Rupiah Terancam ke Rp 19.000 per Dollar AS, Analis Ungkap Biang Keroknya
- Nilai tukar rupiah di pasar spot ditutup anjlok pada perdagangan Kamis (4/6/2026). Rupiah terdepresiasi 80 poin atau 0,46 persen ke level Rp 18.049 per dollar Amerika Serikat (AS).
Analis mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menilai pelemahan rupiah yang menembus level di atas Rp 18.000 per dollar AS bukanlah sesuatu yang mustahil terjadi. Bahkan, tekanan terhadap kurs rupiah masih berpotensi berlanjut.
Nilai tukar rupiah diperkirakan anjlok ke Rp 19.000 per dollar AS pekan depan.
“Kenapa rupiah bisa sampai melemah ke level Rp 18.000? Bisa saja. Bahkan kemungkinan besar pada bulan Juni ini bisa menuju level Rp 19.000,” ujar Ibrahim saat dihubungi Kompas.com, Kamis sore ini.
Baca juga: Rupiah Jadi yang Terlemah di Asia, Apa Dampaknya bagi Masyarakat?
Pelemahan rupiah terutama dipicu oleh tingginya kebutuhan dollar AS di dalam negeri. Dalah satu sumber tekanan terbesar berasal dari impor minyak Indonesia yang masih sangat besar.
Karena Indonesia belum mampu memenuhi seluruh kebutuhan energi dari produksi dalam negeri, pemerintah dan pelaku usaha harus membeli minyak dari luar negeri dengan menggunakan dollar AS. Semakin besar volume impor, semakin besar pula kebutuhan terhadap mata uang AS.
Indonesia saat ini mengimpor sekitar 1,5 juta barel minyak per hari. Dari jumlah tersebut, sekitar 85 persen digunakan untuk kebutuhan bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi. Kondisi itu membuat permintaan terhadap dollar AS terus meningkat.
Selain itu, Ibrahim menyoroti kewajiban korporasi yang harus membayarkan dividen kepada investor, serta kewajiban pembayaran utang jatuh tempo yang nilainya mencapai sekitar Rp 600 triliun pada tahun ini.
“Perusahaan-perusahaan yang terdaftar di bursa harus membagikan dividen kepada investor. Di sisi lain, ada utang jatuh tempo sekitar Rp 600 triliun yang harus dibayarkan. Kemungkinan besar sebagian dilakukan melalui refinancing atau penerbitan utang baru,” paparnya.
Baca juga: Rupiah Terpuruk Saat Mata Uang ASEAN Lainnya Stabil, Apa Penyebabnya?
Tekanan terhadap rupiah juga datang dari perubahan perilaku masyarakat yang mulai mengalihkan sebagian dana simpanan dari tabungan konvensional ke valuta asing.
Ibrahim menilai sejumlah faktor lain turut mempengaruhi sentimen pasar, termasuk keputusan Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang menghapus beberapa saham asal Indonesia dari indeks global. Lalu, kebijakan ekspor satu pintu melalui Danantara, serta penurunan prospek peringkat Danantara oleh Moody’s menjadi negatif.
“Faktor-faktor tersebut ikut memberikan tekanan sehingga rupiah melemah hingga berada di atas level Rp 18.000 per dollar AS,” pungkas dia.
Terkait langkah pemerintah, Ibrahim menilai berbagai strategi untuk menjaga nilai tukar sebenarnya telah dilakukan. Namun, upaya tersebut belum mampu membendung pelemahan rupiah secara signifikan.
“Pemerintah sebenarnya sudah melakukan berbagai strategi dan langkah pencegahan. Tetapi kenyataannya, pelemahan rupiah masih terjadi. Salah satu persoalan yang menurut saya belum terselesaikan adalah kebijakan BBM bersubsidi yang tidak disesuaikan,” katanya.
Meski demikian, Ibrahim menilai pemerintah tetap perlu menjaga stabilitas ekonomi dan politik di tengah tekanan terhadap nilai tukar.
Anjloknya mata uang Indonesia diyakini berdampak langsung terhadap kebutuhan masyarakat sehari-hari. Ia mencontohkan kenaikan harga kedelai yang berdampak terhadap harga tahu dan tempe.
Selain itu, kenaikan biaya pupuk, transportasi, dan berbagai komoditas lainnya turut mendorong inflasi di tingkat konsumen. Kendati Ibrahim menegaskan kondisi saat ini berbeda dengan krisis ekonomi 1998.
“Situasi sekarang tidak sama dengan 1998. Saat itu perekonomian sangat bergantung pada investasi dan modal asing. Ketika rupiah melemah, arus modal asing keluar dalam jumlah besar karena porsinya sangat dominan,” lanjut Ibrahim.
Ia mencatat struktur ekonomi Indonesia saat ini lebih banyak ditopang oleh pelaku domestik. Bahkan, ia memperkirakan kepemilikan domestik kini mencapai sekitar 90 persen, sedangkan investor asing hanya sekitar 10 persen.
Meski peluang krisis dinilai kecil, Ibrahim mengakui masyarakat tetap merasakan tekanan ekonomi akibat kenaikan harga barang dan pendapatan yang tidak bertumbuh secepat biaya hidup.
“Dalam kondisi rupiah melemah, tentu ekonomi masyarakat akan terdampak. Namun, dari sisi dunia usaha, mempertahankan operasional perusahaan juga menjadi tantangan besar. Banyak perusahaan yang berupaya tetap bertahan agar tidak mengalami kebangkrutan,” ucap Ibrahim.
Perbaikan kondisi ekonomi nasional sangat bergantung pada perkembangan global, termasuk meredanya konflik geopolitik di Timur Tengah yang selama ini menjadi salah satu faktor pendorong kenaikan harga energi dunia.
Saat menyinggung kondisi fiskal Indonesia, Ibrahim menilai ruang fiskal pemerintah semakin terbatas akibat meningkatnya kebutuhan dollar AS untuk impor energi.
Dalam APBN, asumsi nilai tukar berada di Rp 16.500 per dollar AS dan harga minyak sekitar 70 dollar AS per barrel.
“Sekarang rupiah sudah jauh lebih lemah dan harga minyak berpotensi naik. Kondisi ini membuat kebutuhan dolar menjadi jauh lebih besar,” pungkasnya.
Selama pemerintah tetap mempertahankan skema subsidi energi dalam skala besar, tekanan terhadap fiskal dan nilai tukar berpotensi terus berlanjut.
“Di banyak negara, ketika harga minyak naik, subsidi dikurangi atau bahkan dihapus sehingga harga mengikuti mekanisme pasar. Pemerintah tidak menanggung beban yang terlalu besar. Di Indonesia, pemerintah masih mempertahankan subsidi sehingga kebutuhan dolar tetap tinggi,” ujarnya.
Ibrahim juga menyoroti sejumlah program pemerintah yang membutuhkan anggaran besar. Menurutnya, program-program tersebut berpotensi menambah tekanan terhadap APBN apabila pelaksanaannya tidak dilakukan secara efisien dan transparan.
Di sisi lain, ia menilai pemerintah dan para pejabat negara cenderung menyampaikan narasi yang menenangkan publik untuk menjaga kepercayaan masyarakat dan pelaku pasar.
“Tujuannya tentu agar masyarakat tidak panik dan pasar tetap tenang. Pemerintah harus menjaga optimisme publik. Namun, pada saat yang sama, tantangan ekonomi yang ada juga perlu diakui dan dicarikan solusi yang konkret,” kata Ibrahim.
Tag: #rupiah #terancam #19000 #dollar #analis #ungkap #biang #keroknya