IHSG Terjun ke Level 5.710, Mayoritas Saham Tertekan
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). (ANTARA FOTO/Asprilla Dwi Adha)
11:28
4 Juni 2026

IHSG Terjun ke Level 5.710, Mayoritas Saham Tertekan

– Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) semakin tertekan pada perdagangan Kamis (4/6/2026) siang. Tekanan jual yang meluas di hampir seluruh sektor membuat indeks anjlok mendekati 4 persen dan kembali bergerak ke level psikologis 5.700.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI) hingga pukul 11.08 WIB, IHSG berada di level 5.710,43 atau turun 230,64 poin setara 3,88 persen dibandingkan penutupan sebelumnya di posisi 5.941,07.

Pada awal perdagangan, IHSG dibuka di level 5.919,57. Namun tekanan jual yang terus meningkat membuat indeks sempat menyentuh level terendah 5.644,23. Adapun posisi tertinggi hari ini tercatat di level 5.924,51.

Baca juga: IHSG Anjlok 1,3 Persen Pagi Ini, Rupiah Tembus Rp 18.000 Per Dollar AS

Aktivitas perdagangan saham terpantau sangat ramai. Volume transaksi mencapai 18,50 miliar saham dengan nilai transaksi sebesar Rp 11,04 triliun. Frekuensi perdagangan tercatat sebanyak 1,166 juta kali transaksi.

Dari sisi pergerakan saham, tekanan jual terlihat sangat dominan. Sebanyak 736 saham melemah, hanya 50 saham yang menguat, sementara 173 saham lainnya bergerak stagnan.

Kapitalisasi pasar Bursa juga menyusut menjadi Rp 10.036 triliun.

Seluruh indeks utama bergerak di zona merah

Pelemahan IHSG diikuti seluruh indeks utama di Bursa Efek Indonesia.

Indeks LQ45 turun 19,86 poin atau 3,37 persen ke level 569,13. Indeks IDX30 melemah 10,90 poin atau 3,27 persen ke posisi 322,94.

Baca juga: IHSG Anjlok 1,3 Persen Pagi Ini, Rupiah Tembus Rp 18.000 Per Dollar AS

Sementara itu, indeks KOMPAS100 terkoreksi 30,81 poin atau 3,92 persen ke level 754,59.

Indeks saham berbasis syariah bahkan mencatat pelemahan lebih dalam. Indeks Jakarta Islamic Index (JII) turun 14,66 poin atau 4,14 persen ke posisi 339,78.

Indeks ISSI melemah 7,96 poin atau 3,86 persen ke level 198,04. Adapun indeks JII70 terkoreksi 5,86 poin atau 4,18 persen menjadi 134,33.

Bursa Efek Indonesia (BEI) merilis daftar saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi atau high shareholding concentration (HSC) pada Kamis (2/4/2026). Publikasi ini dilakukan sebagai bagian dari upaya meningkatkan transparansi bagi investor di pasar modal.ANTARA FOTO/Asprilla Dwi Adha Bursa Efek Indonesia (BEI) merilis daftar saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi atau high shareholding concentration (HSC) pada Kamis (2/4/2026). Publikasi ini dilakukan sebagai bagian dari upaya meningkatkan transparansi bagi investor di pasar modal.

Sektor barang baku dan properti memimpin pelemahan

Tekanan terhadap IHSG terjadi secara merata di seluruh sektor.

Sektor barang baku menjadi sektor dengan pelemahan terdalam setelah anjlok 6,71 persen. Disusul sektor properti dan real estat yang turun 5,81 persen.

Pelemahan signifikan juga terjadi pada sektor perindustrian yang turun 4,94 persen, sektor infrastruktur melemah 4,74 persen, dan sektor transportasi serta logistik yang terkoreksi 4,62 persen.

Sektor energi turun 4,09 persen, sektor keuangan melemah 3,67 persen, sektor barang konsumen primer terkoreksi 3,35 persen, dan sektor barang konsumen non-primer turun 3,31 persen.

Sementara itu, sektor kesehatan melemah 3,20 persen. Adapun sektor teknologi menjadi sektor dengan pelemahan paling terbatas, yakni 1,90 persen.

Baca juga: IHSG Jadi Terburuk di Dunia, Asing Cabut Rp 67 Triliun, Bagaimana Sikap Investor Ritel?

Pasar soroti kredibilitas kebijakan

Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Liza Camelia Suryanata mengatakan, tekanan yang terjadi di pasar saham domestik tidak terlepas dari meningkatnya kekhawatiran investor terhadap arah kebijakan ekonomi Indonesia.

Menurut dia, pasar saat ini tidak lagi mempertanyakan kemampuan Indonesia untuk tumbuh, melainkan mulai mempertanyakan kredibilitas Indonesia di mata investor global.

"Menurut kami, pasar saat ini tidak lagi mempertanyakan kemampuan Indonesia untuk tumbuh, melainkan mempertanyakan kredibilitas Indonesia," ujar Liza dalam keterangan tertulis, Kamis.

