100 Hari Perang AS-Iran, Upaya Damai Masih Jauh dari Kesepakatan
Kapal-kapal terlihat mengantre di Selat Hormuz, saat difoto dari Bandar Abbas, Iran selatan, 4 Mei 2026.(ISNA/AMIRHOSSEIN KHORGOOEI via AFP)
21:20
7 Juni 2026

100 Hari Perang AS-Iran, Upaya Damai Masih Jauh dari Kesepakatan

– Upaya Amerika Serikat (AS) dan Iran untuk mencapai kesepakatan sementara guna mengakhiri konflik yang telah berlangsung selama 100 hari masih menghadapi jalan terjal.

Di tengah perundingan yang mandek, serangkaian serangan baru kembali menguji ketahanan gencatan senjata yang telah berlaku sejak awal April.

Dikutip dari Bloomberg, Minggu (7/6/2026), ketegangan dalam sepekan terakhir menjadi yang paling serius sejak gencatan senjata dimulai sekitar 8 April 2026.

Baca juga: AS Tembak Jatuh 2 Drone Iran di Selat Hormuz, Bagaimana Nasib Gencatan Senjata?

Perundingan antara Washington dan Teheran tersendat akibat perbedaan pandangan mengenai nasib miliaran dollar AS aset Iran yang dibekukan, serta konflik paralel antara Israel dan kelompok Hizbullah yang didukung Iran di Lebanon.

Serangan berlanjut di Selat Hormuz

Komando Pusat Militer AS (Centcom) pada Minggu dini hari mengumumkan berhasil menembak jatuh dua drone serang Iran yang dinilai mengancam lalu lintas pelayaran internasional di Selat Hormuz.

Jalur perairan tersebut merupakan salah satu rute paling vital bagi ekspor energi dunia dan menjadi isu utama dalam pembahasan antara AS dan Iran.

Sebelumnya pada Jumat (5/6/2026), enam rudal balistik yang mengarah ke Bahrain dan Kuwait berhasil dicegat. Satu rudal lainnya gagal mencapai sasaran.

Dalam insiden terpisah beberapa jam sebelumnya, empat wahana tanpa awak yang bergerak menuju Selat Hormuz juga ditembak jatuh.

Baca juga: AS Serang Radar Iran, Konflik di Selat Hormuz Memanas

Centcom menyebut AS turut melancarkan serangan terhadap fasilitas radar pengawasan pantai Iran di Goruk dan Pulau Qeshm.

Sejak AS dan Israel mulai menyerang Iran pada 28 Februari 2026, Teheran dan kelompok-kelompok sekutunya melancarkan serangan rudal serta drone ke infrastruktur minyak, kawasan industri, dan fasilitas militer AS di kawasan Teluk.

Akibatnya, sejumlah negara seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Kuwait, dan Bahrain dilaporkan mengalami kerusakan.

Sengketa aset Iran yang dibekukan hambat negosiasi

Di Washington, pemerintahan Presiden Donald Trump disebut tengah mengusulkan penggunaan aset Iran yang dibekukan di AS untuk membantu negara-negara Teluk memperbaiki kerusakan akibat serangan yang dikaitkan dengan Iran.

Namun, Teheran menolak gagasan tersebut dan menuntut agar seluruh aset yang dibekukan segera dicairkan.

Baca juga: Pakistan Kirim Surat Khusus ke Pemimpin Tertinggi Iran, Ada Apa di Baliknya?

Perbedaan sikap itu berpotensi menggagalkan pembahasan mengenai perpanjangan gencatan senjata, pembukaan kembali Selat Hormuz, serta perundingan lanjutan terkait program nuklir Iran.

Pakistan turut berperan sebagai mediator dalam upaya diplomatik tersebut.

Kementerian Luar Negeri Iran pada Minggu mengungkapkan Menteri Dalam Negeri Pakistan Mohsin Naqvi bertemu diplomat senior Iran Abbas Araghchi di Teheran dan menyampaikan surat dari Perdana Menteri Pakistan kepada pemimpin tertinggi Iran.

