Pengamat UGM: DSI Berpotensi Bikin Tata Kelola Ekspor SDA Lebih Transparan
Wisma Danantara di Jalan Gatot Subroto, Jakarta Selatan.(KOMPAS.com/TEUKU MUHAMMAD VALDY ARIEF)
12:56
5 Juni 2026

Pengamat UGM: DSI Berpotensi Bikin Tata Kelola Ekspor SDA Lebih Transparan

- Pembentukan PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) dinilai berpotensi memperkuat transparansi tata kelola ekspor komoditas sumber daya alam (SDA) sekaligus meningkatkan efektivitas pengelolaan devisa hasil ekspor Indonesia.

Kepala Pengamat Ekonomi Universitas Gadjah Mada (UGM) Eddy Jurnasin mengatakan, secara konseptual kehadiran DSI dapat menjadi langkah strategis pemerintah untuk memperbaiki tata kelola sektor SDA nasional melalui sistem yang lebih terintegrasi.

“Kehadiran DSI secara konseptual dan governance dapat bermanfaat besar. Selain governance dan cash flows menjadi lebih transparan dan efektif, arus informasi dan kebijakan juga dapat menjadi lebih cepat dan jelas,” ujar Eddy dalam keterangannya, Jumat (5/6/2026).

Menurut Eddy, manfaat terbesar dari pembentukan DSI terletak pada penguatan aspek tata kelola dan pengelolaan arus kas ekspor.

Baca juga: Pelaku Usaha Dukung Penguatan Tata Kelola Ekspor SDA Lewat DSI

Selain itu, koordinasi kebijakan antarinstansi juga berpotensi menjadi lebih cepat apabila implementasinya berjalan sesuai rencana.

Meski demikian, Eddy mengingatkan tantangan utama DSI justru berada pada tahap pelaksanaan.

Selama ini pemerintah telah memiliki berbagai lembaga pendukung ekspor, seperti export centers dan free trade agreement centers yang berada di sejumlah kementerian dan lembaga.

Karena itu, pemerintah perlu memastikan tidak terjadi tumpang tindih fungsi antara DSI dan lembaga yang sudah ada.

“Perlu corporate strategy mengenai vertical integration agar tidak terjadi overlapping dan kebingungan bagi para pengusaha,” katanya.

Selain memperkuat tata kelola, Eddy menilai DSI berpotensi meningkatkan devisa hasil ekspor dan memperkuat surplus perdagangan Indonesia.

Eddy mencatat neraca perdagangan Indonesia pada kuartal I 2026 masih mencatat surplus sebesar 3,32 miliar dollar AS.

Namun, ia mengingatkan peningkatan ekspor tidak serta-merta mengubah posisi defisit transaksi berjalan (current account deficit) menjadi surplus karena transaksi berjalan dipengaruhi sejumlah komponen lain di luar perdagangan barang.

“DSI tentu diharapkan dapat meningkatkan devisa hasil ekspor dan menggenjot peningkatan balance of trade. Namun apakah DSI dapat membalikkan posisi current account dari defisit ke surplus? Belum tentu,” ujar Eddy.

Meski demikian, ia optimistis peningkatan devisa hasil ekspor dapat memperkuat cadangan devisa nasional yang pada akhirnya membantu menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.

“Penguatan cadangan devisa merupakan salah satu faktor yang dapat memperkuat stabilitas rupiah,” katanya.

Di sisi lain, Eddy berharap pembentukan DSI juga menjadi momentum untuk memperbaiki iklim investasi nasional.

Menurut dia, peningkatan investasi asing perlu didukung perbaikan regulasi, kepastian hukum, kemudahan berusaha, serta stabilitas ekonomi dan politik.

Sebagai informasi, pemerintah mulai menerapkan tata kelola ekspor komoditas SDA strategis melalui DSI mulai 1 Juni 2026.

Kebijakan tersebut merupakan tindak lanjut dari arahan Presiden Prabowo Subianto yang mengatur ekspor komoditas SDA strategis dilakukan melalui BUMN yang ditunjuk sebagai pengekspor tunggal.

Pada tahap awal, kebijakan mencakup tiga komoditas utama yakni minyak kelapa sawit, batu bara, dan ferro alloys.

Baca juga: Ekspor CPO, Batu Bara, dan Ferro Alloy Lewat DSI Diatur 3 Permendag

Tag:  #pengamat #berpotensi #bikin #tata #kelola #ekspor #lebih #transparan

KOMENTAR