Minyak Melebihi Harga Kewarasan
Kapal-kapal melintasi Selat Hormuz pada 24 Juni 2025, saat difoto dari pesisir Khasab, Semenanjung Musandam, Oman.(AFP/GIUSEPPE CACACE)
07:35
30 Mei 2026

Minyak Melebihi Harga Kewarasan

SKENARIONYA sudah terlalu sering berulang untuk disebut kebetulan. Amerika Serikat menyerang lokasi militer Iran di selatan. Teheran menyebut itu pelanggaran gencatan senjata.

Harga minyak Brent melonjak lebih dari tiga persen dalam satu sesi perdagangan. Lalu negosiasi dilanjutkan, harga sedikit turun. Tembakan berikutnya datang, dan harga naik lagi.

Siklus ini sudah berlangsung hampir tiga bulan; sejak akhir Februari 2026 tanpa tanda-tanda benar-benar selesai.

Kita perlu mundur sejenak dan membaca pola ini secara utuh.

Pada Januari 2026, rata-rata harga minyak Brent hanya berada di kisaran 64 dollar AS per barel. OPEC+ menahan produksi karena takut pasar kelewat jenuh. Analis berbicara tentang oversupply. Dan dunia nyaris lupa bahwa energi bisa menjadi senjata.

Lalu datanglah 28 Februari 2026. Serangan militer gabungan AS dan Israel ke sejumlah lokasi strategis di Iran memicu eskalasi yang tidak ada dalam satu pun model risiko geopolitik standar: Iran menutup Selat Hormuz.

Bukan ancaman. Bukan gertakan, tapi gangguan nyata atas jalur pelayaran yang di titik tersempitnya hanya selebar 34 kilometer, yang setiap harinya mengalirkan sekitar 20 juta barel minyak mentah, hampir seperlima pasokan minyak dunia.

Baca juga: Apa yang Salah Ketika Rupiah Terus Melemah?

Dalam hitungan pekan, Brent menembus 100 dollar AS per barel. Pada puncaknya di awal April, harga spot harian menyentuh 138 dollar AS per barel; level tertinggi sejak Juni 2022, menurut EIA.

Tiga bulan setelah krisis dimulai, kita belum juga keluar dari terowongan.

Untuk memahami mengapa, kita perlu membaca anatomi Selat Hormuz. Melalui celah sempit itu mengalir seperlima konsumsi minyak global, seperempat perdagangan minyak maritim dunia, dan hampir seperlima perdagangan LNG dunia.

Ini adalah aorta ekonomi global. Dan aorta itu belum sepenuhnya terbuka.

Angka-angkanya bicara sendiri. Data OPEC+ mencatat produksi minyak mentah anjlok 7,7 juta barel per hari hanya dalam satu bulan.

IEA mencatat persediaan minyak global turun sekitar 250 juta barel dalam Maret dan April saja; setara 4 juta barel per hari yang raib dari pasar.

Goldman Sachs memperkirakan kehilangan produksi Timur Tengah mencapai 14,5 juta barel per hari pada puncak krisis.

Di tengah kekeringan pasokan ini, pasar sesekali menemukan secercah harapan. Trump mengklaim kesepakatan awal gencatan senjata 'hampir rampung'; draf yang dikerjakan di Qatar mencakup perpanjangan gencatan senjata selama 60 hari, pembukaan kembali Selat Hormuz, dan dimulainya negosiasi nuklir.

Iran bahkan disebut setuju membersihkan ranjau laut yang telah dipasangnya. Harga terjun setiap kali kabar ini beredar.

Namun, kemudian serangan berikutnya datang. Dan harga kembali naik.

Ini bukan volatilitas biasa. Ini adalah pasar yang sedang hidup dalam ketidakpastian eksistensial.

Baca juga: Rapuhnya Kelas Pekerja: Saatnya Merevisi Garis Kemiskinan

UBS mencatat stok minyak global turun 246 juta barel sepanjang Maret dan April, dan memperingatkan bahwa kerugian produksi kumulatif bisa melebihi satu miliar barel pada akhir Mei.

Stok komersial minyak negara-negara maju kini berada 173,5 juta barel di bawah rata-rata historis 2015–2019. Bantalan yang selama ini menahan harga: cadangan strategis, tanker-tanker yang sudah terisi, jalur ekspor alternatif, perlahan habis.

