Bank di Indonesia Susut dari 240 Jadi 105, Ini Penyebabnya Menurut Perbanas
- Perhimpunan Bank Nasional (Perbanas) mencatat, jumlah bank di Indonesia terus mengalami penyusutan selama tiga dekade terakhir seiring berlangsungnya konsolidasi di industri perbankan.
Pada 30 tahun lalu jumlah bank umum nasional mencapai 240 bank namun seiring berjalannya waktu sekitar 135 bank terkonsolidasi sehingga pada saat ini tersisa 105 bank umum.
Wakil Ketua Umum Perbanas Nixon LP Napitupulu mengatakan, proses konsolidasi perbankan sebenarnya telah berlangsung secara alami melalui mekanisme pasar, terutama setelah krisis ekonomi 1998 yang mendorong banyak penggabungan dan restrukturisasi bank.
Baca juga: OJK Sebut Aturan DHE SDA Tak Akan Timbulkan Persoalan Besar bagi Bank
"Jadi kalau kita tarik dari tahun 1994-1995, kurang lebih 30 tahun lalu ke sekarang, itu bank yang sudah terkonsolidasi cukup banyak, hari ini dari 240 ke 105," ujar Nixon yang juga DIrut Bank Tabungan Negara (BTN) ini saat RDPU dengan Komisi XI DPR RI di Gedung DPR, Jakarta, Selasa (2/6/2026).
Meski jumlah bank terus berkurang, struktur industri perbankan nasional masih menunjukkan konsentrasi aset yang cukup tinggi pada kelompok bank besar.
Berdasarkan data Perbanas, total aset 105 bank umum ini mencapai Rp 13.900 triliun dan total kredit sebesar Rp 8.768 triliun.
Dari jumlah tersebut bank yang masuk ke kelompok bank berdasarkan modal inti (KBMI) IV menguasai 52,88 persen total aset industri perbankan nasional.
Sementara itu, bank KBMI III menguasai 25,80 persen aset, bank KBMI I sebesar 13,45 persen, dan Bank KBMI II sebesar 7,88 persen.
"Kalau kita lihat memang hari ini ada 57 bank KBMI I bermodal inti Rp 3-5 triliun. Kemudian industri ini juga terkonsentrasi pada dasarnya asetnya di 12-20 bank terbesar yang paling banyak menyerap aset perbankan nasional," ucapnya.
Sementara itu, Perbanas juga mencatat data industri Bank Perekonomian Rakyat (BPR) dan BPR Syariah (BPRS) yang saat ini berjumlah 1.463 BPR/BPRS dengan total aset Rp 210,7 triliun dan total kredit Rp 155,9 triliun.
Direktur Utama BTN Nixon LP Napitupulu saat konferens pers di Menara I BTN, Jakarta, Rabu (15/4/2026).
Menurut Nixon, kebutuhan modal yang semakin besar menjadi salah satu faktor yang perlu diperhitungkan dalam industri perbankan ke depan.
Pasalnya, industri ini merupakan sektor yang sangat bergantung pada permodalan karena harus memenuhi berbagai ketentuan rasio kecukupan modal dan persyaratan prudensial lainnya.
Selain itu, penerapan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) 71 turut meningkatkan kebutuhan pencadangan bank.
Dengan standar akuntansi tersebut, pembentukan Cadangan Kerugian Penurunan Nilai (CKPN) menjadi lebih sensitif terhadap penurunan kualitas aset dibandingkan periode sebelumnya.
Oleh karenanya, Perbanas menyetujui adanya konsolidasi perbankan agar bank-bank kecil dapat bergabung menjadi bank besar dengan permodalan yang besar pula.
"Di bank kenapa butuh modal besar? Karena ada compliance cost yang harus dikeluarkan. Kalau kita lihat Basel 3 dan 4, ada lagi ESG reporting, kemudian anti-money laundering teknologi, data infrastructure, beban regulatory, tapi kita rasa juga semakin ke sini, porsinya akan semakin lumayan signifikan," jelasnya.
Baca juga: Rupiah Melemah, Bank Patok Kurs Jual Dollar AS hingga Rp 18.010
Tag: #bank #indonesia #susut #dari #jadi #penyebabnya #menurut #perbanas