Tak Hanya Ruam, Campak Bisa Sebabkan Gangguan Saraf Jangka Panjang
Campak tidak hanya menyebabkan demam dan ruam, tetapi juga dapat menimbulkan komplikasi serius dalam jangka panjang.
Pakar kesehatan mengingatkan infeksi ini bisa merusak sistem imun dan memicu gangguan saraf hingga bertahun-tahun setelah pasien sembuh.
Risiko tersebut membuat campak tidak bisa lagi dianggap sebagai penyakit ringan, terutama pada anak-anak.
Hal ini diungkap dalam webinar “Kupas Tuntas Campak: Dari Imunisasi Sampai Komplikasi” oleh Dewan Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (DGB FKUI) yang diikuti Kompas.com secara daring pada Rabu (1/4/2026).
Baca juga: Kasus Campak RI Melonjak di Banyak Wilayah, Ini Daerah Paling Terdampak
Dampak jangka panjang bisa muncul bertahun-tahun
Guru Besar FKUI, Prof. Hinky Hindra Irawan Satari, menjelaskan bahwa campak dapat menyebabkan komplikasi serius yang tidak selalu langsung terlihat.
Salah satu yang paling berbahaya adalah gangguan pada otak yang muncul bertahun-tahun setelah infeksi.
Ia menyebut kondisi ini sebagai subacute sclerosing panencephalitis (SSPE), yaitu penyakit saraf progresif yang berujung fatal.
“Anak yang sudah sembuh dari campak bisa mengalami gangguan saraf 7 sampai 10 tahun kemudian,” ujar Prof. Hinky dalam webinar tersebut.
Gejalanya meliputi penurunan kesadaran, gangguan gerak, hingga kelumpuhan yang akhirnya menyebabkan kematian. Kondisi ini lebih berisiko terjadi pada anak yang terinfeksi campak pada usia sangat muda.
Baca juga: Kasus Campak Naik Saat Imunisasi Menurun, Ini Dampaknya Menurut Dokter
Campak melemahkan sistem kekebalan tubuh
Ilustrasi campak. Campak ternyata tidak hanya menyebabkan ruam, tetapi juga bisa memicu kerusakan otak dan gangguan imun bertahun-tahun setelah sembuh.
Selain gangguan saraf, campak juga dapat memengaruhi sistem kekebalan tubuh dalam jangka panjang.
Guru Besar FKUI, Prof. Erni Juwita Nelwan, menjelaskan bahwa virus campak dapat mengganggu sistem imun tubuh.
Akibatnya, tubuh seperti kehilangan perlindungan terhadap infeksi yang sebelumnya sudah dikenali.
“Kita melihat sistem imun seolah lupa terhadap penyakit-penyakit lain dan hanya fokus pada virus campak,” jelas Prof. Erni.
Kondisi ini membuat seseorang lebih rentan terkena infeksi lain setelah sembuh dari campak. Risiko tersebut dapat berlangsung dalam periode tertentu setelah infeksi.
Baca juga: Indonesia Nomor 2 Dunia Kasus Campak, Ini Bahayanya Menurut Dokter
Komplikasi kronis pada organ tubuh
Campak juga dapat menimbulkan komplikasi pada berbagai organ tubuh yang berdampak jangka panjang.
Infeksi ini dapat menyebabkan gangguan pada mata hingga berujung kebutaan, terutama pada kondisi kekurangan vitamin A.
Selain itu, komplikasi pada paru seperti pneumonia juga dapat meninggalkan dampak kesehatan yang berkepanjangan.
Pada beberapa kasus, infeksi campak meningkatkan risiko infeksi sekunder akibat sistem imun yang melemah. Kondisi ini membuat pasien lebih mudah terserang penyakit lain.
Risiko pada ibu hamil dan bayi
Dampak campak juga dapat dirasakan pada ibu hamil.
Infeksi pada kehamilan meningkatkan risiko kelahiran prematur dan berat badan lahir rendah. Meski virus tidak menular langsung ke janin, kondisi kesehatan ibu dapat memengaruhi perkembangan bayi.
Hal ini membuat kelompok ibu hamil menjadi salah satu yang perlu mendapat perhatian khusus.
Baca juga: Tenaga Medis Rentan Terpapar Campak, Kemenkes Perketat Perlindungan
Pencegahan jadi kunci utama
Para pakar menegaskan bahwa komplikasi jangka panjang campak sebenarnya dapat dicegah. Imunisasi menjadi langkah paling efektif untuk melindungi tubuh dari infeksi dan dampaknya.
Vaksin campak mampu mencegah sebagian besar kasus berat dan komplikasi serius.
“Imunisasi telah mencegah jutaan kematian akibat campak selama puluhan tahun,” kata Prof. Hinky.
Selain itu, deteksi dini dan penanganan yang tepat juga penting untuk mengurangi risiko komplikasi.
Kesadaran masyarakat terhadap bahaya campak perlu ditingkatkan agar penyakit ini tidak lagi dianggap ringan.
Tag: #hanya #ruam #campak #bisa #sebabkan #gangguan #saraf #jangka #panjang