Pada puncak kepanikan April akhir, IEA sempat mencatat harga North Sea Dated menyentuh 144 dollar AS per barel, sebelum terpangkas kembali setelah sinyal damai. Angka itu adalah cermin dari apa yang bisa terjadi jika negosiasi Qatar gagal dan konflik kembali meningkat.

Dan Indonesia berdiri di ujung setiap angka itu.

Sebagai negara net importir minyak, setiap kenaikan satu dolar harga minyak dunia menambah beban subsidi sekitar Rp 7 triliun pada APBN.

Target defisit 2026 ditetapkan Rp 638,8 triliun atau 2,48 persen PDB. Namun, simulasi Kabinet Paripurna Maret 2026 sudah memberi sinyal yang tidak bisa diabaikan: dengan harga minyak di kisaran 97 dollar AS, defisit berpotensi melebar ke 3,53 persen PDB; melampaui batas hukum tiga persen.

Dalam skenario dengan harga di atas 115 dollar AS, angkanya bisa menembus 4 persen. Harga minyak saat ini sudah jauh melewati angka itu.

Pemerintah dihadapkan pada pilihan yang tidak pernah memiliki jawaban elok: naikkan harga BBM bersubsidi dan picu inflasi yang menekan daya beli masyarakat bawah, atau pertahankan subsidi dan korbankan ruang fiskal untuk pendidikan, kesehatan, infrastruktur. Pilihan buruk versus pilihan yang lebih buruk.

Hingga hari ini, BBM bersubsidi masih tidak berubah. Namun, setiap hari harga minyak bertahan di atas seratus dolar, 'tidak berubah' itu makin mahal biayanya.

Mengapa pasar belum benar-benar panik penuh, meski semua tekanan ini nyata?

Karena pasar adalah mesin optimisme. Ia selalu mendiskon kemungkinan penyelesaian. Setiap kali Rubio bicara soal 'kemajuan signifikan', harga jatuh. Setiap kali IRGC menembak pesawat AS yang memasuki wilayah udara Iran, harga naik.

Pasar sedang bermain tebak-tebakan dengan sejarah, sambil melupakan bahwa sejarah tidak pernah mengalah kepada taruhan.

Dan ada satu hal yang pasar juga sedang lupakan: bahkan jika gencatan senjata ditandatangani besok, pemulihan tidak akan instan.

Baca juga: Mode Bertahan Kelas Menengah Indonesia

Hormuz harus dibersihkan dari ranjau. Asuransi maritim harus dipulihkan. Kapal-kapal tanker yang selama tiga bulan tidak berani melintas harus dijadwalkan ulang.

Infrastruktur kilang yang mengalami gangguan perlu waktu untuk kembali normal. Para ekonom memperkirakan normalisasi penuh membutuhkan waktu berbulan-bulan, bahkan dalam skenario damai terbaik.

Pertanyaan 'sampai di mana harga minyak akan pergi?' sebenarnya adalah pertanyaan yang salah.

Pertanyaan yang benar adalah: mengapa kita masih membangun peradaban yang begitu rapuh terhadap satu titik sempit di peta?

Selat Hormuz bukan anomali, ia adalah simptom dari ketergantungan struktural yang belum berhasil kita putus selama setengah abad.

Setiap guncangan energi besar: 1973, 1979, perang Teluk 1990, krisis energi Eropa 2022, dan kini 2026, mengajarkan pelajaran yang sama. Dan setiap kali, kita lulus ujian darurat, lalu melupakan pelajarannya begitu harga kembali normal.

Lonjakan yang kita saksikan hari ini bukan sekadar guncangan pasar komoditas. Ia adalah cermin yang memantulkan wajah dunia yang tahu persis di mana titik-titik lemahnya, tapi terus memilih untuk tidak memperbaikinya selama keadaan masih cukup nyaman.

Setiap krisis seharusnya menjadi jendela untuk mempercepat transisi: diversifikasi sumber energi, memperkuat cadangan strategis, dan membangun ketahanan fiskal yang tidak tergantung pada satu variabel geopolitik yang bisa meledak kapan saja.

Pertanyaannya bukan apakah kita mampu. Pertanyaannya adalah apakah kita akan melakukannya sebelum krisis berikutnya memaksa kita. Dan krisis berikutnya, seperti minyak murah, hanya soal waktu.

Tag:  #minyak #melebihi #harga #kewarasan

KOMENTAR