Harga Gas dan Rupiah Tekan Industri Keramik, Concord Tetap Optimistis
– Industri keramik nasional menghadapi tekanan biaya produksi akibat lonjakan harga gas dan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS. Kondisi tersebut dinilai dapat memengaruhi daya saing industri manufaktur.
Namun, PT Concord Industry mengaku tetap optimistis menjaga pertumbuhan usaha melalui inovasi produk dan pengembangan pasar.
Vice Director Ceramics Tile PT Concord Industry Herman Hamzah mengatakan, harga gas yang menjadi salah satu komponen utama dalam proses produksi keramik mengalami kenaikan signifikan dalam beberapa waktu terakhir.
Baca juga: Gas Mahal, Pelaku Industri Keramik Desak PGN Transparan soal Struktur Harga Gas
"Harga gas yang sebelumnya berada di kisaran 6 dollar AS per MMBTU kini meningkat menjadi sekitar 21 dollar AS per MMBTU dan masih berpotensi naik lagi. Di sisi lain, pelemahan nilai tukar rupiah yang mendekati Rp 18.000 per dollar AS juga memberikan tekanan tambahan bagi industri," kata Herman, Sabtu (6/6/2026).
Menurut Herman, kenaikan biaya energi dan pelemahan kurs memaksa pelaku industri melakukan berbagai penyesuaian agar operasional perusahaan tetap berjalan dan keberlangsungan usaha dapat terjaga.
Industri keramik butuh dukungan
Herman menilai industri keramik nasional membutuhkan dukungan pemerintah, khususnya melalui kebijakan energi yang lebih kompetitif bagi sektor manufaktur.
Menurut dia, produk keramik dan granit bukan termasuk kebutuhan primer masyarakat sehingga kenaikan harga berpotensi memengaruhi permintaan pasar dan aktivitas pembangunan.
Baca juga: PGN Buka Suara soal Harga Gas Industri Keramik yang Naik 60 Persen
"Produk keramik dan granit memang bukan kebutuhan primer. Kenaikan harga akan sangat memengaruhi permintaan dan kelangsungan proyek-proyek pembangunan," ujarnya.
Ia menambahkan, industri keramik nasional selama ini telah berupaya mempertahankan investasi, membuka lapangan kerja, serta menghasilkan produk dalam negeri yang mampu bersaing di pasar.
"Kami terus berkomitmen mendukung industri nasional dan menyediakan lapangan pekerjaan. Namun, apabila biaya produksi terus meningkat, tentu akan menjadi tantangan besar bagi keberlangsungan industri. Kami berharap ada solusi yang dapat menjaga daya saing industri keramik Indonesia," kata Herman.
Concord tetap kembangkan produk
Di tengah tekanan biaya produksi, Concord Industry mengaku tetap optimistis menghadapi tantangan pasar dengan terus menghadirkan produk baru yang didukung teknologi modern dan desain yang lebih inovatif.
"Kami berharap inovasi teknologi dan desain yang lebih baik dapat menjadi nilai tambah bagi konsumen sehingga produk kami tetap kompetitif di pasar," ujar Herman.
Baca juga: Harga Gas Bumi Mau Naik Lagi, Industri Keramik Mode “SOS”
Ia menjelaskan, Concord Industry didirikan oleh Lin Kuang Ming pada 2011 dan mulai menjalankan produksi di pabrik yang berlokasi di Karawang Timur, Jawa Barat, pada 2015.
Menurut dia, perusahaan yang awalnya hanya memproduksi keramik kini telah berkembang hingga mampu menghasilkan granit berukuran 60 x 120 sentimeter untuk memenuhi kebutuhan pasar yang terus berkembang.
"Perjalanan kami dimulai dari produksi keramik, dan kami telah berkembang hingga memproduksi granit dengan berbagai ukuran. Kami juga memiliki sejumlah merek unggulan untuk memenuhi kebutuhan konsumen di berbagai segmen pasar," katanya.
