 8,5 persen selama delapan bulan berturut-turut pada akhir tahun lalu.
Meski permintaan pasar meningkat, pertumbuhan jumlah outlet disebut tidak selalu diikuti dengan peningkatan profitabilitas bisnis.
Masalah operasional muncul saat bisnis berekspansi
Perusahaan teknologi software-as-a-service (SaaS) Mekari menyebut banyak bisnis F&B mulai kehilangan kendali operasional ketika jumlah cabang bertambah.
Permasalahan yang muncul antara lain pencatatan transaksi yang terfragmentasi antar-outlet, data stok yang tidak sinkron, hingga laporan keuangan yang baru dapat terlihat utuh setelah penutupan bulan.
Baca juga: Kala Rojali Marak, Omzet Ritel F&B Malah Merangkak Naik...
Perusahaan menyebut kondisi ini sebagai “silent killer” ekspansi bisnis.
“Stok bocor di outlet ketiga, harga jual tidak konsisten di outlet kelima, dan kas yang tidak pernah benar-benar bisa direkonsiliasi,” tulis perusahaan dalam keterangannya.
Fenomena tersebut disebut menjadi paradoks ekspansi, yakni ketika penambahan jumlah cabang tidak berjalan seiring dengan pertumbuhan keuntungan usaha.
Pengusaha perlu pemantauan real-time
Pengembangan lokasi wisata, pembangunan infrastruktur, dan pengalokasian dana diperlukan oleh UMKM.
Untuk menjawab tantangan tersebut, Mekari meluncurkan layanan point of sales (POS) yang ditujukan bagi sektor F&B dan retail.
Baca juga: Fenomena Rojali Dirasakan Ritel F&B, tapi Omzetnya Justru Naik
Perusahaan menyebut sistem POS saat ini tidak lagi hanya berfungsi sebagai mesin kasir, tetapi juga sebagai pusat kendali operasional bisnis sehari-hari.
Melalui fitur manajemen multi-cabang, pemilik usaha disebut dapat memantau performa outlet, kontribusi produk terhadap margin, hingga kondisi stok secara real-time dari satu dashboard terpusat.
Mekari menyebut pendekatan ini sebagai pergeseran dari “managing by report” menjadi “managing by signal”, di mana keputusan bisnis dilakukan berdasarkan kondisi operasional saat itu juga.
Selain itu, sistem tersebut juga diklaim terintegrasi dengan layanan akuntansi, pengelolaan marketplace, manajemen tenaga kerja, hingga perpajakan dalam ekosistem Mekari.
Banyak bisnis berhenti di outlet kedua atau ketiga
CEO Mekari Suwandi Soh mengatakan, tantangan terbesar bisnis F&B bukan hanya menarik pelanggan, melainkan menjaga operasional tetap terstruktur saat usaha berkembang.
“Selama bertahun-tahun mendampingi puluhan ribu bisnis di Indonesia, kami menemukan satu pola yang konsisten dan jarang diakui secara terbuka,” ujar Suwandi dalam keterangannya, Selasa (26/5/2026).
Menurut dia, banyak bisnis F&B gagal melanjutkan ekspansi karena kehilangan kendali terhadap data operasional mereka sendiri.
“Banyak bisnis hebat di Indonesia berhenti di outlet kedua atau ketiga, bukan karena kehabisan pelanggan, tetapi karena kehilangan kendali atas data mereka sendiri,” kata dia.
Baca juga: Lokasi Jadi Faktor Moncernya Bisnis F&B, Benarkah?
Ia menilai ekspansi bisnis seharusnya tidak hanya mengandalkan keberanian pelaku usaha, tetapi juga ditopang sistem pengelolaan data yang terintegrasi.
“Mekari POS dirancang untuk menjawab persoalan paling mendasar ini. Karena pada akhirnya, seorang pengusaha tidak seharusnya berekspansi dengan keberanian semata. Ia berhak berekspansi dengan keyakinan yang berbasis data,” ujar Suwandi.
Tag: #booming #indonesia #tantangan #terbesar #justru #saat #ekspansi #cabang