5 Mitos Penyakit Diabetes Tipe 2 yang Masih Banyak Dipercaya
- Lonjakan kasus diabetes melitus di Indonesia saat ini banyak diwarnai oleh maraknya disinformasi yang beredar di media sosial maupun obrolan sehari-hari.
Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, prevalensi penyakit ini mencapai 11,7 persen, atau setara dengan beban sekitar 30 juta penduduk.
Sayangnya, tingginya angka tersebut dibarengi dengan pemahaman keliru terkait pantangan makanan, pilihan pengobatan, hingga rentang usia penderita yang berisiko.
Baca juga: Diabetes Pasti Berujung Penyakit Jantung, Benarkah? Simak Penjelasan Dokter
Hal ini tentu dapat menghambat proses penanganan medis yang seharusnya bisa dilakukan sedini mungkin agar terhindar dari komplikasi fatal.
Mitos Diabetes
Simak ragam mitos dan faktanya, berdasarkan pemaparan dari Ketua Umum Perkumpulan Endokrinologi Indonesia (PB PERKENI), Prof. Dr. dr. Em Yunir, SpPD, K-EMD, FINASIM, dalam sesi media discussion bersama PT Kalbe Farma Tbk, Jumat (17/4/2026).
1. Mitos konsumsi gula
Banyak orang beranggapan bahwa setelah terdiagnosis penyakit gula, mereka sama sekali tidak diizinkan menikmati rasa manis seumur hidup.
Faktanya, penderita masih boleh mengonsumsi gula, asalkan menggunakan takaran yang wajar dan memilih jenis pemanis yang tepat.
"Kan sekarang sudah ada gula yang rendah kalori atau bagaimana ya. Jadi, boleh menggunakan gula yang less calorie," kata Prof. Yunir di Jakarta.
Batas maksimal yang disarankan hanya sekitar satu sendok teh sebagai penyedap, sedangkan minuman kekinian dengan gula penuh harus dihindari.
2. Mitos berat badan berlebih
Selain itu, terdapat anggapan bahwa masalah kesehatan ini hanya mengintai mereka yang memiliki tubuh gemuk.
Kondisi berat badan berlebih memang memicu penumpukan komponen lemak yang mensuport inflamasi dan resistensi insulin.
Namun, orang dengan berat badan normal juga tetap harus menjaga keseimbangan asupan kalori agar tidak terjadi penumpukan energi berlebih di dalam tubuh.
Baca juga: Golongan Darah B Lebih Rentan Diabetes, Ini Penjelasannya
3. Mitos usia dan riwayat keturunan
"Dulu waktu saya sekolah tahun 80-an, sebagian besar pasien yang berobat di poliklinik usianya 60 tahun. Sekarang ini umur 20 tahun sudah ada yang diabetes ya," tutur Prof. Yunir.
Ketua Umum Perkumpulan Endokrinologi Indonesia (PB PERKENI), Prof. Dr. dr. Em Yunir, SpPD, K-EMD, FINASIM, dalam sesi media discussion bersama PT Kalbe Farma Tbk, Jumat (17/4/2026).
Mitos yang menganggap kelainan metabolik ini sebagai "penyakit orang tua" kini sudah terpatahkan secara klinis.
Perubahan lingkungan dan budaya nongkrong di kota besar membuat demografi penderita bergeser secara masif ke usia remaja dan produktif.
Faktor keturunan juga bukan berarti vonis mati, melainkan penanda bahwa seseorang harus menjaga kesehatannya lebih ekstra.
Baca juga: Sering Ngopi Tinggi Gula? Kenali Risiko Sugar Rush yang Bisa Berujung Diabetes
Pasalnya, penumpukan gen bawaan dari kedua sisi orangtua akan mempercepat kemunculan penyakit ini jika gaya hidup tidak dijaga.
"Jadi, bapak sama ibunya punya gen diabetes. Artinya, semakin banyak lagi yang sampai ke anaknya. Nah, anaknya nanti kena lagi diabetes jadi lebih cepat," terang Prof. Yunir.
4. Mitos tidak bakal membaik
Banyak pasien merasa putus asa karena meyakini kondisinya tidak akan pernah bisa membaik sama sekali. Sikap pesimistis ini kerap memicu penolakan terhadap intervensi medis tingkat lanjut.
"Walaupun sekarang sudah ada penelitiannya diabetes bisa sembuh, percaya enggak? Ada nama, istilahnya sekarang diabetes remisi," kata Prof. Yunir.
Kunci dari fase remisi ini adalah disiplin ketat dalam mengurangi lemak visceral untuk menurunkan resistensi insulin.
Di samping itu, inisiasi awal terapi menggunakan jarum suntik (insulin) justru terbukti secara klinis mempercepat perbaikan sel tubuh ketimbang obat minum.
"Kalau di survei, pakai insulin dalam waktu singkat gula itu bisa kembali normal," ucap Prof. Yunir.
5. Mitos pengobatan yang picu gagal ginjal
Ketakutan mengonsumsi obat secara rutin karena dituding merusak organ dalam, terutama ginjal, merupakan misinformasi fatal yang merugikan pasien.
Kerusakan ginjal justru terjadi akibat kadar gula darah tinggi yang dibiarkan terus-menerus tanpa pantauan medis.
"Kalau pengendalian gula darahnya tidak maksimal, otomatis kerusakan yang terjadi pembuluh darah ginjal menjadi lebih cepat terjadi," tegas Prof. Yunir.
Dampak dari pasien yang menelantarkan pengobatan ini terlihat jelas dari data pembiayaan kesehatan negara. Komplikasi gagal ginjal kronis kini mendominasi klaim pelayanan kesehatan tingkat lanjutan.
"Kita lihat jumlah penderita gagal ginjal itu meningkat hampir 40 persen. Biaya gagal ginjal dari 2019 ke 2025 itu meningkat 478 persen," pungkas Direktur P2PTM Kemenkes RI, dr. Siti Nadia Tarmizi, M.Epid, yang turut hadir dalam sesi tersebut.
Baca juga: Tak Hanya Diabetes, Ini 7 Dampak Gula Berlebih bagi Kesehatan
Tag: #mitos #penyakit #diabetes #tipe #yang #masih #banyak #dipercaya