Pertumbuhan Tinggi, Kegelisahan Tak Mau Pergi
Ilustrasi pertumbuhan ekonomi(shutterstock.com)
11:36
2 Juni 2026

Pertumbuhan Tinggi, Kegelisahan Tak Mau Pergi

INDONESIA sedang berada dalam sebuah paradoks ekonomi. Di satu sisi, angka-angka makro menunjukkan daya tahan yang relatif kuat.

Pertumbuhan ekonomi kuartal I-2026 mencapai 5,61 persen, lebih tinggi dibandingkan periode sebelumnya.

Inflasi masih berada dalam rentang yang relatif terkendali. Sistem perbankan tetap likuid. Pemerintah, Bank Indonesia, dan otoritas keuangan juga terus menyampaikan optimisme bahwa fondasi ekonomi nasional masih cukup kuat. 

Namun di sisi lain, kegelisahan masyarakat justru terasa semakin nyata. Rupiah melemah hingga mendekati level terlemah dalam sejarah.

Harga kebutuhan hidup perlahan naik. Lapangan kerja berkualitas belum tumbuh secepat harapan.

Baca juga: Merawat Kesaktian Pancasila Hari Ini

Sebagian kelas menengah mulai merasa kemampuan ekonominya tidak berkembang secepat biaya hidup yang harus ditanggung.

Mengapa hal ini terjadi? Inilah wajah ekonomi Indonesia saat ini: tumbuh, tetapi belum sepenuhnya menenangkan.

Ketika Angka Makro dan Perasaan Publik Tidak Bertemu

Banyak orang bertanya, bagaimana mungkin ekonomi tumbuh 5,61 persen tetapi masyarakat masih mengeluh?

Jawabannya sederhana. Pertumbuhan ekonomi tidak selalu otomatis berarti kesejahteraan dirasakan merata.

Pertumbuhan ekonomi adalah angka agregat. Ia menunjukkan bahwa aktivitas ekonomi secara keseluruhan meningkat.

Tetapi pertumbuhan belum tentu menjawab pertanyaan yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari: apakah pendapatan masyarakat meningkat?

Apakah pekerjaan semakin berkualitas? Apakah daya beli membaik? Di sinilah letak persoalannya.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia memang cukup tinggi dibanding banyak negara lain. Bahkan Reuters mencatat pertumbuhan kuartal pertama 2026 merupakan yang tercepat dalam lebih  dari tiga tahun terakhir. 

Namun sebagian pertumbuhan tersebut masih ditopang oleh belanja pemerintah, program stimulus, dan momentum konsumsi musiman.

Sementara dunia usaha masih menghadapi ketidakpastian global yang tinggi.

Investor juga masih berhati-hati membaca arah ekonomi dunia.  Akibatnya, masyarakat tidak selalu merasakan pertumbuhan itu secara langsung.

Jika ada satu indikator yang paling menggambarkan kegelisahan ekonomi saat ini, mungkin jawabannya adalah rupiah.

Dalam beberapa bulan terakhir, nilai tukar rupiah mengalami tekanan yang cukup berat.

Pelemahan ini dipengaruhi perang Timur Tengah, tingginya suku bunga global, arus modal keluar, hingga meningkatnya permintaan dolar AS sebagai aset aman. 

Baca juga: Keluar dari Bayang-bayang Utang

Dalam perspektif ekonomi, rupiah saat ini seolah menjadi shock absorber utama.

Ketika pemerintah berusaha menjaga harga BBM, menjaga inflasi, dan menahan gejolak sosial, sebagian tekanan ekonomi akhirnya berpindah ke pasar valuta asing.

Seorang ekonom bahkan menggambarkannya dengan kalimat yang menarik: inflasi ditahan, harga energi ditahan, tetapi tekanannya berpindah ke kurs. 

Karena itu, meskipun inflasi masih relatif rendah, masyarakat tetap merasakan tekanan melalui kenaikan harga barang impor, bahan baku, biaya pendidikan, perjalanan luar negeri, hingga berbagai kebutuhan yang memiliki kandungan impor tinggi.