Ia menyoroti pelemahan rupiah yang mendekati level Rp 18.000 per dollar AS serta arus keluar modal asing yang masih berlangsung.

Sepanjang tahun berjalan, investor asing tercatat melakukan jual bersih (net sell) sebesar Rp 66,20 triliun.

Liza menjelaskan, setidaknya terdapat lima faktor yang saat ini membayangi sentimen pasar, yakni outlook negatif dari lembaga pemeringkat internasional, pelemahan rupiah, arus modal asing keluar, menyusutnya kelas menengah, serta meningkatnya risiko kepemimpinan dan komunikasi kebijakan.

Baca juga: IHSG Anjlok 4 Persen, Asing Jual Bersih Rp 864 Miliar

Meski demikian, ia menilai Indonesia belum memasuki fase penurunan peringkat secara struktural atau structural de-rating.

Menurut dia, sebagian besar risiko yang saat ini dikhawatirkan pasar masih berupa kemungkinan dan belum menjadi kenyataan.

Perhatian investor kini tertuju pada sejumlah agenda penting bulan ini, yakni MSCI Global Market Accessibility Review pada 19 Juni, FTSE Rebalancing yang efektif pada 22 Juni, serta MSCI Annual Market Classification Review pada 24 Juni 2026.

"Setelah Moody's dan Fitch, FTSE dan MSCI berpotensi menjadi ujian berikutnya bagi kredibilitas pasar modal Indonesia," kata Liza.

Ia menambahkan, investor global saat ini terlihat mengurangi eksposur terhadap Indonesia secara spesifik, bukan meninggalkan pasar negara berkembang secara keseluruhan.

Karyawan menghitung uang pecahan rupiah dan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran mata uang asing Ayu Masagung, Kwitang, Jakarta, Kamis (23/4/2026). . ANTARA FOTO/Darryl Ramadhan Karyawan menghitung uang pecahan rupiah dan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran mata uang asing Ayu Masagung, Kwitang, Jakarta, Kamis (23/4/2026). .

Rupiah dan sentimen global menambah tekanan

Tekanan terhadap pasar domestik juga terjadi di tengah pelemahan nilai tukar rupiah.

Pada perdagangan pagi, rupiah sempat menembus level Rp 18.000 per dollar AS, yang menjadi salah satu posisi terlemah sepanjang sejarah.

Direktur Asosiasi Riset dan Investasi Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nicodemus mengatakan, pasar Asia juga tengah dibayangi meningkatnya kekhawatiran terhadap kebijakan tarif baru Amerika Serikat serta memanasnya kembali ketegangan antara AS dan Iran.

Selain itu, pasar domestik turut dipengaruhi menyusutnya surplus neraca perdagangan April, kenaikan inflasi tahunan menjadi 3,08 persen pada Mei 2026, serta outlook negatif yang diberikan Moody's terhadap PT Danantara Investment Management (DIM).

Kondisi tersebut membuat pelaku pasar cenderung mengurangi eksposur terhadap aset berisiko, termasuk saham.

Baca juga: 10 Saham Net Buy Investor Asing IHSG Selasa (2/6) ANTM Paling Laku

Pemerintah minta investor tidak panik

Di tengah tekanan pasar, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa meminta pelaku pasar tidak berlebihan menyikapi pelemahan IHSG.

Menurut dia, fundamental ekonomi Indonesia masih kuat dan tekanan yang terjadi lebih banyak dipengaruhi sentimen jangka pendek.

"Jangan takut, fundamental ekonomi bagus. Ini mungkin ada ketakutan orang jangka pendek saja. Fondasi ekonomi bagus, enggak ada masalah. Pendapatan pajak di Mei aja masih kenceng begitu," kata Purbaya di Kompleks Parlemen, Jakarta, Rabu (3/6/2026).

Purbaya mengatakan aktivitas ekonomi masyarakat masih terjaga, tercermin dari konsumsi domestik dan mobilitas masyarakat yang tetap tinggi.

Menurut dia, daya beli masyarakat masih cukup kuat untuk menopang pertumbuhan ekonomi nasional.

Ia pun optimistis IHSG akan kembali menguat seiring kuatnya fondasi ekonomi Indonesia.

"Saya yakin akan naik lagi karena fondasi ekonomi bagus," ujar Purbaya.

Meski demikian, pemerintah akan terus berupaya menjaga sentimen pasar dan meningkatkan kepercayaan investor, di samping memperkuat fundamental ekonomi nasional.

Sebagian artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul IHSG Terpuruk dan Rupiah Melemah: Ada Apa dengan Indonesia? dan Purbaya soal IHSG Anjlok: Jangan Takut, Daya Beli Masyarakat Masih Kuat

Tag:  #ihsg #terjun #level #5710 #mayoritas #saham #tertekan

KOMENTAR