Rupiah Masih Tertekan, Usai OECD Pangkas Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi RI 2026
ilustrasi(canva.com)
15:32
5 Juni 2026

Rupiah Masih Tertekan, Usai OECD Pangkas Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi RI 2026

- Nilai tukar rupiah di pasar spot tercatat masih melemah, meski ditutup menguat tipis pada perdagangan Jumat (5/6/2026). Rupiah naik 13 poin atau 0,07 persen ke level Rp 18.036 per dollar Amerika Serikat (AS).

Kurs rupiah diperkirakan bakal tertekan hingga mendekati level psikologis Rp 19.000 per dollar AS pada pekan depan, apabila sentimen negatif terus berlanjut.

Analis Mata Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, mengatakan prospek ekonomi Indonesia masih menghadapi sejumlah tantangan pada 2026, setelah Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi nasional.

Baca juga: Investor Cari Kepastian: Pelajaran dari Kejatuhan IHSG dan Rupiah

Dalam laporan terbarunya, OECD menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 menjadi 4,7 persen, lebih rendah dibandingkan proyeksi sebelumnya sebesar 4,8 persen. Meski demikian, OECD memperkirakan pertumbuhan ekonomi RI dapat kembali menguat ke level 5 persen pada 2027,

seiring meredanya tekanan eksternal yang saat ini membayangi perekonomian global.

Menurut OECD, kenaikan biaya energi dan tingginya ketidakpastian global berpotensi menekan konsumsi rumah tangga dan investasi. Kondisi tersebut juga diperburuk oleh melemahnya pasar tenaga kerja domestik yang dapat memengaruhi daya beli masyarakat.

Meski menghadapi perlambatan, OECD menilai perekonomian Indonesia masih relatif lebih tangguh dibandingkan banyak negara berkembang lainnya. Penilaian tersebut didasarkan pada ketergantungan Indonesia yang lebih rendah terhadap impor energi dari kawasan yang saat ini tengah dilanda ketegangan geopolitik.

OECD mencatat Indonesia sebenarnya memulai tahun 2026 dengan kinerja yang cukup solid. Produk domestik bruto (PDB) tumbuh 5,6 persen secara tahunan pada kuartal I-2026, didukung oleh kuatnya permintaan domestik serta lonjakan belanja pemerintah yang mencapai 21,8 persen.

Konsumsi rumah tangga dan investasi juga masih menunjukkan ketahanan setelah pelonggaran kebijakan moneter sepanjang 2025 mendorong penurunan biaya pinjaman dan meningkatkan aktivitas ekonomi.

Baca juga: Depresiasi Rupiah dan Kerusakan yang Disebabkannya

Namun demikian, sejumlah indikator ekonomi terkini mulai menunjukkan perlambatan momentum. Penjualan ritel tercatat turun 1,9 persen secara tahunan pada April 2026. Selain itu, tingkat keyakinan konsumen mulai melemah, terutama terkait prospek lapangan kerja dalam beberapa bulan mendatang.

Di sisi lain, tekanan inflasi diperkirakan meningkat akibat lonjakan harga energi global. OECD memperkirakan inflasi Indonesia mencapai 3,4 persen pada 2026, naik dari 1,9 persen pada 2025.

“Kenaikan inflasi tersebut diperkirakan berasal dari dampak lanjutan kenaikan harga energi dunia terhadap harga-harga domestik, meskipun pemerintah masih mempertahankan kebijakan subsidi bahan bakar minyak (BBM) untuk meredam tekanan harga di dalam negeri,” ujar Ibrahim kepada wartawan, Jumat sore.

Dari faktor eksternal, perhatian pasar juga tertuju pada perkembangan geopolitik di Timur Tengah yang kembali memanas. Pemimpin Hizbullah, Naim Qassem, pada Kamis menolak kesepakatan yang dimediasi Amerika Serikat antara Israel dan pemerintah Lebanon untuk menghentikan konflik bersenjata di kawasan tersebut.

Sikap Hizbullah tersebut menjadi perhatian pasar karena Iran sebelumnya menjadikan gencatan senjata di Lebanon sebagai salah satu syarat utama dalam setiap kesepakatan perdamaian dengan Amerika Serikat.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa kemajuan masih terus diupayakan dalam proses perundingan antara Israel dan Lebanon. Menurut Trump, Lebanon berhak memperoleh perdamaian setelah konflik berkepanjangan yang terjadi selama ini.

Namun di lapangan, Israel masih melanjutkan serangan udara di wilayah Lebanon selatan yang kemudian dibalas oleh Hizbullah. Sejumlah pejabat Israel juga mengisyaratkan bahwa pasukan mereka belum akan menarik diri dari Lebanon selatan maupun menghentikan operasi militer dalam waktu dekat.

Perkembangan tersebut semakin mengurangi optimisme pasar terhadap kemungkinan tercapainya kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran. Pasalnya, Teheran berulang kali menegaskan bahwa stabilitas di Lebanon menjadi bagian penting dari setiap perjanjian perdamaian yang berkelanjutan.

Laporan yang dirilis awal pekan ini juga menunjukkan bahwa Iran menghentikan negosiasi tidak langsung dengan Amerika Serikat setelah menuduh Washington melanggar gencatan senjata melalui serangan militer terbaru.

Amerika Serikat dilaporkan melancarkan serangan terhadap sejumlah target di Iran pada pekan ini. Sebagai respons, Garda Revolusi Iran melakukan serangan balasan terhadap sejumlah target Amerika Serikat di Kuwait dan Beirut.

Rangkaian serangan tersebut terjadi ketika pemerintah Amerika Serikat masih menyatakan bahwa peluang tercapainya kesepakatan damai dengan Iran tetap terbuka dan komunikasi diplomatik masih berlangsung. Namun hingga kini, pasar belum melihat adanya bukti nyata yang menunjukkan kemajuan signifikan dalam proses negosiasi tersebut.

Sementara itu, pelaku pasar global juga menantikan data ketenagakerjaan Amerika Serikat yang akan dirilis pada hari ini. Laporan Nonfarm Payrolls (NFP) untuk Mei diperkirakan menunjukkan penambahan 85.000 lapangan kerja baru.

Pada saat yang sama, tingkat pengangguran diproyeksikan tetap berada di level 4,3 persen. Data tersebut akan menjadi salah satu indikator penting untuk mengukur kekuatan ekonomi Amerika Serikat dan arah kebijakan suku bunga The Federal Reserve (The Fed).

Apabila data ketenagakerjaan menunjukkan pelemahan yang lebih besar dari perkiraan, nilai tukar dollar AS berpotensi mengalami tekanan. Kondisi tersebut dapat menjadi sentimen positif bagi komoditas yang diperdagangkan menggunakan denominasi dollar AS, termasuk emas.

Tag:  #rupiah #masih #tertekan #usai #oecd #pangkas #proyeksi #pertumbuhan #ekonomi #2026

KOMENTAR