Dunia Sedang Tidak Baik-baik Saja

Kondisi ekonomi Indonesia juga tidak bisa dilepaskan dari situasi global.

Perang di Timur Tengah telah meningkatkan risiko harga energi dunia.

Ketegangan geopolitik membuat investor global cenderung menarik dana dari negara berkembang menuju aset yang dianggap lebih aman.

Pada saat yang sama, kebijakan suku bunga Amerika Serikat masih relatif ketat sehingga memperkuat dolar AS. 

Dalam situasi seperti ini, hampir seluruh negara berkembang menghadapi tekanan yang serupa.

Karena itu, tidak tepat jika seluruh pelemahan rupiah atau gejolak pasar langsung dianggap sebagai kegagalan domestik. Sebagian besar tekanan memang berasal dari luar negeri.

Namun bukan berarti Indonesia bebas dari pekerjaan rumah. Justru ketika dunia sedang bergejolak, kualitas kebijakan domestik menjadi semakin penting.

Di balik perdebatan soal rupiah, inflasi, atau suku bunga, tantangan terbesar Indonesia sebenarnya adalah produktivitas.

Ekonomi yang sehat bukan hanya tumbuh karena konsumsi, tetapi juga karena produktivitas meningkat.

Artinya, pekerja menghasilkan nilai tambah yang lebih tinggi, industri semakin efisien, teknologi berkembang, dan inovasi tumbuh.

Sayangnya, pertumbuhan produktivitas Indonesia belum secepat yang dibutuhkan untuk melompat menjadi negara berpendapatan tinggi.

Baca juga: Pancasila dalam Jiwa Anak yang Terluka

Inilah sebabnya mengapa pertumbuhan ekonomi sering terasa kurang kuat dalam menciptakan pekerjaan berkualitas dan meningkatkan pendapatan kelas menengah.

Pertanyaan strategis Indonesia ke depan bukan lagi sekadar bagaimana tumbuh 5 persen atau 6 persen, tetapi bagaimana membuat pertumbuhan itu menghasilkan nilai tambah yang lebih besar bagi masyarakat.

Maka bagaimana seharusnya kita membaca kondisi ekonomi Indonesia saat ini?

Pertama, tidak perlu terjebak pada narasi bahwa ekonomi Indonesia sedang runtuh.

Data belum menunjukkan kondisi krisis. Inflasi masih terkendali. Pertumbuhan masih positif. Sistem keuangan relatif stabil. 

Kedua, kita juga tidak boleh terjebak dalam euforia bahwa semuanya baik-baik saja.

Pelemahan rupiah, tekanan kelas menengah, menurunnya kepercayaan pasar, dan meningkatnya ketidakpastian global merupakan sinyal yang harus dibaca secara serius.

Bahkan lembaga pemeringkat internasional mulai memberikan peringatan terkait persepsi risiko kebijakan dan arah fiskal Indonesia. 

Karena itu, yang dibutuhkan bukan optimisme kosong ataupun pesimisme berlebihan. Yang dibutuhkan adalah kejujuran membaca realitas.

Ekonomi Indonesia hari ini masih memiliki daya tahan, tetapi daya tahan bukan berarti kebal terhadap risiko.

Pertumbuhan masih terjadi, tetapi pertumbuhan belum otomatis menghadirkan rasa aman. Stabilitas masih terjaga, tetapi stabilitas tidak boleh membuat kita lengah.

Pada akhirnya, ukuran keberhasilan ekonomi bukan hanya seberapa tinggi angka pertumbuhan diumumkan di layar konferensi pers, melainkan seberapa besar masyarakat merasakan hidupnya menjadi lebih baik.

Sebab ekonomi yang sehat bukan sekadar ekonomi yang tumbuh, melainkan ekonomi yang mampu menghadirkan harapan. Dan di tengah ketidakpastian global hari ini, harapan itulah yang justru menjadi komoditas paling mahal.

Tag:  #pertumbuhan #tinggi #kegelisahan #pergi

KOMENTAR