Pada kategori keramik, Concord Industry memiliki sejumlah merek, yakni Concord, Icarus, Delta, Hector, dan Gracia.
Sementara itu, pada kategori granit, perusahaan memasarkan merek Concord, Pavia, dan Fortuna. Adapun Fortuna diposisikan sebagai merek yang menyasar segmen pasar tertentu.
Baca juga: Industri Keramik Siap Bangkit, Investasi Rp 5 Triliun Segera Mengalir
Herman menegaskan perusahaan akan terus menghadirkan berbagai produk keramik dan granit guna memenuhi kebutuhan pasar domestik maupun mendukung berbagai proyek pembangunan di Indonesia.
Industri keramik nasional menghadapi tekanan biaya produksi akibat lonjakan harga gas dan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS.
Pemerintah bidik RI masuk empat besar produsen keramik dunia
Di tengah tantangan yang dihadapi industri, pemerintah terus mendorong penguatan daya saing sektor keramik nasional agar mampu meningkatkan kapasitas produksi dan memperluas pangsa pasar, baik di dalam maupun luar negeri.
Wakil Menteri Perindustrian Faisol Riza mengatakan Indonesia saat ini berada di jajaran lima besar produsen keramik dunia bersama China, India, Brasil, dan Vietnam.
Pemerintah menargetkan Indonesia dapat masuk ke jajaran empat besar produsen keramik dunia dalam beberapa tahun ke depan.
Menurut Faisol, target tersebut didukung oleh kapasitas produksi yang besar, ketersediaan bahan baku domestik, serta berbagai kebijakan yang mendukung penguatan industri dalam negeri.
Baca juga: Industri Keramik Nasional Tertekan: Krisis Gas, Biaya, dan Ancaman Impor
Saat ini kapasitas produksi terpasang industri keramik nasional mencapai sekitar 650 juta meter persegi per tahun dengan tingkat utilisasi produksi sebesar 73 persen. Industri tersebut juga menyerap lebih dari 150.000 tenaga kerja.
"Dengan struktur industri yang kuat dan berbasis sumber daya alam lokal, kondisi tersebut menjadikan industri keramik sebagai salah satu sektor yang memiliki prospek pasar yang terus berkembang," kata Faisol, Kamis (4/6/2026).
Kinerja industri keramik juga menunjukkan tren positif. Pada triwulan I 2026, subsektor industri barang galian bukan logam yang mencakup industri keramik tumbuh 9,12 persen dan menjadi salah satu dari tiga subsektor industri dengan pertumbuhan tertinggi.
Menurut Faisol, meningkatnya pembangunan infrastruktur, kawasan industri, dan sektor properti diyakini akan terus mendorong permintaan produk keramik nasional.
Untuk menjaga daya saing industri, pemerintah terus menjalankan sejumlah kebijakan strategis, antara lain pemberian fasilitas Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT), pemberlakuan Standar Nasional Indonesia (SNI) wajib, pengamanan perdagangan melalui instrumen safeguard dan bea masuk anti-dumping (BMAD).
Baca juga: Industri Keramik RI Bidik Momentum Ekspansi Regional
Selanjutnya, percepatan implementasi Making Indonesia 4.0, penguatan Standar Industri Hijau, serta peningkatan penggunaan produk dalam negeri melalui kebijakan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN).
Selain itu, Kementerian Perindustrian juga memperkuat pasar domestik melalui optimalisasi kebijakan Peningkatan Penggunaan Produk Dalam Negeri (P3DN).
Upaya tersebut diperkuat melalui penerbitan Peraturan Menteri Perindustrian Nomor 35 Tahun 2025 tentang Ketentuan dan Tata Cara Sertifikasi Tingkat Komponen Dalam Negeri dan Bobot Manfaat Perusahaan guna memperluas penggunaan produk keramik dalam proyek pemerintah maupun badan usaha milik negara (BUMN).
Tag: #harga #rupiah #tekan #industri #keramik #concord #tetap #optimistis