Rupiah Jebol Rp18.000, Dunia Usaha Kian Tercekik Biaya Produksi
Ketua Umum Apindo, Shinta Widjaja Kamdani. [Suara.com/Yaumal Adi Asri Hutasuhut].
11:23
4 Juni 2026

Rupiah Jebol Rp18.000, Dunia Usaha Kian Tercekik Biaya Produksi

Pelemahan nilai tukar rupiah yang akhirnya menembus level Rp18.000 per dolar AS mulai memberikan tekanan serius terhadap dunia usaha.

Ketua Umum Apindo Shinta Kamdani mengingatkan bahwa dampak pelemahan rupiah tidak hanya terlihat pada pasar keuangan, tetapi sudah merembet ke sektor riil melalui kenaikan biaya produksi, pembiayaan, hingga penurunan optimisme industri.

Menurut Shinta, tekanan terhadap rupiah sebenarnya sudah berlangsung sejak awal tahun. Dari posisi sekitar Rp16.800 per dolar AS pada Januari 2026, mata uang Garuda terus melemah hingga mendekati Rp17.000 pada akhir kuartal I dan kini menembus level psikologis Rp18.000 per dolar AS.

"Artinya, dunia usaha telah menghadapi tekanan nilai tukar ini secara bertahap selama beberapa bulan terakhir, sehingga dampaknya terhadap sektor riil semakin terasa," ujar Shinta dalam keterangannya, Kamis (4/6/2026).

Ketergantungan industri nasional terhadap bahan baku impor yang masih mencapai sekitar 70 persen menjadi salah satu sumber tekanan terbesar. Kondisi tersebut membuat biaya produksi atau cost of goods sold melonjak, margin usaha menyusut, dan ruang ekspansi perusahaan semakin terbatas.

Sektor yang paling merasakan dampaknya antara lain industri tekstil dan produk tekstil, kimia dan petrokimia, plastik, logam dasar, elektronik, hingga otomotif yang masih mengandalkan komponen impor dalam rantai produksinya.

Tekanan tersebut semakin berat karena pelaku usaha juga masih dibebani tingginya biaya logistik, energi, dan pembiayaan. Alhasil, dunia usaha kini menghadapi tekanan biaya berlapis yang berasal dari faktor eksternal.

Shinta menilai kondisi ini mulai tercermin dari menurunnya aktivitas industri. PMI manufaktur yang kembali masuk zona kontraksi sejak Juli 2025 serta tren pelemahan Indeks Kepercayaan Industri menjadi sinyal bahwa sektor riil sedang menghadapi masa yang tidak mudah.

"Apalagi pelemahan rupiah saat ini jauh lebih dalam dibandingkan kuartal pertama tahun ini, ketika sebagian subsektor manufaktur sudah tumbuh di bawah rata-rata ekonomi nasional dan beberapa di antaranya mengalami kontraksi," katanya.

Untuk bertahan, banyak perusahaan mulai menerapkan langkah efisiensi seperti pembekuan rekrutmen (hiring freeze), pengendalian biaya non-esensial, penundaan investasi baru, hingga memperkuat penggunaan bahan baku lokal dan strategi lindung nilai (hedging).

Meski demikian, dunia usaha tetap berharap pemerintah dan otoritas moneter mampu menjaga kredibilitas ekonomi nasional serta kepercayaan pasar melalui koordinasi kebijakan yang kuat.

Shinta memahami keputusan Bank Indonesia menaikkan BI Rate sebesar 50 basis poin menjadi 5,25 persen sebagai langkah menjaga stabilitas rupiah dan mengendalikan risiko inflasi. Namun, menurutnya, kebijakan stabilisasi makro perlu diimbangi dengan langkah nyata untuk menekan berbagai komponen biaya tinggi yang selama ini membebani dunia usaha.

"Dunia usaha meyakini fundamental ekonomi Indonesia masih cukup kuat. Tetapi stabilitas makro harus berjalan beriringan dengan upaya menjaga daya tahan sektor riil agar pertumbuhan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja tetap terjaga," tegasnya.

Editor: Mohammad Fadil Djailani

Tag:  #rupiah #jebol #rp18000 #dunia #usaha #kian #tercekik #biaya #produksi

KOMENTAR