Cara BI Bendung Pelemahan Rupiah di Tengah Kaburnya Dana Asing
- Nilai tukar atau kurs rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS) menguat tipis, tetapi tetap berada di atas level psikologis 18.000.
Berdasarkan pantauan Kompas.com, rupiah di pasar spot berada di level Rp 18.042 per dollar AS atau menguat 0,04 persen pada pukul 13.33 WIB, hari ini Jumat (5/6/2026).
Pelemahan rupiah ini tak lepas dari pengaruh arus modal asing yang kian deras keluar.
Research & Education Coordinator Valbury Asia Futures Nanang Wahyudin menjelaskan, pelemahan rupiah yang didorong arus modal keluar (capital outflow) sering direspons dengan pengetatan moneter yakni menaikkan BI rate atau memperlebar spread yield terhadap US Treasuries.
Baca juga: Rupiah Melemah ke Rekor Terendah, Ini Dampaknya ke Dompet Warga
"Untuk menjaga daya tarik aset rupiah," kata dia kepada Kompas.com, Jumat (5/6/2026).
Sedikit catatan, investor asing membukukan penjualan bersih atau net sell sekitar Rp 1,43 triliun pada perdagangan Kamis kemarin.
Ketika diakumulasikan sejak awal tahun, total dana asing yang keluar dari pasar saham Indonesia telah mencapai Rp 68,5 triliun.
Nanang menjelaskan, ruang pengetatan moneter ini terbatas karena kenaikan suku bunga terlalu agresif akan memukul pertumbuhan dan sektor yang sudah rentan seperti kredit produktif dan konsumsi rumah tangga.
Dengan kurs rupiah sudah tembus Rp 18.000 per dollar AS, panduan stabilitas nilai tukar saat ini adalah prioritas utama.
Hal itu ditambah dengan sinyal kesiapan menaikkan suku bunga jika volatilitas berlanjut.
"Biasanya menjadi kombinasi yang paling kredibel tanpa harus langsung shock besar di satu Rapat Dewan Gubernur (RDG)," ucap dia.
Manajemen likuiditas dan koordinasi kebijakan
Nanang bilang, BI menegaskan tetap menjaga kecukupan likuiditas rupiah (M0 tumbuh cukup tinggi) sembari memperkuat operasi moneter.
Dengan begitu, harapannya pasar uang domestik tetap berfungsi dan tidak terjadi kelangkaan (squeeze) uang tunai dan aset likuiditas yang memicu kepanikan.
Kemudian, BI juga memperkuat koordinasi dengan pemerintah, termasuk melakukan pembelian atau penjualan SBN pada saat yang tepat.
BI juga tengah mengupayakan sinkronisasi dengan kebijakan fiskal untuk menjaga kepercayaan investor dan stabilitas nilai tukar.
Nanang berpandangan, di kondisi sekarang, langkah yang harus segera diambil bukan hanya soal timing RDG, tetapi adalah intervensi valas yang terukur dan konsisten.
BI juga perlu memberikan panduan ke depan (forward guidance) yang jelas ke pasar soal prioritas stabilitas rupiah serta melakukan koordinasi erat dengan Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) agar narasi kebijakan fiskal–moneter terlihat selaras (aligned) dan kredibel.
BI pakai instrumen operasional
Secara resmi, Bank Indonesia (BI) menyatakan terus mengoptimalkan bauran kebijakan untuk menjaga stabilitas rupiah di tengah ketidakpastian global.
Hal itu dilakukan dengan beberapa instrumen operasional yang sudah dan bisa terus mereka pakai.
BI juga dapat melakukan intervensi valas dan pasar obligasi.
BI menyebut akan menguatkan intervensi di pasar offshore melalui Non-Deliverable Forward (NDF) dan onshore melalui spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), dan pembelian SBN di pasar sekunder.
"Untuk menahan depresiasi yang terlalu tajam dan volatilitas berlebihan," ucap dia.
Nanang menyebut, BI juga memperketat tata kelola transaksi valas.
Saat ini, transaksi di atas 50.000 dollar AS wajib ada dokumen underlying. Aturan ini untuk mencegah spekulasi murni yang menambah permintaan (demand) valas tanpa dasar transaksi riil.
"Ini adalah first line of defense yang bisa dan harus terus dilakukan sebelum RDG formal, karena sifatnya taktis dan bisa dieksekusi harian," tutup Nanang.
Sebelumnya, Bank Indonesia (BI) menyebut pelemahan nilai tukar rupiah hingga menyentuh level Rp 18.000 per dollar AS dipicu oleh meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.
Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti mengatakan, eskalasi konflik di Timur Tengah mendorong harga minyak dunia tetap tinggi, sehingga meningkatkan risiko inflasi global dan memicu arus modal keluar dari negara-negara berkembang (emerging markets), termasuk Indonesia.
"Pelemahan nilai tukar masih dipengaruhi oleh tensi geopolitik Timur Tengah yang kembali tereskalasi dan menghambat prospek damai," ujar Destry dalam keterangannya, Kamis (4/6/2026).
Baca juga: Rupiah Tembus Rp 18.000 Per Dollar AS, Efek Berantai hingga ke Meja Makan
Tag: #cara #bendung #pelemahan #rupiah #tengah #kaburnya #dana #asing