4 Kebiasaan Sehat yang Diam-diam Merusak Ginjal
- Cukup minum air putih, membatasi garam, atau menghindari konsumsi obat tanpa indikasi medis memang menjadi cara untuk menjaga organ ginjal.
Meski begitu, ada beberapa kebiasaan lain yang dianggap dapat membantu menyehatkan ginjal, tetapi malah merusaknya. Apa saja?
1. Konsumsi protein berlebihan
Konsumsi protein yang cukup sangat penting untuk fungsi tubuh, tetapi jika berlebihan justru dapat merusak fungsi penyaringan darah yang dimiliki ginjal.
Hal ini kerap kali terjadi pada orang yang rutin minum protein shake untuk membangun otot.
"Mengonsumsi protein dua atau tiga kali lipat dari yang direkomendasikan tidak akan membangun lebih banyak otot, itu hanya membuat ginjal bekerja lembur," ungkap ahli urologi dr. David Shusterman, MD, melansir Best Life, Senin (27/4/2026).
Baca juga: Terlalu Banyak Protein Bisa Ganggu Pencernaan, Ini Peringatan Ahli
Sebuah studi pada tahun 2020 dalam Journal of the American Society of Nephrology (JASN) membuktikan, pola makan tinggi protein memicu peningkatan insiden penyakit kronis baru.
Kondisi ini terjadi lantaran organ ini bertanggung jawab penuh menyaring protein dari darah, sehingga beban tambahan terus-menerus akan memicu masalah serius.
Ahli nefrologi sekaligus Chief Medical Officer di Evergreen Nephrology, dr. Tim Pflederer, MD menambahkan, protein yang didapat dari daging hewani sangat berbahaya bagi individu berpenyakit kronis.
Ia merekomendasikan untuk segera beralih ke protein nabati seperti kacang-kacangan, kedelai, dan lentil. Kebutuhan protein yang dianjurkan sekitar 0,8 - 1 gram protein per kilogram berat badan.
Baca juga: Banyak yang Salah Paham, Ini Arti Sebenarnya Makanan Tinggi Protein Menurut Ahli
ilustrasi vitamin. Vitamin Palsu Banyak Dijual di E-commerce, Ini Langkah BPOM dan Bahayanya
2. Mengonsumsi suplemen tertentu
Dokter mengingatkan bahwa suplemen tertentu dalam dosis sangat tinggi justru tidak menyehatkan. Oleh karena itu pada orang dengan penyakit tertentu dianjurkan untuk berkonsultasi ke dokter sebelum mengonsumsi suplemen.
Kunyit, vitamin C, dan kalsium, terbukti memicu pembentukan batu ginjal, sedangkan vitamin D memicu masalah pada penderita penyakit kronis.
"Suplemen vitamin D dapat berinteraksi dengan pengikat fosfat yang mengandung aluminium yang sering digunakan pada pasien penyakit ginjal kronis untuk mengurangi kadar fosfat dalam darah," terang konsultan klinis farmasi, HaVy Ngo-Hamilton, PharmD.
"Oleh karena itu, vitamin D dapat menghasilkan kadar aluminium yang berbahaya pada penderita penyakit ginjal kronis," sambung dia.
Suplemen herbal yang tanpa disadari mengandung kalium juga sangat berbahaya bagi tubuh.
Baca juga: BPOM: Jangan Tertipu Klaim FDA Approved Produk Suplemen Online
3. Meminum teh detoksifikasi
Berbagai teh detoksifikasi menjanjikan pembuangan racun dan penurunan berat badan secara instan meski sangat minim bukti ilmiah.
Produk ini memiliki kandungan diuretik yang meningkatkan produksi urine secara drastis, yang berujung pada dehidrasi dan ketidakseimbangan elektrolit penekan kerja organ.
Dokter Shusterman mengatakan, teh ini biasanya menggunakan ramuan yang tidak terukur, seperti akar manis, hiperikum, dan daun jati cina.
"Detoksifikasi terbaik adalah yang sudah dimiliki tubuh, yaitu ginjal. Dukung organ ini dengan makanan utuh, serat, dan hidrasi. Jangan percaya tren sesaat," imbau dr. Shusterman.
Baca juga: 5 Efek Samping Teh Detoks: Apa yang Harus Diwaspadai Sebelum Mengonsumsinya?
4. Terlalu banyak minum air
Kondisi hidrasi berlebih sangat mungkin terjadi saat kamu menenggak air berjumlah banyak dalam waktu singkat. Ternyata, kondisi ini berbahaya untuk kesehatan ginjal.
Ginjal bertanggung jawab untuk menyeimbangkan jumlah air dan elektrolit, seperti natrium, di tubuh. Namun, organ ini hanya dapat memproses sekitar 0,8 hingga 1,0 liter air per jam.
Jika kamu minum air lebih cepat daripada ginjal dapat menyaringnya, elektrolit di aliran darah dapat menjadi encer.
Hal tersebut bisa menjadi masalah karena natrium membantu mengatur keseimbangan cairan di dalam dan di luar sel-sel. Jika terlalu sedikit, itu dapat menyebabkan pembengkakan.
Kondisi ini bisa memengaruhi berbagai bagian tubuh, termasuk otak, yang dapat menyebabkan beberapa gejala serius dan, dalam kasus yang sangat jarang terjadi, kondisi yang mengancam jiwa.
Baca juga: Gagal Ginjal Kini Ancam Anak Muda, Menkes Soroti Kebiasaan Minum Manis