Rupiah Anjlok ke Rp 14.000 Per Dollar Singapura, Kekhawatiran Fiskal Jadi Sorotan
Ilustrasi rupiah, nilai tukar rupiah. Kenapa rupiah terus melemah. Penyebab nilai tukar rupiah melemah. Dampak rupiah melemah.(PEXELS/DEFRINO MAASY)
15:12
29 Mei 2026

Rupiah Anjlok ke Rp 14.000 Per Dollar Singapura, Kekhawatiran Fiskal Jadi Sorotan

Tekanan terhadap rupiah tidak hanya datang dari penguatan dolar Amerika Serikat (AS).

Pada perdagangan Jumat (29/5/2026), rupiah juga terpuruk terhadap dolar Singapura.

Mata uang Garuda sempat menyentuh level Rp 14.000 per dolar Singapura. Level tersebut menjadi salah satu titik terlemah sepanjang sejarah.

Kondisi ini memicu kekhawatiran di pasar keuangan tanah air.

Pelemahan rupiah terhadap mata uang Negeri Singa dinilai tidak semata-mata dipicu gejolak global.

Sejumlah faktor domestik juga membuat investor semakin berhati-hati terhadap aset Indonesia.

Baca juga: Rupiah Makin Terjepit, Dollar Singapura Tembus Rp 14.000, Rekor Terlemah Sepanjang Sejarah

Analis mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menilai pelemahan rupiah terhadap dolar Singapura masih berpotensi berlanjut dalam beberapa waktu ke depan.

Ia memperkirakan rupiah dapat bergerak menuju Rp 15.000 sampai Rp 16.000 per dolar Singapura jika tekanan di pasar keuangan domestik belum mereda.

“Jadi memang rupiah terhadap dollar Singapura itu sudah menyentuh ya mendekati level Rp 14.000, bahkan Rp 14.000 yang merupakan rekor terlemah sepanjang sejarah. Tetapi ada kemungkinan besar rupiah terhadap dollar Singapura itu akan menuju di level Rp 15.000- Rp 16.000,” ujar Ibrahim saat dihubungi Kompas.com, Jumat sore ini.

Menurut Ibrahim, salah satu faktor utama yang menekan rupiah berasal dari meningkatnya kekhawatiran investor terhadap kondisi fiskal Indonesia.

Berbagai program pemerintah yang membutuhkan anggaran besar dinilai memunculkan pertanyaan mengenai keberlanjutan pengelolaan fiskal dan kesehatan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

“Ya kenapa? saya katakan rupiah terhadap dolar Singapura itu Rp 14.000 sampai Rp 15.000 karena masalah fundamental dalam negeri yang menurut saya manajemen yang amburadul,” paparnya.

Baca juga: Dollar Singapura Tembus Rp 14.000, Masyarakat Menengah RI Kena Imbas

Ibrahim juga menyoroti sejumlah program strategis pemerintah yang memerlukan alokasi dana besar, seperti program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Meski sebagian kebutuhan anggaran program tersebut telah mengalami penyesuaian, pasar dinilai masih mencermati dampaknya terhadap fiskal nasional.

Ibrahim juga menyoroti program Koperasi Desa Merah Putih atau Kopdes.

Menurut dia, program tersebut masih memunculkan berbagai pandangan di kalangan pelaku ekonomi dan investor terkait efektivitas serta prospek keberhasilannya dalam jangka panjang.

“Kita tahu bahwa banyak sekali program-program pemerintah ya yang jumbo, yang besar dan membuat kekhawatiran tentang defisit anggaran terutama MBG dan Koperasi Merah Putih. Nah walaupun MBG itu sudah sebagian ditutup ya, tetapi ini sebelumnya dampaknya cukup luar biasa ya di atas Rp 300 triliun dana yang digunakan untuk MBG,” tukas dia.

Meningkatnya kehati-hatian investor tersebut diyakini berdampak pada derasnya arus keluar modal asing atau capital outflow dari pasar keuangan Indonesia.

Saat investor global mengurangi eksposur terhadap aset domestik, permintaan terhadap rupiah ikut menurun.

Tekanan terhadap nilai tukar pun menjadi semakin besar.

Mata uang sejumlah negara kawasan justru menunjukkan penguatan.

Menurut Ibrahim, pelemahan rupiah tidak hanya terjadi terhadap dolar Singapura.

Rupiah juga melemah terhadap sejumlah mata uang regional lain, seperti ringgit Malaysia, yuan China, dan dolar Hong Kong.

“Kita melihat bukan hanya terhadap dollar Singapura, tetapi juga terhadap ringgit Malaysia, yuan, dan dollar Hong Kong yang menunjukkan pelemahan rupiah cukup signifikan,” ujarnya.

Selain faktor domestik, kebijakan moneter Singapura juga menjadi salah satu alasan dolar Singapura tampil lebih kuat dibanding rupiah.

Otoritas moneter Singapura telah mengambil langkah antisipatif menghadapi ketidakpastian global.

Salah satu pemicunya adalah konflik geopolitik di Timur Tengah yang berpotensi mengganggu jalur perdagangan energi dunia melalui Selat Hormuz.

Singapura menerapkan kebijakan nilai tukar terarah atau managed float untuk menjaga stabilitas mata uang dan mengendalikan inflasi impor.

“Kita melihat bahwa pada saat gonjang-ganjing tentang masalah geopolitik di Timur Tengah ya selat Hormuz ditutup yang dilakukan oleh otoritas moneter di Singapura ya ini menerapkan kebijakan nilai tukar yang terarah, managed float,” katanya.

Ibrahim menilai langkah tersebut membuat dolar Singapura semakin menarik sebagai instrumen lindung nilai atau safe haven di kawasan.

Saat ketidakpastian global meningkat, investor cenderung mencari aset yang dinilai lebih aman dan stabil, termasuk dolar Singapura.

Tag:  #rupiah #anjlok #14000 #dollar #singapura #kekhawatiran #fiskal #jadi #sorotan

KOMENTAR