Namun, isi surat tersebut tidak diungkapkan kepada publik.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump saat menghadiri acara kesehatan di South Court Auditorium, Gedung Putih, Washington DC, 18 Mei 2026. AS Serang Iran Setelah Laporan Kesepakatan Perang Bertentangan, Situs Militer Jadi Sasaran
AFP/KENT NISHIMURA Presiden Amerika Serikat Donald Trump saat menghadiri acara kesehatan di South Court Auditorium, Gedung Putih, Washington DC, 18 Mei 2026. AS Serang Iran Setelah Laporan Kesepakatan Perang Bertentangan, Situs Militer Jadi Sasaran

Trump akui Iran masih punya kekuatan militer

Meski selama berbulan-bulan menyatakan Iran berada di ambang kehancuran, Trump pada Jumat mengakui Teheran masih memiliki kemampuan militer yang signifikan.

Dalam wawancara dengan NBC News saat berkunjung ke Wisconsin, Trump mengatakan sekitar 21 persen hingga 22 persen persediaan rudal Iran masih tersisa.

"Itu masih jumlah rudal yang banyak, tetapi tidak sebanyak saat pertama kali kami menyerang," kata Trump.

Pada hari yang sama, Trump juga menyatakan AS "meraih keberhasilan besar terhadap Iran" dan menegaskan Iran saat ini tidak berada dalam posisi untuk mengembangkan senjata nuklir.

Baca juga: AS Akan Bangun Kembali Negara Teluk, Disebut Pakai Aset Iran

Gencatan senjata hadapi ujian terbesar

Gencatan senjata menghadapi ujian terberat pada Rabu (3/6/2026) ketika serangan Iran menewaskan satu orang di bandara utama Kuwait serta melukai puluhan lainnya.

Bahrain juga menjadi sasaran serangan pada hari yang sama.

Sebagai respons, AS menyerang sebuah kapal tanker minyak yang sedang menuju Iran.

Kuwait menjadi salah satu target utama serangan Iran selama periode gencatan senjata berlangsung.

Di saat bersamaan, pertempuran antara militer Israel dan Hizbullah masih berlanjut.

Pasukan Pertahanan Israel (IDF) menyatakan berhasil mencegat dua proyektil yang ditembakkan dari Lebanon ke wilayah Israel pada Minggu.

Pekan lalu, Hizbullah menolak gencatan senjata antara Israel dan Lebanon yang dimediasi AS dan diumumkan Departemen Luar Negeri AS hanya beberapa jam sebelumnya.

Iran juga menegaskan bahwa penghentian konflik di Lebanon merupakan syarat penting sebelum kesepakatan dengan AS dapat tercapai.

Seorang penasihat militer Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei bahkan mengatakan kepada CNN bahwa "bola kini berada di tangan Trump" terkait kemungkinan tercapainya kesepakatan.

Baca juga: Sempat Klaim Hancur, Trump Kini Sebut Iran Masih Punya 22 Persen Rudal

Harga minyak dunia tetap tinggi

Penutupan efektif Selat Hormuz sejak perang pecah turut mengguncang pasar energi global.

Gangguan terhadap jalur perdagangan minyak utama dunia itu memicu lonjakan harga minyak dan meningkatkan kekhawatiran terhadap gelombang inflasi baru di berbagai negara.

Kenaikan harga bahan bakar juga menjadi isu sensitif bagi pemilih AS menjelang pemilu paruh waktu yang akan berlangsung dalam beberapa bulan ke depan.

Meski demikian, Trump berupaya meredam kekhawatiran pasar.

"Orang-orang mengira situasinya akan jauh lebih buruk. Hari ini saya melihat harga sekitar 96 dollar AS per barrel, padahal sebelumnya banyak yang memperkirakan bisa mencapai 300 dollar AS per barrel," ujar Trump kepada wartawan.

Pada akhir pekan, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) ditutup di atas level 90 dollar AS per barrel, sementara minyak Brent berada di kisaran 93 dollar AS per barrel.

Meski telah turun dari puncak tertinggi sejak perang dimulai pada 28 Februari 2026 lalu, harga minyak masih jauh lebih tinggi dibandingkan sebelum konflik pecah.

Tag:  #hari #perang #iran #upaya #damai #masih #jauh #dari #kesepakatan

KOMENTAR