Gaya Hidup Tidak Sehat Bikin Orang Dewasa Rentan Kena Campak
Ilustrasi campak. Gejala awal campak seperti demam dan batuk sering dianggap ringan, padahal bisa berkembang menjadi kondisi serius.(Freepik)
08:06
2 April 2026

Gaya Hidup Tidak Sehat Bikin Orang Dewasa Rentan Kena Campak

- Penyakit campak selama ini diidentikkan sebagai infeksi virus yang hanya menyerang anak-anak.

Padahal, penularan virus mematikan ini juga sangat rentan terjadi pada orang dewasa, bahkan berpotensi menimbulkan masa perawatan yang jauh lebih rumit.

Situasi ini erat kaitannya dengan gaya hidup modern kaum urban, yang sering memicu penurunan sistem kekebalan tubuh secara drastis, ditambah hilangnya perlindungan antibodi alami seiring berjalannya waktu.

Baca juga: Kasus Campak Naik Saat Imunisasi Menurun, Ini Dampaknya Menurut Dokter

Dr. dr. Sukamto Koesnoe, Sp.PD, K-A.I, FINASIM mengatakan, banyak pekerja kantoran atau kalangan profesional muda yang mengabaikan waktu istirahat demi mengejar produktivitas.

"Kita banyak menemukan orang-orang dewasa muda, eksekutif-eksekutif muda, yang sukanya lembur. Habis lembur, ke kafe-kafe. Tidurnya kurang. Itu sel limfositnya turun rendah," ungkap dia dalam konferensi pers "Campak pada Dewasa: Tanda Bahaya dan Penanganan yang Tepat serta Peran Vaksinasi" yang digelar oleh Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI) di Jakarta, Selasa (31/3/2026).

Tanpa disadari, kebiasaan buruk inilah yang membuka pintu masuk bagi berbagai penyakit infeksius, termasuk campak, di tengah padatnya interaksi sosial.

Memudarnya benteng kekebalan alami

Banyak orang dewasa merasa sangat percaya diri bahwa mereka sudah sepenuhnya kebal dari virus campak hanya karena pernah mendapatkan suntikan vaksin di masa kanak-kanak.

Kendati demikian, dr. Sukamto menjelaskan bahwa efektivitas perlindungan dari vaksin tidak selalu bertahan seumur hidup.

"Ada waning immunity. Antibodi itu menurun setelah 15 sampai 20 tahun pasca-vaksinasi," papar dr. Sukamto.

Ia menambahkan bahwa penurunan kekebalan ini membuat tubuh perlahan kembali rapuh terhadap paparan virus dari lingkungan sekitar, termasuk campak.

Selain memudarnya antibodi secara alamiah, prosedur pengobatan penyakit tertentu di usia dewasa juga berkontribusi besar terhadap anjloknya daya tahan tubuh.

"Ada keadaan-keadaan tertentu seperti misalnya seseorang yang kemudian harus menjalani kemoterapi. Itu daya tahan tubuhnya akan turun," ujar dr. Sukamto.

Baca juga: Indonesia Nomor 2 Dunia Kasus Campak, Ini Bahayanya Menurut Dokter

Risiko komplikasi

Ketika virus campak berhasil menembus pertahanan tubuh dan menginfeksi orang dewasa, manifestasi klinis dan dampak yang ditimbulkan tidak sesederhana gejala demam dan ruam pada anak-anak.

Menurut dr. Sukamto, kondisi fisik orang dewasa sering kali merespons infeksi ini dengan tingkat keparahan yang lebih ekstrem.

"Pada orang dewasa, kalau dia terkena campak, biasanya lebih berat dan perlu perawatan, serta komplikasinya biasanya lebih banyak," ucap dia.

Lebih mengkhawatirkan lagi, virus ini mampu merusak sistem memori kekebalan tubuh yang sudah terbentuk sebelumnya.

"Ada komplikasi serius campak. Ada pneumonia, ada ensefalitis atau radang otak. Ada immune amnesia, jadi menghapus memori imun sehingga menjadi rentan infeksi lain," lanjut dr. Sukamto.

Urgensi vaksinasi tambahan

Mengingat tingginya ancaman dan besarnya risiko komplikasi penyerta, langkah preventif berupa intervensi medis tambahan menjadi sangat penting.

Pemberian dosis penguat atau booster bukanlah sekadar pelengkap, melainkan kebutuhan mendesak bagi kaum dewasa. Suntikan tambahan ini diyakini mampu membangkitkan kembali memori seluler tubuh untuk melawan patogen dengan sigap.

"Jadi, vaksin campak pada dewasa bukan hanya perlu, tetapi sangat perlu. Dikatakan bahwa dua dosis itu akan meningkatkan efektivitas dibandingkan dengan satu dosis saja," pungkas dr. Sukamto.

Baca juga: Gejala 3C, Cara Membedakan Campak dan Rubella

Tag:  #gaya #hidup #tidak #sehat #bikin #orang #dewasa #rentan #kena #campak

KOMENTAR