Beda Ponggawa Negeri dengan Sastrawan Minang
Ilustrasi.(KOMPAS/TOTO SIHONO)
12:30
4 Juni 2026

Beda Ponggawa Negeri dengan Sastrawan Minang

BILA ada yang bertanya, apa kontribusi saudara-saudari kita orang Minang terhadap republik? Tidak pelik menjawabnya.

Sebelum dan sesudah kemerdekaan, orang-orang Minang itu sangat berjasa membuat bangsa kita melek huruf dan membangun kebiasaan membaca.

Orang Minang memiliki jasa membangun literasi di negeri ini. Lewat sastrawan dan budayawan Minang, muncul novel, hikayat, dan Roman.

Kita pun sebagai anak-anak bangsa, terpanggil dan terbiasa membaca karya-karya sastra tersebut.

Sejak duduk di bangku SD, saya sudah membaca karya-karya sastra itu. Tiada hari tanpa bacaan sastra.

Dari situ pulalah saya membangun mimpi untuk menjadi sastrawan. Namun, hingga kini, mimpi itu tidak pernah terwujud.

Tentu jutaan anak-anak bangsa sama dengan saya, menggandrungi karya-karya sastra tersebut. Namun, kita sangat menyesali, mengapa para sastrawan Minang seolah lenyap sekarang ini di republik kita?

Baca juga: Kondisi Ekonomi Kita

Tak usah melakukan penelitian untuk menjawabnya. Peran para sastrawan Minang digeser secara sengaja dan sistematis oleh para petinggi atau ponggawa negeri sekarang.

Lho, apa maksudnya ini? Penjelasannya sebagai berikut.

Para sastrawan Minang dahulu, memiliki wilayah jelajah imajinasi yang luar biasa. Mereka bisa membawa kita ke arah imajinasi yang mereka tulis.

Para pesohor negeri kita kini, yang mengganti peran para sastrawan Minang tadi, juga punya imajinasi luar biasa. Namun, mereka berbeda secara mendasar dalam hal moral.

Para sastrawan Minang menggugah relung-relung kalbu kita dengan imajinasi. Mereka menyentuh hati kita dengan terawangan.

Mereka mendikte kita secara moral dengan khayalan untuk diwujudkan dalam dunia nyata. Para sastrawan tersebut beredar dalam wilayah moral dan akhlak tinggi.

Sebaliknya, para pesohor atau ponggawa negeri kita sekarang ini, memang punya imajinasi, memiliki khayalan, tapi bukan sebagai panduan moral dan akhlak bangsa.

Khayalan dan imajinasi mereka motifnya untuk mengagungkan diri dan mengklaim kebenaran. Niatnya untuk membungkam kritik.

Di satu sisi, fakta konkret mereka jadikan khayalan. Di sisi lain, khayalan dianggap sebagai fakta konkret.

Kreativitas dan imajinasi para pesohor negeri kita sekarang ini, bukan memberi panduan moral, tetapi malah meruntuhkan moral. Bukannya memberi bingkai akhlak, tetapi justru mengoyak-ngoyak akhlak anak-anak bangsa.

Bayangkan saja, sebagai contoh nyata, tatkala banjir besar menyapu Sumatera dan Aceh. Seorang ponggawa negeri bisa dengan enteng mendeklarasikan bahwa di Aceh sudah 70 persen listrik menyala. Faktanya, Aceh masih gelap gulita.

Baca juga: Korupsi MBG dan Pelajaran yang Mahal

Dalam konteks ini, fakta konkret (gelap gulita) dihayalkan terang benderang. Ini bukan imajinasi, tetapi bohong.

Semuanya dilakukan hanya untuk menyenangkan atasan dan memaklumkan diri bahwa ia bekerja keras. Di sinilah letak perbedaan moral antara ponggawa negeri dengan para sastrawan Minang.

Contoh teranyar, seorang ponggawa negeri bisa dengan enteng dan haqqul yakin mengatakan bahwa berkat lawatan presiden ke luar negeri yang acap dilakukan, maka Indonesia dapat berkah.

Saya berikhtiar membangun majinasi saya tentang kisah Lampu Aladin, dan sim salabim. Ponggawa negeri yang mengucapkan itu, mungkin saja terinspirasi dari Lampu Aladin, sekali tiup, segala impian jadi kenyataan.

Ataukah jangan-jangan para ponggawa negeri kita, lantaran kerja keras untuk mengabdi republik, lupa istirahat sehingga badan tak kuasa lagi bertahan normal. Demam panas pun datang menyerang dan mengigau jadi lumrah.

Fakta yang sesungguhnya, angka Rp 2.400 triliun yang kini diperbincangkan publik, sebagian besarnya adalah investasi domestik, bukan investasi asing. Malah, investasi asing yang ada pada umumnya baru sebatas komitmen.

Saya percaya, sebagian investasi yang dimaksud tadi, barulah berupa daftar kehendak, deretan keinginan. Dan ini langsung dihitung sebagai investasi.

Dalam konteks ini, sesuatu belum jadi fakta, tetapi diimajinasikan sebagai fakta. Imajinasi dalam konteks di atas, bukan imajinasi yang melahirkan karya-karya agung yang monumental, seperti para sastrawan Minang itu.

Imajinasi para ponggawa negeri kita sekarang ini adalah penanda jelas betapa rendahnya moral dan etika sebagian pengurus negeri.

Baca juga: Tata Kelola Pangkal Masalah di Republik Ini

Bagi mereka, kebohongan publik sudah dijadikan adat istiadat. Ketidakjujuran sudah dijadikan panduan hidup.

Saya pun teringat lirik lagu Ebiet G Ade "Berita Kepada Kawan": 

Tetapi semua diam
Tetapi semua bisu
Tinggal aku sendiri
Terpaku menatap langit

Barangkali di sana
ada jawabnya
Mengapa di tanahku terjadi bencana

Mungkin Tuhan mulai bosan
Melihat tingkah kita
Yang selalu salah dan bangga
dengan dosa-dosa
Atau alam mulai enggan
Bersahabat dengan kita
Coba kita bertanya pada
Rumput yang bergoyang

Tag:  #beda #ponggawa #negeri #dengan #sastrawan #minang

KOMENTAR